Beberapa hari kemudian, hubungan Aksal dan Dara semakin matang dan terbuka. Aksal, yang dulunya menjaga jarak demi efisiensi, kini tidak lagi peduli dengan anggapan publik. Ia sadar, inefisiensi Dara adalah prioritas yang harus ia tunjukkan.
Saat jam makan siang, Aksal dan Dara duduk berdua di kantin, tempat yang biasanya menjadi saksi bisu ketegangan mereka. Hari ini, mereka duduk berdampingan dengan santai. Di meja mereka, ada Lia yang sedang menyantap siomay dengan ekspresi agak kesal yang dibuat-buat.
"Oke, kalian berdua sudah resmi menjadi pasangan paling membosankan di sekolah," keluh Lia. "Kalian bicara tentang load bearing struktur arsitektur yang dikombinasikan dengan man-to-man defense. Di mana dramanya?"
Dara tertawa, menyenggol bahu Aksal. "Drama kami sudah selesai, Li. Sekarang kami fokus pada keseimbangan."
Saat itu, Aksal mengambil sendok. Ia mengambil sedikit nasi dan meletakkannya di piring Dara. Gerakan itu sangat kecil dan cepat, tetapi sangat tidak terstruktur bagi Aksal.
"Lo harus makan yang efisien, Dara. Lo terlihat lelah," kata Aksal.
Dara tersenyum penuh makna. "Terima kasih, Kapten." Ia membalas dengan mengambil potongan udang dan menyuapkannya ke mulut Aksal. "Dan lo harus lebih fleksibel. Buka mulut lo."
Aksal, dengan sedikit rona merah di lehernya, menerima suapan itu tanpa protes—suatu pemandangan yang tak terbayangkan dua minggu lalu.
Lia menutup matanya. "Ya Tuhan. Tolonglah aku. Aksal Danendra disuapi pacarnya. Dunia sudah terbalik. Aku butuh drama, bukan diabetes karena kemanisan ini!"
Dara tertawa, sementara Aksal tersenyum lebar sembari mulutnya yang masih penuh mengunyah. Tak jauh dari mereka, beberapa anggota tim basket putra, termasuk Bima, menyaksikan pemandangan itu.
"Gila, itu Kapten kita?" bisik Bima pada temannya. "Dia bisa senyum begitu?"
"Ajaib. Dara itu arsitek, tapi dia berhasil merenovasi kapten jadi manusia," balas teman Bima, Rian.
"Emang lo pikir kemarin gue apa? Alien, hah?"
"ukan gue yang ngomong, ya." Balas Rian sedikit mengejek.
Tawa bergema di atas meja kantin. Dara memandangi wajah Aksal yang kini terlihat lebih ringan dan jujur, tidak lagi seorang yang kaku dan dingin. Gadis itu menyimpul tipis.
Sore harinya, setelah latihan, Dara harus buru-buru ke ruang OSIS. Aksal sudah menunggu di dekat lorong. Dara terlihat panik, tas punggungnya terbuka sedikit dan beberapa buku nyaris jatuh.
"Gue harus mengirim proposal arsitektur ke Pak Danu. Timing-nya krusial," ujar Dara, berusaha mengatur semua barangnya. Aksal maju. Ia mengambil tas punggung Dara, menutupnya, lalu menarik tangan Dara.
"Kita lari, Dara. Itu efisien," kata Aksal.
"Tapi lo udah capek latihan!"
"Ini endurance gue yang baru," balas Aksal.
Mereka berlari kecil di lorong yang kini sepi. Aksal yang memegang tas, Aksal yang berlari kencang demi memenuhi deadline Dara. Saat mereka tiba di depan ruang OSIS, napas Dara terengah-engah. Aksal tidak membuang waktu. Ia memegang kedua pipi Dara, membuat Dara menatapnya.
"Lo bilang gue adalah tempat pulang lo. Lo adalah anchor gue," kata Aksal, suaranya tulus. "Jangan stres. Biarkan gue mengurus tas lo, dan lo urus proposal lo. Itu adalah pembagian tugas yang paling efisien dalam sebuah tim."
Aksal mencium kening Dara—sebuah ciuman yang singkat, publik (jika ada yang melihat), dan penuh janji. Ia tidak lagi peduli jika tindakannya ini mengganggu timeline siapapun.
Tepat saat Aksal dan Dara saling tersenyum, Rayyan keluar dari ruang OSIS. Ia melihat ciuman di kening itu, melihat Aksal memegang tas Dara. Rayyan berhenti. Ia hanya mengangguk kecil, mengakui kekalahannya secara diam-diam. Ia melihat kebahagiaan dan kejujuran di mata mereka. Ia tahu, Aksal telah mendapatkan key access yang tidak pernah ia miliki.
"Selamat, Kapten," kata Rayyan pelan, ditujukan kepada Aksal. "Struktur kalian... kuat."
Aksal hanya mengangguk, tidak lagi merasa terancam. Ia tahu Dara telah memilihnya.
Setelah Rayyan pergi, Dara tersenyum ke Aksal. "Gue mencintai Kapten yang fleksibel."
"Gue akan kembali jadi kaku kalau perlu," balas Aksal, memegang tangan Dara. "Tapi cuma untuk mempertahankan lo."
***
Sore itu, GOR SMA Cendrawasih dipenuhi energi yang berlipat ganda. Tim basket putra dan tim putri berlatih bersama, menciptakan suasana yang riuh. Aksal Danendra sebagai kapten putra dan Aldara Adelia sebagai point guard putri, memimpin sesi drill dengan fokus penuh. Namun, di benak Aksal, ada hitungan mundur yang lebih penting dari timer latihan: penantian dua minggu untuk mediasi final orang tuanya, dan janji kencan yang harus ia tebus.
Setelah sesi latihan gabungan berakhir, suara-suara perlahan menghilang. Satu per satu anggota tim, baik putra maupun putri, meninggalkan GOR. Begitu suara pintu baja tertutup untuk terakhir kalinya, keheningan segera menyelimuti lapangan. Hanya Aksal dan Dara yang tersisa, bersama dengan bayangan panjang di lantai kayu.
Aksal berjalan ke tepi lapangan, mengambil handuk, dan menghela napas panjang. Dara mendekatinya. "Latihan hari ini sangat efisien, Kapten. Lo benar-benar fokus, meski tim putri sedikit mengganggu flow lo."
"Gue harus beradaptasi dengan chaos," jawab Aksal, menoleh ke arah Dara dengan senyum lega dan tulus. "Lagipula, ada distraksi yang cukup efisien untuk membuat gue tetap termotivasi."
Aksal menyeka keringatnya, lalu menatap Dara dengan pandangan yang tidak terstruktur. "Besok sekolah libur dan latihan ditiadakan. Mau ikut gue?"
Dara mengangkat alisnya. "Kemana? Ke perpustakaan untuk membaca buku panduan arsitektur?"
Aksal tertawa kecil, suara yang kini lebih sering ia tunjukkan. "Bukan. Gue mau ajak lo jalan-jalan di sekitar kota, tanpa tujuan yang pasti. Cuma jalan. Inefisiensi total. Lo mau?"
Dara tersenyum lebar. "Tentu saja gue mau, Kapten," jawab Dara. "Gue butuh break dari timeline dan deadline."
Aksal meraih tangan Dara dan menuntunnya untuk duduk di bangku cadangan, tempat yang menjadi saksi bisu setiap babak hubungan mereka.
"Dua minggu ini terasa sangat lama," bisik Aksal, menyandarkan kepalanya ke bahu Dara. "Gue tahu lo nunggu mediasi itu selesai agar kita bisa benar-benar normal. Gue nggak mau chaos gue membebani lo."
Dara memeluk lengan Aksal erat-erat. "Lo nggak membebani gue, Aksal. Lo adalah fondasi yang rapuh, tapi lo adalah fondasi. Gue di sini untuk membantu lo menopangnya."
"Gue sayang lo, Ra," ujar Aksal. Kata-kata itu diucapkan dengan mudah, tanpa perlu alasan yang terstruktur. "Gue nggak tahu bagaimana gue menjalani semua ini kalau nggak ada lo."
"Gue juga sayang lo," balas Dara. "Sekarang, berhentilah bicara tentang chaos. Bicara tentang kita."
Aksal menoleh, memandang mata Dara di bawah cahaya temaram GOR. Aksal tidak lagi mencoba menganalisis timing atau efisiensi. Ia hanya melihat keinginan yang murni dan tulus di mata Dara. Ia memajukan wajahnya perlahan. Gerakan ini lambat, canggung, namun penuh gairah yang terpendam. Dara memejamkan mata, membiarkan keheningan mengambil alih.