INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #18

Permulaan Keretakan Baru

Cahaya matahari pagi menembus celah gorden kamar, jatuh tepat di permukaan cermin setinggi badan yang berdiri di sudut ruangan. Di pantulan kaca itu, Aksal Danendra berdiri dengan kemeja putih yang sedikit kusut di bagian lengan. Tangannya bergerak cepat namun tidak sepresisi biasanya, menyimpul dasi abu-abu seragam SMA-nya.

Matanya melirik jam dinding. Pukul 06.45.

Aksal menghela napas kasar. Ia terlambat. Alarm biologisnya yang biasanya berdering tepat pukul 05.00 pagi mengalami kegagalan sistem hari ini, dampak akumulasi kelelahan emosional dan fisik yang menumpuk selama beberapa minggu terakhir. Ia merapikan kerah bajunya dengan gerakan cepat, menyisir rambutnya asal-asalan dengan jari, lalu menyambar tas ranselnya. Tidak ada waktu untuk mengecek kerapian lipatan celana atau kilap sepatu—standar efisiensi pagi ini diturunkan demi mengejar gerbang sekolah.

Aksal menuruni tangga dengan langkah lebar, dua anak tangga sekaligus. Pikirannya sudah menyusun skenario cepat: ambil roti, minum air, langsung gas motor. Namun, langkahnya terhenti mendadak di anak tangga terakhir. Aroma nasi goreng mentega dan telur dadar menguar dari arah dapur. Suara spatula beradu dengan wajan terdengar ritmis.

Aksal berjalan cepat ke dapur dan menemukan pemandangan yang membuat jantungnya berdesir cemas. Ibunya, yang semalam baru saja pingsan dan terlihat begitu rapuh di tempat tidur, kini berdiri di depan kompor, mengenakan daster rumahan, sedang membalik telur.

"Bu?" panggil Aksal, nadanya mengandung protes. "Ibu ngapain di sini?"

Ibunya menoleh, senyum hangat terbit di wajah pucatnya yang sudah sedikit lebih segar dibanding semalam. "Eh, kamu, Aksal sudah bangun. Ibu bikin sarapan sebentar. Kamu kesiangan ya?"

Aksal mendekat, mengambil alih spatula dari tangan ibunya dan mematikan kompor. "Bu, Ibu baru sadar dari pingsan kemarin sore. Dokter—atau logika kesehatan mana pun—bilang Ibu harusnya bed rest. Kenapa malah masak?"

"Ibu sudah sehat, Sal," jawab Ibunya lembut, mencoba mengambil kembali spatula itu tapi Aksal menjauhkannya. "Pusingnya sudah hilang kok. Ibu bosan kalau tiduran terus. Lagipula, Ibu ingin pastikan kamu sarapan. Kamu makin kurus sejak urus KNP."

Aksal menatap ibunya lekat-lekat, mencari tanda-tanda kebohongan atau rasa sakit yang disembunyikan. Wajah ibunya memang tidak sepucat kemarin, tapi gurat lelah itu masih ada.

"Bu, tolong jangan bikin Aksal panik lagi," ujar Aksal serius, menatap mata ibunya. "Sarapan bisa beli di kantin. Kesehatan Ibu itu aset paling vital di rumah ini sekarang. Tolong, masuk kamar lagi, ya? Istirahat."

Ibunya menghela napas, kalah oleh tatapan putranya yang mewarisi keras kepala ayahnya namun dengan hati yang jauh lebih lembut. "Iya, iya. Ibu istirahat. Tapi kamu makan dulu itu telurnya."

Aksal mengangguk. "Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun, pusing sedikit aja, langsung teriak panggil Nadia. Atau telepon Aksal di sekolah. Aksal bakal pulang saat itu juga, nggak peduli lagi ada ujian atau apa. Janji?"

"Janji, Sayang. Hati-hati di jalan."

Setelah memastikan ibunya duduk dan Nadia—yang baru bangun dengan wajah bantal—turun untuk mengambil alih pengawasan, Aksal akhirnya pamit. Ia menyambar kunci motor dan helmnya, lalu keluar menuju garasi. Mesin motor sport-nya menderu, memecah keheningan pagi kompleks perumahan. Aksal memakai helm full face-nya, lalu naik ke atas jok.

Saat tangannya memegang setang motor, ia merasakan kebiasaan lamanya mengambil alih. Secara refleks, Aksal menoleh ke belakang, mengecek pijakan kaki penumpang (footstep), seolah memastikan seseorang akan naik.

Namun, jok belakang itu kosong. Tidak ada Dara yang berlari kecil keluar pagar dengan senyum cerah. Tidak ada aroma sampo stroberi yang biasa tercium saat gadis itu naik dan memeluk pinggangnya. Tidak ada celotehan riang sepanjang jalan yang menceritakan mimpi semalam atau PR yang belum selesai.

Sejak cedera itu, dan sejak kepulangan dari Jakarta, rutinitas pagi Aksal berubah total. Ia harus berangkat sendiri. Aksal menatap jok kosong itu selama beberapa detik. Hatinya mencelos. Kehilangan itu terasa fisik; motornya terasa terlalu ringan, terlalu seimbang, dan terlalu sepi. Kerinduan pada gadisnya menyelusup masuk di balik jaket tebalnya.

"Sabar, Sal. Sebentar lagi dia sembuh," gumam Aksal pada dirinya sendiri di balik kaca helm.

Dengan satu tarikan gas, Aksal melesat meninggalkan rumah, membelah jalanan kota sendirian, hanya ditemani deru angin yang mengisi kekosongan di kursi belakangnya.

Gerbang SMA Cendrawasih sudah hampir ditutup saat Aksal membelokkan motornya masuk. Pak Satpam yang sudah hafal dengan suara motor Kapten Basket itu hanya melambaikan tangan, membiarkannya lewat meski bel hampir berbunyi. Aksal memarkir motornya di area khusus siswa. Begitu ia melepas helm dan menyugar rambutnya yang sedikit lepek karena keringat, aura di sekitarnya berubah.

Ia bukan lagi Aksal si anak yang khawatir pada ibunya, atau Aksal si pacar yang merindu. Ia kembali menjadi Aksal Danendra, Sang Idola Sekolah, Pahlawan KNP, dan siswa paling populer di SMA Cendrawasih.

Saat ia berjalan menyusuri koridor menuju kelas XII IPA 2, suasana yang tadinya tenang berubah riuh.

"Eh! Itu Kak Aksal!"

"Kak Aksal! Sapa aku dong!"

"Gila, ganteng banget kalau lagi messy hair gitu!"

"Kak, lihat sini dong!"

Seruan-seruan memuja terdengar dari siswi-siswi kelas 10 dan 11 yang bergerombol di depan kelas mereka. Beberapa bahkan memberanikan diri menyodorkan kotak bekal atau minuman, berharap dilirik oleh Sang Kapten yang baru saja mengharumkan nama sekolah di kancah nasional. Namun, Aksal tetaplah Aksal. Wajahnya datar, pandangannya lurus ke depan, langkahnya panjang dan efisien. Ia tidak menoleh, tidak tersenyum, dan tidak merespons satu pun panggilan itu. Baginya, semua itu hanyalah noise—suara latar yang tidak relevan dengan tujuannya mencapai kelas sebelum guru masuk. Ia membangun tembok es di sekelilingnya, tembok yang hanya bisa ditembus oleh segelintir orang.

Aksal sampai di pintu kelas XII IPA 2 tepat saat bel masuk berbunyi nyaring. Ia melangkah masuk. Suasana kelas langsung hening sejenak, sebelum meledak menjadi sambutan yang jauh lebih akrab dan kasar.

"Wuidih! Bapak Negara akhirnya datang!" seru Bima dari bangku belakang, merentangkan tangan lebar-lebar seolah menyambut presiden. "Kirain lo bolos, Sal! Gue udah siapin alibi kalau lo lagi meeting sama Presiden FIFA!"

"FIBA, Bima. FIFA itu bola kaki. Dasar inefisiensi wawasan," koreksi Aksal datar sambil berjalan ke bangkunya.

Kelas tertawa.

Toni yang duduk di depan meja Aksal memutar kursinya. "Tumben telat, Jenderal? Biasanya lo udah duduk manis baca buku Fisika Quantum jam segini."

Aksal meletakkan tasnya, duduk dengan lega. "Ada error teknis di sistem alarm rumah."

Rian menyeletuk sambil menyenggol lengan Aksal. "Atau... karena jok belakang kosong, jadi nggak semangat ngegasnya? Cieee, yang jadi duda sementara ditinggal Ibu Negara istirahat di rumah."

"Ojeknya sepi orderan ya, Bang?" timpal Bima lagi, membuat satu geng belakang itu tertawa terbahak-bahak.

Aksal hanya mendengus, menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya. Candaan mereka, meski receh dan kasar, adalah grounding yang ia butuhkan. Ini adalah normalitas. Ini adalah dunia sekolah yang ia rindukan di tengah badai masalah keluarganya.

"Berisik lo semua," kata Aksal santai, mengeluarkan buku pelajarannya. "Mending lo siapin PR Matematika. Pak Gunawan masuk lima menit lagi."

"MAMPUS! GUE BELUM!" Bima langsung panik, merebut buku Toni.

Aksal menggelengkan kepala, melihat kekacauan teman-temannya. Untuk sesaat, di dalam kelas yang riuh ini, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.

***

Kantin SMA Cendrawasih siang itu adalah sebuah orkestra kebisingan yang kacau. Denting sendok beradu dengan mangkuk beling, teriakan pesanan dari kios-kios makanan, dan gelak tawa ratusan siswa melebur menjadi satu dengungan raksasa yang memekakkan telinga. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu titik yang terasa hampa dan sunyi.

Lihat selengkapnya