INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #11

Realita Di Balik Layar

Siang itu, di tengah masa penantian mediasi final yang menegangkan, Aksal membuat keputusan impulsif. Saat membonceng Dara pulang sekolah, alih-alih berbelok ke arah perumahan Dara yang asri, ia membelokkan motornya ke jalan protokol yang lebar.

"Kita mampir ke rumah aku sebentar," kata Aksal, suaranya berusaha terdengar santai, meski ada nada urgensi.

"Hah?" Dara mendengar yang dikatakan Aksal barusan, namun ia sontak terkejut mendengar bahwa Aksal akan membawanya ke rumah lelaki itu.

"Aku harus ambil berkas akta kelahiran asli yang diminta pengacara buat mediasi besok lusa. Aku takut kalau nggak diambil sekarang, Ibu atau Bapak bakal menyandera dokumen itu buat debat lagi."

"Sekalian... aku mau kamu lihat rumahku."

Jantung Dara mencelos.

Selama ini, Dara hanya mendengar cerita tentang rumah Aksal. Dalam bayangannya, rumah itu adalah medan perang dingin tempat Aksal ditempa menjadi robot. Namun, di sudut hati kecilnya—sudut hati perempuan yang romantis—Dara menyimpan harapan klise. Ia ingin diperkenalkan sebagai pacar. Ia ingin disambut dengan senyum, "Oh, ini Dara yang sering Aksal ceritakan?", lalu duduk minum teh hangat. Seperti di rumahnya sendiri.

"Oke," jawab Dara, berusaha terdengar antusias, meski tangannya mencengkeram jaket Aksal lebih erat. "Aku siap masuk ke markas besar."

Motor Aksal memasuki gerbang sebuah rumah besar bergaya minimalis modern. Bangunannya megah, didominasi warna abu-abu dan garis-garis tegas. Sebagai calon arsitek, Dara mengagumi strukturnya yang kokoh. Namun, sebagai manusia, ia merasakan hawa dingin yang menusuk bahkan sebelum ia turun dari motor. Halaman itu sepi. Tidak ada tanaman bunga yang tidak rapi, tidak ada sepeda yang tergeletak sembarangan. Semuanya presisi. Semuanya sunyi.

"Ayo," ajak Aksal. Ia menggenggam tangan Dara. Tangan Aksal berkeringat dingin. Dara sadar, Aksal pun gugup membawa dunia luarnya masuk ke dalam.

Mereka melangkah masuk ke ruang tamu yang luas. AC menyala dengan suhu rendah, membuat ruangan itu terasa seperti lobi hotel bintang lima, bukan rumah. Di meja ruang tamu, tumpukan map berwarna merah dan biru berserakan—tanda persiapan hukum yang intens.

Di sofa ruang tengah, duduk Pak Bara. Ia tidak sedang bersantai. Ia sedang berbicara dengan nada tinggi melalui telepon, kacamata bacanya melorot.

"...Saya tidak peduli, itu aset pra-nikah! Masukkan ke klausul revisi!" bentak Pak Bara ke telepon.

Aksal berhenti, tubuhnya menegang. Ia menunggu ayahnya menutup telepon. Saat Bapak Bara meletakkan ponselnya dengan kasar, ia baru menyadari kehadiran mereka. Tatapannya tajam, penuh sisa amarah dari percakapan tadi. Ia menatap Dara sekilas, lalu beralih ke Aksal dengan tatapan tidak suka.

"Ngapain kamu bawa teman main ke sini?" tanya Pak Bara ketus. "Kamu nggak lihat situasi rumah lagi genting? Ayah lagi pusing ngurus revisi buat sidang lusa!"

"Ini Dara, Yah. Pacar Aksal," kata Aksal, mencoba membela keberadaan Dara. "Aksal cuma mau ambil akta di kamar."

"Ambil dan jangan keluyuran. Ayah butuh ketenangan," potong Bapak Bara dingin, sama sekali mengabaikan uluran tangan Dara yang setengah terangkat untuk bersalaman. Pak Bara kembali sibuk dengan kertas-kertasnya, menganggap Dara tidak ada.

Dara menarik tangannya kembali perlahan, merasakan nyeri di ulu hati. Ia merasa sangat kecil. Aksal mengertakkan gigi, wajahnya memerah menahan malu dan marah. Ia menarik Dara menuju tangga. "Ayo naik."

Namun, sebelum mereka mencapai tangga, Bu Risa keluar dari arah ruang makan. Penampilannya rapi, wajahnya cantik namun terlihat lelah. Dara menarik napas, harapan terakhirnya muncul. Ibu biasanya lebih lembut, pikirnya.

"Bu," sapa Aksal. "Kenalkan, ini Dara."

Ibu Risa berhenti. Ia memandang Dara. Ada sedikit senyum di bibirnya, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya. Senyum itu adalah senyum formalitas, senyum seorang diplomat yang lelah berperang.

"Oh, ini Dara," kata Ibu Risa. Suaranya halus, tapi berjarak. "Cantik. Maaf ya, rumah lagi berantakan."

Padahal rumah itu sangat rapi, tidak ada debu sedikitpun. Yang berantakan adalah atmosfernya.

"Selamat sore, Tante," Sapa Dara, berusaha tersenyum semanis mungkin, menyembunyikan tangannya yang gemetar.

"Silakan kalau mau duduk. Tante mau pergi sebentar, lagi ada urusan." kata Ibu Risa, melirik jam tangannya, lalu melirik tajam ke arah Pak Bara yang masih diam di sofa. "Jangan ribut di sini ya, Aksal." Lalu Ibu Risa berjalan melewati mereka, mengambil tasnya, dan keluar rumah.

Penyambutan selesai.

Aksal membawa Dara masuk ke kamarnya dan segera mengunci pintu.

Aksal melempar tasnya ke lantai dengan frustrasi. Ia mengacak-acak rambutnya, lalu berbalik menatap Dara. Matanya penuh dengan rasa bersalah yang amat sangat.

"Maaf," suara Aksal pecah. "Maaf banget, Dara. Aku... aku bodoh. Aku nggak seharusnya bawa kamu ke tengah-tengah neraka ini pas mereka lagi stres berat mau mediasi."

Dara berdiri diam di dekat pintu. Hatinya sakit. Ia kecewa. Bayangan disambut hangat, ditanya kabar, atau sekadar diberi senyum lebar, musnah sudah. Ia merasa ditolak mentah-mentah. Ia ingin menangis karena merasa tidak berharga di mata orang tua Aksal. Tapi kemudian, ia melihat Aksal.

Pacarnya itu duduk di tepi kasur, menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar. Aksal malu. Aksal terluka karena orang tuanya memperlakukan orang yang ia sayang dengan buruk. Dara sadar, jika ia menangis atau mengeluh sekarang, itu hanya akan menambah daftar chaos di kepala Aksal. Itu akan memvalidasi ketakutan Aksal bahwa keluarganya adalah racun. Dara menarik napas panjang, menelan rasa sakit hatinya bulat-bulat, dan menyimpannya di laci terdalam hatinya. Ia berjalan mendekati Aksal, lalu berlutut di hadapannya. Ia meletakkan tangannya di lutut Aksal.

"Hei," panggil Dara lembut.

Aksal mengangkat wajahnya. "Mereka jahat sama kamu. Mereka nyuekin kamu. Kamu boleh marah, Ra.Kamu boleh pulang."

Dara menggeleng, memaksakan senyum yang paling meyakinkan. "Aku nggak marah, Aksal," bohong Dara demi menenangkan pacarnya. "Aku ngerti. Mediasi final itu lusa, kan? Mereka lagi di titik didih tertinggi. Wajar kalau mereka nggak bisa ramah. Mereka lagi nggak jadi diri mereka sendiri."

"Tapi kamu nggak pantas diperlakukan kayak 'orang luar'," desis Aksal.

"Aku memang orang luar untuk saat ini, karena aku nggak ada di dalam akta keluarga yang lagi mereka ributkan," kata Dara bijak, meski hatinya perih mengatakannya. "Tapi aku ada di sini buat kamu. Itu yang penting."

Dara berdiri dan memeluk kepala Aksal, membiarkan Aksal menyandarkan wajahnya di perut Dara.

"Fokus ambil aktanya, terus kita keluar dari sini," bisik Dara sambil mengelus rambut Aksal. "Kita cari makan bakso di depan komplek. Di sana aku bakal disambut hangat sama Abang Bakso."

Aksal tertawa kecil, tawa yang getir namun lega. "Makasih, Ra. Makasih karena kamu nggak lari," gumam Aksal.

Dara tersenyum getir di atas kepala Aksal. Ia tidak lari, tapi ia terluka. Namun untuk saat ini, memahami kondisi Aksal jauh lebih penting daripada egonya sendiri. Nggak apa-apa, batin Dara menguatkan diri. Gue nggak butuh validasi orang tuanya. Gue cuma butuh menjaga Aksal biar dia nggak membeku selamanya di sini. Hari itu, Dara belajar satu hal berat tentang mencintai seseorang: terkadang, itu berarti ikut menanggung dinginnya badai keluarga mereka, tanpa boleh mengeluh kedinginan.

Setelah Aksal sedikit tenang, ia bangkit dari kasur untuk mencari dokumen penting—akta kelahiran yang diperlukan pengacara di rak bukunya. Dara membiarkannya, memberi Aksal ruang untuk menjalankan checklist-nya yang mendesak, sambil mengalihkan perhatiannya pada kamar tersebut.

Kamar Aksal adalah refleksi sempurna dari jiwanya yang terstruktur. Semuanya ditata rapi, disusun berdasarkan kategori dan fungsi. Namun, di sudut meja belajar, ada sedikit chaos yang menunjukkan bahwa Aksal adalah remaja normal. Tumpukan kertas coretan strategi basket bercampur dengan remahan biskuit yang sudah kering.

Dara mendekati meja itu. Ia mulai membersihkan clutter non-esensial—terapi pribadinya. Ia mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan remahan-remahan biskuit, lalu menyusun buku-buku Aksal. Saat membereskan laci kecil di meja, Dara menemukan sebuah foto berbingkai kecil, tetapi buram karena usia dan tidak pernah dibersihkan. Foto itu tampak seperti foto keluarga, diambil beberapa tahun lalu. Dara mengambil foto itu dan menyekanya dengan ujung lengan cardigan-nya. Foto itu memperlihatkan Pak Bara dan Bu Risa yang tersenyum canggung di samping Aksal kecil. Namun, di antara orang tuanya, berdiri seorang gadis remaja dengan rambut panjang, memeluk Aksal.

"Aksal," panggil Dara lembut. "Ini foto siapa?"

Aksal menoleh dari rak bukunya. Wajahnya yang tegang langsung berubah menjadi kaku saat melihat foto itu.

"Oh, itu foto lama," jawabnya singkat.

Dara menunjuk gadis remaja itu. "Ini... kakak lo? Kamu punya kakak? Kamu nggak pernah bilang kamu bungsu dari dua bersaudara."

Aksal berjalan mendekat. Ia mengambil foto itu, memandangnya sejenak dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran nostalgia dan kekecewaan.

"Iya. Itu Nadia," jelas Aksal, suaranya menjadi lebih pelan dan datar. "Dia kakakku. Dia beberapa tahun yang lalu nikah dan pindah ke luar kota. Sejak itu nggak pernah pulang lagi."

"Dia nggak pernah pulang? Bahkan setelah chaos orang tua kamu lsebesar ini?" tanya Dara, terkejut.

Lihat selengkapnya