INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #17

Arsitektur Kemenangan

Euforia itu tidak terdengar di sini. Tiga hari setelah peluit akhir berbunyi di Jakarta, setelah ribuan konfeti dijatuhkan dan sorak-sorai kemenangan mengguncang atap GOR Ibukota, gema kejayaan itu seolah mati begitu menyentuh ambang pintu rumah sakit. Di kamar nomor 107, dunia tidak dirayakan dengan kembang api atau teriakan histeris, melainkan dengan bunyi bip ritmis dari mesin monitor dan aroma antiseptik yang menusuk indra penciuman.

Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah tirai jendela tampak ragu-ragu, jatuh menimpa lantai vinil yang dingin, menciptakan garis batas antara dunia luar yang terus berputar dan dunia Dara yang terhenti paksa. Di sinilah waktu terasa melambat, merangkak di antara jadwal minum obat dan sesi fisioterapi yang menyakitkan. Namun, pagi ini, keheningan itu terusik. Bukan oleh suara gaduh, melainkan oleh kehadiran seseorang yang membawa aura sisa-sisa pertempuran.

Aksal Danendra berdiri di sisi ranjang, masih mengenakan jaket kontingen tim basket SMA Cendrawasih. Jaket itu tampak sedikit kusut, saksi bisu perjalanan panjang antar-kota yang ia tempuh segera setelah seremoni berakhir. Wajahnya adalah peta kelelahan; gurat-gurat kurang tidur tercetak jelas di bawah matanya yang memerah, dan rambutnya tidak serapi biasanya. Namun, di balik keletihan fisik yang nyaris merobohkannya itu, ada kelegaan luar biasa yang memancar dari sorot matanya—sebuah ketenangan dari seseorang yang telah melunasi hutang terbesarnya.

Di hadapannya, Dara duduk bersandar pada tumpukan bantal. Kakinya yang terbalut gips tebal masih menjadi pengingat menyakitkan akan mimpi yang dicuri. Wajahnya pucat, kehilangan rona semangat yang biasa ia bawa ke lapangan, namun saat melihat Aksal, mata itu kembali hidup. Perlahan, seolah sedang memegang benda paling rapuh di dunia, Aksal mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah benda logam bundar yang tergantung pada pita merah-putih. Benda itu menangkap cahaya lampu neon rumah sakit dan memantulkannya dengan kilau keemasan yang menyilaukan, satu-satunya benda yang tampak "hidup" di ruangan yang steril itu.

Medali Emas KNP. Simbol supremasi tertinggi basket pelajar nasional. Cawan suci yang mereka kejar bersama sejak hari pertama latihan.

Aksal tidak berkata apa-apa. Ia membungkuk, meniadakan jarak di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh hormat—layaknya seorang ksatria yang mempersembahkan hasil jarahannya kepada ratu—ia mengalungkan medali berat itu ke leher Dara.

Dinginnya logam emas bersentuhan dengan kulit leher Dara, kontras dengan hangatnya napas Aksal yang menerpa wajahnya. Dara memegang medali itu dengan tangan gemetar, ibu jarinya mengusap ukiran "JUARA 1" yang tercetak timbul di sana.

Air matanya menetes, jatuh tepat di atas permukaan emas itu, menyucikan kemenangan tersebut dengan emosi murni.

"Aku pulang, Ra," bisik Aksal lembut, suaranya parau namun hangat, tangannya masih tertahan di bahu Dara. "Dan aku membawa apa yang menjadi hak kamu. Ini bukan punyaku. Ini medali kamu."

Dara terisak pelan, meremas medali itu erat-erat seolah benda itu bisa menghilang jika ia lepaskan. "Kamu... kamu benar-benar melakukannya, Sal. Kamu nepatin janji."

"Aku nggak pernah melanggar janji sama Arsitek tim ini," jawab Aksal. Ia menyeka air mata di pipi Dara dengan ibu jarinya, sentuhan yang jauh lebih berharga daripada piala mana pun. "Tanpa fondasi yang kamu bangun, tanpa strategi yang kamu titipkan, tim ini nggak akan sampai di podium. Fisik kami yang main di Jakarta, tapi semangat kamu yang memenangkan pertandingannya."

Di sudut ruangan, Ayah dan Ibu Dara menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Mereka berdiri merapat ke dinding, memberi ruang bagi momen intim anak-anak mereka. Sang Ibu menyeka sudut matanya dengan tisu, tersenyum haru melihat betapa besar dedikasi pemuda yang rela melakukan perjalanan tunggal sangat cepat dan menguras tenaga segera setelah pertandingan final berakhir, tanpa istirahat atau mengikuti perayaan—hanya untuk memastikan putri mereka tidak merasa ditinggalkan dalam euforia kemenangan.

Setelah gelombang emosi pertama mereda, Dara menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya yang serak. Ia menatap Aksal, kali ini tatapannya berubah. Ada kekhawatiran yang mengintip di balik rasa bangganya.

"Sal... tim putra juara. Aku bangga banget, sungguh," kata Dara pelan, jarinya masih memainkan pita medali. "Tapi... gimana sama tim putri? Aku nggak lihat beritanya karena... jujur, aku takut. Aku takut melihat apa yang terjadi tanpa aku."

Senyum tipis di wajah Aksal perlahan memudar, digantikan oleh garis rahang yang mengeras. Wajahnya berubah menjadi datar, ekspresi yang menyimpan kekecewaan mendalam dan amarah yang belum sepenuhnya padam terhadap realita di lapangan lain. Aksal menarik kursi besi di sebelah ranjang, duduk, dan menghela napas berat yang terdengar lelah.

"Mereka hancur, Ra," jawab Aksal jujur. Tidak ada gunanya menutup-nutupi fakta dengan gula-gula manis. "Tim putri gugur di perempat final."

Dara menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak. "Perempat final? Secepat itu? Padahal secara skill individu kita unggul..."

Aksal mengangguk, matanya menerawang mengingat kembali kekacauan di GOR Jakarta. "Itu bukan kekalahan taktik, Ra. Itu kekalahan karakter. Alexa... dia mengubah lapangan menjadi panggung pribadinya."

Aksal mulai menceritakan kronologi kehancuran itu, sebuah narasi tentang ego yang meruntuhkan kerja keras tim.

"Di pertandingan penentuan itu, Alexa menolak melakukan passing. Statistik mencatat dia mendominasi bola hampir 80% waktu penguasaan. Dia ingin jadi pahlawan tunggal, ingin mencetak semua poin sendiri untuk menarik perhatian scout bakat yang hadir," cerita Aksal, suaranya mengandung amarah yang tertahan. "Teman-teman lain cuma jadi properti di lapangan sendiri. Ritme yang kamu bangun, hancur total."

"Puncaknya di kuarter keempat," lanjut Aksal, suaranya merendah. "Santi sudah nggak tahan. Dia terbuka bebas di bawah ring, posisi easy layup yang bisa membalikkan keadaan, tapi Alexa malah memaksakan tembakan tiga angka dari sudut sulit yang meleset jauh. Santi meledak. Dia berteriak memaki Alexa di tengah pertandingan, saat bola masih hidup."

Dara membayangkan adegan itu dengan ngeri. Keributan internal di tengah pertandingan nasional, disiarkan langsung, adalah aib terbesar bagi sebuah tim.

"Mereka saling dorong, Ra. Wasit harus meniup peluit teknis untuk memisahkan mereka. Konsentrasi tim hancur total. Lawan memanfaatkan chaos mental itu dan membantai kita dengan selisih 20 poin di lima menit terakhir," Aksal menunduk, rasa malu itu masih membekas. "Dan yang paling menyakitkan... penonton menyoraki mereka. Bukan karena kalah, tapi karena mereka dipermalukan oleh ego sendiri. Satu GOR menyoraki 'Huuu' ke arah tim SMA Cendrawasih saat mereka keluar lapangan."

Dara merasakan sakit di hatinya, rasa nyeri yang lebih tajam dari kakinya yang patah. Tim yang ia bangun dengan keringat, air mata, dan strategi siang-malam, hancur lebur menjadi lelucon nasional hanya karena satu ego yang tidak terkendali. Ia merasa gagal melindungi teman-temannya.

"Coach Hadi?" tanya Dara lirih, nyaris tak terdengar.

"Coach Hadi mengamuk di ruang ganti," jawab Aksal. "Aku belum pernah melihat beliau semarah itu seumur hidup. Beliau membanting papan strategi sampai patah menjadi dua. Dia bilang, itu adalah permainan paling memalukan dan tidak bermoral sepanjang kariernya. Alexa langsung dicoret dari sisa kegiatan kontingen, dan Santi menangis sampai pingsan karena tekanan mental."

Aksal kembali menggenggam tangan Dara, menatapnya lekat-lekat, mencoba menarik Dara keluar dari rasa bersalah.

"Itu sebabnya medali emas ini penting, Ra. Tim putra harus menang mati-matian untuk menutupi aib itu. Tapi kami semua tahu... kalau kamu yang ada di sana, kalau kamu yang memimpin, chaos itu nggak akan pernah terjadi. Bangunan itu runtuh karena pilar utamanya nggak ada."

Dara menatap medali emas di dadanya, kilauannya kini terasa sedikit redup oleh bayang-bayang kegagalan timnya. Namun, ia melihat ketulusan di mata Aksal.

"Setidaknya..." bisik Dara, berusaha tersenyum meski hatinya perih. "Setidaknya ada satu pilar yang tetap kokoh di tengah badai itu. Kamu, Aksal. Kamu menyelamatkan wajah sekolah kita."

Aksal mencium punggung tangan Dara, sebuah gestur pengabdian. "Kita yang menyelamatkan, Ra. Kita."

Di ruangan putih itu, di tengah bau obat dan sisa tangis, medali emas itu bersinar—menjadi bukti kemenangan cinta mereka, sekaligus monumen bisu atas reruntuhan ambisi yang ditinggalkan oleh keserakahan. KNP telah usai, namun perang yang sesungguhnya bagi Aksal dan Dara baru saja memasuki babak baru.

 

***

 

Rumah tidak pernah terasa seindah ini.

Setelah satu minggu penuh terpenjara dalam ruangan kotak berbau antiseptik dan dikelilingi bunyi mesin monitor yang monoton, aroma rumah adalah parfum terbaik yang pernah dicium Aldara Adelia. Saat pintu depan terbuka, wangi khas pengharum pakaian ibu, sisa aroma masakan pagi, dan debu tipis dari buku-buku tua menyambutnya seperti pelukan hangat. Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela besar ruang tengah, jatuh di atas karpet beludru, menciptakan zona nyaman yang sangat dirindukan.

Di ambang pintu, sebuah kursi roda bergerak perlahan. Aksal Danendra, dengan ketelatenan seorang ahli bedah, mendorong kursi roda itu melewati gundukan kecil di pintu masuk. Ia sangat berhati-hati, seolah-olah guncangan sekecil apa pun bisa merusak gadis berharga yang sedang duduk di sana.

"Pelan-pelan, Sal... rodanya nyangkut di karpet," instruksi Lia, yang berjalan mundur di depan mereka sambil membawa tas berisi baju kotor Dara. Lia bertingkah seperti pemandu lalu lintas yang heboh. "Kiri dikit! Awas vas bunga Mama! Jangan sampai Kapten Basket nabrak guci keramik!"

Aksal mendengus, tapi tetap mengikuti arahan Lia. "Gue punya koordinasi spasial yang bagus, Lia. Gue bisa dribble bola lewat tiga pemain lawan, masa dorong kursi roda di ruang tamu nabrak guci?"

"Ya siapa tahu," cibir Lia. "Kalau di depan Dara, otak lo kan sering buffering."

Orang tua Dara yang berjalan di belakang mereka hanya tertawa melihat interaksi itu. Ayah Dara menutup pintu, mengunci dunia luar, memberikan privasi bagi putrinya untuk benar-benar pulang.

"Oke, landing di sofa," kata Aksal lembut.

Ia mengunci roda kursi, lalu berlutut di depan Dara. Dengan kekuatan yang terukur, Aksal membantu Dara berdiri dengan satu kaki sehatnya. Tangan Dara mencengkeram bahu kokoh Aksal sebagai tumpuan, sementara Lia sigap menata bantal-bantal di sofa agar posisi duduk Dara nyaman. Sepasang tongkat penyangga (kruk) disandarkan di dekat meja, siap menjadi kaki baru Dara untuk beberapa minggu ke depan.

Lihat selengkapnya