Tiga hari menuju KNP. Suasana di GOR SMA Cendrawasih tidak lagi tentang latihan fisik semata, melainkan tentang penajaman insting dan penyempurnaan taktik. Udara terasa tipis, dipenuhi campuran bau keringat, karet sepatu, dan ketegangan mental. Ini adalah tahap di mana chemistry tim harus mencapai efisiensi tertinggi.
Di paruh lapangan putra, sistem Kapten Aksal bekerja. Neraka Latihan telah membentuk mereka menjadi unit yang kejam.
"Toni! Fast break! Bima, trailing di kanan! Rian, cover di tengah!" teriak Aksal.
Aksal, yang memegang bola di luar garis tiga angka, tidak perlu melihat. Ia tahu persis di mana Toni akan bergerak. Aksal melambungkan bola tinggi-tinggi (alley-oop), dan Toni menangkapnya di udara untuk slam dunk yang keras. Pergerakan itu mulus, cepat, dan terhitung sempurna.
"Bagus! Itu KNP level!" seru Pak Hadi dari pinggir lapangan, suaranya dipenuhi kepuasan.
Bima dan Rian, meskipun masih sering mengeluh, kini bergerak berdasarkan insting, tahu persis di mana mereka berada dalam algoritma Aksal. Mereka telah melewati titik lelah, dan kini bergerak berdasarkan rasa percaya total pada cetak biru Aksal. Tim putra siap. Strukturnya kokoh.
Namun, di paruh lapangan putri, suasana terasa berat. Dara telah bekerja keras menyusun strategi, namun mesin timnya enggan berjalan mulus.
"Kita ulangi set kedua, fokus man-to-man defense! Jangan beri ruang tembak bebas!" instruksi Dara, suaranya mulai terdengar frustrasi.
Mereka memulai drill. Gerakan Dara sangat baik, ia memimpin dengan contoh, namun setiap kali Dara mencoba menggerakkan tim sesuai dengan pola yang diajarkan, ada saja fricition yang muncul.
Alexa menjalankan setiap drill dengan kemampuan teknis yang sempurna, man-to-man marking-nya tidak pernah meleset. Namun, ia melakukannya dengan sikap yang salah. Ekspresi wajahnya yang datar, gerakannya yang sedikit terlambat dalam memberikan support komunikasi, dan pandangannya yang selalu sinis ke arah Dara, menciptakan ketegangan yang menular ke pemain lain.
Santi salah passing, dan bukannya Dara yang menegur, Alexa langsung menyambar. "Santi, otak kamu di mana? Itu passing untuk anak SD! Kalau kamu nggak fokus, mending kamu keluar saja!"
Dara memejamkan mata. Ia tahu Alexa sengaja menciptakan lingkungan yang toksik, menantang otoritasnya di setiap kesempatan, tidak secara teknis, tetapi secara chemistry dan moral.
Pak Hadi memperhatikan dengan serius. Ia tahu tim putri memiliki skill individu yang tinggi, tetapi tidak memiliki jiwa tim. "Dara!" panggil Pak Hadi, tegas. "Tim kamu pincang! Tiga hari lagi! Kalau chemistry kalian tidak bersatu, semua strategi hanyalah sampah!"
Dara menunduk, menahan amarah dan kekecewaan. Ia tahu sumber masalahnya adalah Alexa, tetapi menyeret Alexa ke hadapan Pak Hadi saat ini sama saja mengakui kegagalannya sebagai kapten.
Saat istirahat minum, Dara berjalan menghampiri Aksal. Mereka tidak bertukar kata mesra; hanya kelelahan yang sama.
Aksal menatap pipi Dara yang sedikit kusam karena kelelahan, lalu mengusapnya pelan. "Alexa?"
Dara mengangguk. "Dia nggak melakukan kesalahan teknis, Sal. Tapi dia membuat semua orang takut dan membuat tim tidak mau bekerja sama. Aku sudah coba semua cara logis untuk mengatasinya."
Aksal menatap Dara dengan tatapan Kapten yang menganalisis. "Dia menyerang chemistry tim lo karena dia tahu itu adalah celah lo. Jangan biarkan dia menang."
Alexa berdiri tidak jauh dari mereka, berpura-pura mengikat tali sepatunya. Matanya yang tajam mengamati interaksi singkat itu. Ia melihat sentuhan lembut Aksal pada Dara. Ia melihat tatapan Aksal yang dipenuhi kelembutan yang hanya diperuntukkan bagi Dara. Tiba-tiba, sebuah input baru yang sangat efisien muncul di otak Alexa.
Dara kuat di strategi. Dara kuat di hadapan Pak Hadi. Tapi Dara hanya punya satu ketidakstabilan yang nyata: Aksal.
Alexa menyadari: Jika dia menyerang Dara sebagai Kapten, dia akan kalah. Jika dia menyerang Dara sebagai pacar Aksal, dia bisa memicu chaos emosional yang jauh lebih besar dan inefisien daripada masalah man-to-man defense. Dara yang cemburu adalah Dara yang tidak fokus. Dara yang tidak fokus adalah kapten yang lemah.
Senyum licik, dingin, dan penuh perhitungan muncul di wajah Alexa. Taktiknya berubah. Ia tidak akan lagi menggunakan bola basket. Ia akan menggunakan hubungan Aksal dan Dara. Saat Aksal dan Dara berjalan kembali ke lapangan, Alexa segera mengambil botol minumnya. Ia berjalan lurus ke arah Aksal, dengan gaya berjalan yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya.
Tepat saat Aksal hendak melewatinya, Alexa sengaja menjatuhkan botol minumnya. Air dingin tumpah mengenai sepatu Aksal.
"Ya ampun, Kapten Aksal! Maafkan aku! Aku ceroboh sekali," ujar Alexa dengan nada manja yang dibuat-buat, sesuatu yang belum pernah ia tunjukkan di GOR. Ia membungkuk dengan berlebihan, membuat Aksal harus mundur selangkah.
"Tidak apa-apa, Alexa," jawab Aksal, nadanya kaku dan formal, karena ia membenci inefisiensi yang tidak perlu ini. "Lain kali hati-hati."
Dara melihat adegan itu. Ia melihat cara Alexa membungkuk, cara ia berbicara dengan nada yang terlalu lembut, dan cara Alexa memandang Aksal. Itu adalah input yang paling jelas: Alexa telah menggeser mode perangnya dari lapangan ke ranah pribadi.
Saat Alexa berdiri tegak, ia tidak meminta maaf lagi. Ia justru menatap Dara sekilas dengan senyum kemenangan tipis, sebelum melangkah pergi. Sebuah pesan telah terkirim dengan sangat jelas: Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.
***
Kelelahan fisik setelah sesi latihan H-3 terasa menusuk. Setiap otot Dara berteriak, namun kelelahan mentalnya jauh lebih parah. Ia kini berada di dalam GOR yang sepi, memasukkan bola-bola basket ke dalam keranjang. Pikirannya dipenuhi bayangan Alexa, yang baru beberapa jam lalu menunjukkan taktik perang baru di hadapan Aksal. Dara tahu, rasa cemburu adalah input yang paling tidak logis dan paling inefisien yang bisa ia miliki, dan Aksal membenci ketidakrasionalan. Namun, setiap kali ia mengingat pandangan genit Alexa dan nada suaranya yang manja saat menjatuhkan botol minum, amarah itu kembali membakar dadanya. Ia tidak takut pada skill Alexa, tetapi ia takut pada daya pikat Alexa yang bisa mengganggu stabilitas kaptennya.
Setelah keranjang terakhir penuh, Dara mendorongnya ke sudut. Ia mengambil napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali semua kontrol dirinya sebelum bertemu Aksal. Jangan biarkan Alexa menang. Jangan tunjukkan kelemahan, ia meyakinkan diri.
Dara berjalan keluar dari GOR yang remang-remang, menuju pintu utama. Aksal sudah menunggunya di luar, di area koridor yang sedikit sepi, setelah selesai menyimpan map strategi di ruangan Pak Hadi. Tepat saat Dara melangkah melewati ambang pintu GOR, adegan itu terjadi.