INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #12

Neraka Latihan dan Titik Parah

Neraka Latihan, istilah yang digunakan Bima, ternyata lebih parah dari yang dibayangkan. Minggu pertama persiapan KNP (Kejuaraan Nasional Pelajar) terasa seperti berada di mesin cuci yang berputar kencang. Jadwal Aksal dan Dara kini hampir identik: bangun pukul 4.30 pagi untuk latihan fisik mandiri, sekolah, lalu latihan tim hingga pukul 18.00, dilanjutkan sesi strategi bersama Pak Hadi. Aksal dan Dara harus belajar di atas pukul 21.00 malam.

Di tengah kekacauan jadwal ini, Aksal tetap menjadi Kapten yang tidak terganggu. Ia adalah sosok paling stabil di lapangan, berlari seolah mesinnya tidak mengenal lelah. Namun, di tim putri, dinamika baru mulai terasa. Alexa Griselda, si cantik senior yang kecewa, tidak berani melawan Dara secara terbuka, tetapi ia menggunakan metode ketidakpatuhan halus yang sangat mengganggu.

Saat Dara memberikan instruksi drills dengan pola baru yang disusun Aksal, Alexa sering kali terlambat merespons atau melakukannya dengan setengah hati, lantas bersembunyi di balik alasan teknis.

"Ra, passing yang lo mau terlalu mendasar. Itu membuang waktu dan menurunkan efisiensi pace tim,"kritik Alexa di depan teman-temannya, nadanya dingin dan sinis.

Dara menarik napas, berusaha tetap profesional. "Aksal mendesain ini untuk meningkatkan akurasi operan di bawah tekanan, Alexa. Kita harus menguasai dasarnya dulu. Tolong fokus."

Aksal, yang menyaksikan ini dari lapangan sebelah, hanya bisa menghela napas. Dia tahu konflik ini adalah 'inefisiensi sosial' yang harus Dara selesaikan sendiri.

Langit pagi masih diselimuti kabut tipis ketika GOR SMA Cendrawasih sudah mendidih. Ini adalah hari kelima Neraka Latihan KNP. Suasana sudah jauh dari kekeluargaan, berganti menjadi mesin latihan yang dingin.

Di tengah lapangan, Pak Hadi meniup peluit panjang, tangannya memegang stopwatch.

"Kita mulai sesi pagi ini dengan Defensive Slide Drill!" teriak Pak Hadi, suaranya memantul di dinding GOR. "Bukan hanya slide, tapi slide dengan shadow lawan. Anggap saja ini quarter keempat, dan skor cuma selisih satu angka! Kalian tidak punya waktu untuk lemas!"

Pak Hadi menunjuk Aksal. "Aksal, kamu Kapten, kamu yang memimpin pace!"

Aksal mengangguk. Ia memimpin barisan, bergerak mundur-samping (slide) sepanjang lapangan dengan kecepatan konstan, wajahnya datar dan fokus. Aksal menjalankan drill itu nyaris sempurna—gerakannya mekanis dan efisien.

Di belakangnya, rekan-rekannya kesulitan mengikuti pace gila yang Aksal ciptakan. Bima tersandung kakinya sendiri, lalu berbisik keras pada Rian yang berada di sampingnya. "Gila, ini bukan Kapten! Ini drone yang disetting 120% kecepatan!"

"Kapten nggak punya hati, Bim. Dia cuma punya algoritma kemenangan," balas Rian terengah-engah.

Toni, yang kakinya sudah terasa berat, mencoba menyalip Bima. "Sal! Sal! Pace lo terlalu cepat! Nanti lo kehabisan energi di tengah!"

Aksal tidak berhenti atau menoleh. "Toni, di KNP tidak ada waktu untuk negosiasi pace. Lo harus menyimpan energi, bukan mengeluh. Sekarang fokus!" perintah Aksal, tanpa mengurangi kecepatannya sedikit pun. Kata-kata Aksal yang dingin, meski bertujuan memotivasi, justru membuat rekan-rekan timnya semakin tertekan.

Di sisi lapangan tim putri, Dara sedang mencoba mengatur drill taktik yang baru ia pelajari dari Pak Hadi, fokus pada pick-and-roll yang kompleks.

"Oke teman-teman, kita coba sekali lagi," instruksi Dara, nadanya antusias. "Kali ini timing screen harus lebih cepat. Santi, setelah roll, pass jangan langsung ke center, tapi ke shooting guard dulu—"

"Ra, maaf. Tapi drill ini terlalu lambat untuk pace KNP," sela Alexa, Kapten lama yang kecewa, yang berdiri dengan angkuh sambil melipat tangan.

Dara menghela napas. "Alexa, ini bukan soal pace sekarang, tapi soal eksekusi yang akurat. Kita harus membuat insting operan kompleks ini jadi otomatis."

"Membuat insting otomatis membutuhkan pengulangan, bukan drill yang berbelit-belit," balas Alexa, suaranya tenang, tetapi menusuk. Ia seolah menggunakan teori Aksal untuk melawan Dara. "Aku rasa kita harusnya fokus ke shooting practice yang lebih menghasilkan poin. Atau lari. Lari itu efisien untuk stamina."

Beberapa anggota tim putri lain tampak ragu, bingung harus memihak kapten baru atau senior populer.

Dara menatap Alexa. "Di lapangan, Alexa, lo diwajibkan mengikuti cetak biru strategi Kapten, bukan membuat cetak biru sendiri. Sekarang, lo ikut drill ini atau gue minta Pak Hadi memberikan lo drill suicide run sendirian. Pilihan yang mana yang lebih efisien untuk waktu lo?"

Alexa terkejut oleh ketegasan Dara. Meskipun wajahnya masam, ia terpaksa mundur dan bergabung dengan drill itu. Konflik internal di tim putri sudah terbuka.

 

***

 

Tepat di hari Jumat, di penghujung latihan paling brutal minggu itu, Aksal menerima notifikasi email yang sudah lama ia takutkan. Itu adalah pesan dari pengacara keluarganya. Aksal duduk di bench, tubuhnya lepek oleh keringat. Ia membuka email itu.

 

Subjek: UNDANGAN MEDIASI H-2

Aksal,

Mediasi tahap final dengan pihak ibumu dan ayahnya (mediator) akan dilakukan hari Minggu pukul 10.00 pagi di kantor kami. Kehadiranmu sangat krusial, terutama karena terkait dengan pembagian aset dan jaminan bagian kakakmu. Keputusan final akan diambil di sana.

Mohon konfirmasi segera.

 

Jantung Aksal mencelos. Hari Minggu. Pukul 10.00 pagi.

Ia segera melihat jadwal latihan yang dipegangnya. Pak Hadi telah menjadwalkan Sesi Strategi Kunci KNP pada hari Minggu, pukul 09.00 hingga 12.00. Sesi itu wajib, tanpa toleransi, karena mereka akan membahas strategi pertahanan tim lawan yang sudah dianalisis oleh Pak Hadi selama sebulan penuh. Aksal tidak mungkin menghadiri keduanya. Ia berdiri, berjalan menjauh dari keributan tim, lalu menelepon pengacaranya.

"Pagi, Bu. Mediasi hari Minggu, saya tidak bisa," ujar Aksal.

"Maaf, Aksal, jadwal ini sudah fiks. Ini kesempatan terakhir untuk negosiasi yang menguntungkan kakakmu. Kalau kamu tidak datang, kamu harus memberikan kuasa penuh. Tapi ini terlalu penting untuk didelegasikan," jawab pengacara itu, nadanya khawatir.

Aksal mengakhiri panggilan itu, tangannya mengepal erat. Ini adalah perbenturan sempurna antara dua dunia yang sama-sama menuntut komitmen totalnya: Struktur Keluarga (hukum dan masa depan kakaknya) dan Struktur Tim (KNP dan tanggung jawab Kapten). Ia melihat ke seberang lapangan. Dara sedang tertawa, memberi high-five pada salah satu anggota tim putri. Dara adalah satu-satunya sumber logisnya sekarang.

Aksal berjalan cepat menghampiri Dara. "Ra, kita perlu bicara serius," kata Aksal, suaranya sangat rendah.

Dara menyadari ada yang salah. Ekspresi Aksal tidak hanya lelah, tetapi tertekan. "Kenapa, Sal? Jadwalmu terlalu padat?" tanya Dara.

Aksal mengangguk, lalu menunjukkan ponselnya. "Mediasi keluarga gue, hari Minggu jam 10.00. Sesi strategi tim jam 09.00. Gue harus memilih, Ra. Dan gue nggak bisa membuat keputusan ini dengan efisien. Kedua-duanya sama-sama wajib."

Dara membaca email itu, kemudian menatap Aksal. Ia tahu ini lebih dari sekadar memilih jadwal. Ini adalah memilih tanggung jawab emosional yang telah Aksal coba hindari dengan logikanya.

"Kalau lo nggak datang ke mediasi, apa yang akan terjadi?" tanya Dara.

"Kakak gue rugi besar, Ra. Gue nggak bisa membiarkan itu terjadi. Tapi kalau gue absen di sesi strategi KNP pertama..." Aksal membuang pandangan. "Gue akan melanggar prinsip gue sebagai Kapten dan Pak Hadi akan mencoret gue. Gue harus memilih salah satu Titik Patah ini."

Lihat selengkapnya