Matahari pagi merayap masuk melalui celah tirai rumah sakit, menciptakan garis-garis cahaya pucat di lantai vinil yang berbau antiseptik. Di luar, dunia sedang sibuk bersiap menyambut hari, tetapi di dalam kamar rawat inap nomor 305, waktu seolah berhenti. Aksal duduk di kursi besi di samping ranjang, masih mengenakan pakaian kasual, bukan seragam keberangkatan tim. Matanya menatap lekat pada wajah kekasihnya yang masih terlelap. Ada lingkaran hitam di bawah mata Aksal, tanda bahwa ia tidak tidur semalaman setelah mengurus administrasi pengunduran dirinya yang mendadak.
Orang tua Dara baru saja keluar sebentar untuk mencari sarapan dan mengurus administrasi asuransi, meninggalkan Aksal sendirian menjaga gadis yang paling ia cintai. Dara bergerak pelan, mengerjapkan matanya. Saat kesadarannya pulih, ia terkejut melihat sosok yang duduk di sebelahnya.
"Aksal?" suaranya serak, lemah. Dara melirik jam dinding. Pukul 07.00. "Kenapa kamu masih di sini? Bukannya kumpul di sekolah jam tujuh? Bus berangkat jam delapan, kan?"
Aksal tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia mengambil tangan Dara, menggenggamnya erat.
"Aku nggak berangkat, Ra," jawab Aksal tenang.
Dara terbelalak, rasa kantuknya seketika lenyap. "Maksud kamu?"
"Aku sudah bicara sama Pak Hadi dan anak-anak semalam. Aku mengundurkan diri," jelas Aksal, nadanya datar seolah sedang membacakan laporan cuaca. "Pak Hadi menolak, Bima ngamuk, tapi keputusan aku final. Aku nggak bisa memimpin tim di Jakarta sementara pikiran dan hati aku tertinggal di sini, di kamar rumah sakit ini. Itu inefisiensi fokus yang akan merugikan tim."
Dara terdiam, mencerna informasi itu. Aksal... melepaskan KNP? Melepaskan impian terbesarnya demi menjaganya?
"Lalu... siapa yang memimpin tim putri?" tanya Dara pelan, firasat buruk mulai merayap.
Aksal menghela napas panjang, wajahnya mengeras. "Pak Hadi tidak punya pilihan lain. Beliau menunjuk Alexa sebagai Kapten Tim Putri pengganti."
Nama itu seperti sengatan listrik bagi Dara. Alexa. Orang yang menyebabkan semua ini, kini mengambil alih posisinya, memimpin pasukan yang Dara bangun, dengan ban kapten yang seharusnya melingkar di lengan Dara. Dara menarik tangannya dari genggaman Aksal. Wajahnya bukan menunjukkan kelegaan karena ditemani, melainkan kekecewaan yang mendalam.
"Kamu bodoh, Aksal," desis Dara, air mata kembali menggenang.
"Dara, aku—"