INEFISIENSI HATI

Aldi Fadilah
Chapter #19

Perlindungan Yang Keliru

Langit mulai menunjukkan jingganya saat setelah sesi berkumpul singkat dan evaluasi tim basket di ruang ganti, Aksal berjalan menuju gerbang sekolah bersama Bima, Toni, dan Rian. Hari-hari ini, ia harus menjadi kebal, menutup telinga terhadap bisik-bisik dan tatapan aneh yang mengikutinya. Ia memercayakan sepenuhnya pada teman-temannya untuk membetulkan fakta isu tersebut, membiarkan timnya bertugas sebagai juru bicara yang solid.

"Capek gue dengar anak-anak bahas ini terus, Sal," keluh Toni, menyeka keringat di dahinya. "Mereka lebih suka drama daripada dengar fakta kalau lo cuma gebrak meja, dan isu tentang lo dan Alexa adalah salah besar."

"Biarkan saja," jawab Aksal datar. "Mereka akan lelah sendiri. Yang penting Dara nggak dengar."

Saat mereka melintasi lapangan basket menuju area parkir, Aksal melihat sekelompok anggota OSIS baru saja bubar dari ruang rapat. Tiba-tiba, pandangan Aksal menajam. Di sudut parkiran, berdiri Rayyan sendirian, sedang memasang helm di atas motor sport Ninjanya.

Bagi Aksal, ini adalah kesempatan yang sempurna. Sebuah konfrontasi tatap muka tanpa penonton massal, jauh dari kantin yang ramai, untuk memberi pria ini pelajaran atas narasi palsunya. Aksal berjalan lurus, meninggalkan teman-temannya yang seketika menyadari perubahan arah dan raut wajah kapten mereka.

Rayyan baru saja mengaitkan tali helmnya ketika ia merasakan kerah kemeja seragamnya ditarik dari belakang dengan tenaga yang kuat. Rayyan tersentak, menoleh, dan mendapati Aksal berdiri kurang dari sejengkal darinya, tatapan Aksal dingin, penuh amarah yang terkontrol.

"Puas lo?" desis Aksal, suaranya rendah dan tajam.

Rayyan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia hanya memperbaiki posisi kerahnya yang ditarik Aksal, lalu menyeringai sinis. Senyumnya tenang, seolah ia benar-benar memegang kendali atas emosi dan situasi.

"Maksudmu soal apa, Sal?" tanya Rayyan santai, pura-pura tidak mengerti. "Soal bagaimana semua orang di sekolah menyayangkan kapten mereka yang sempurna ternyata munafik?"

Aksal menahan napas. "Lo tahu gue ngomongin apa. Isu hoaks yang lo sebar. Lo tahu Dara sakit, dan lo pakai itu buat senjata lo."

Saat itulah Bima datang menghampiri mereka, wajahnya merah padam. Bima tidak memiliki kesabaran Aksal. Melihat Rayyan yang begitu tenang dan menghina, amarah Bima meledak.

"Dasar bajingan!" teriak Bima. Dengan gerakan cepat, ia melompat maju, menarik kerah baju Rayyan dengan kasar, dan mendorong tubuh Rayyan hingga punggungnya membentur tangki motornya. Tangan Bima terangkat, siap melayangkan tinju.

"Rayyan sudah keterlaluan, Sal! Biarin gue hajar dia!" raung Bima, matanya memancarkan kemarahan yang membabi buta.

Tetapi sebelum Bima sempat mendaratkan pukulannya, Aksal meraih pergelangan tangan Bima dengan cengkeraman baja, menghentikan gerakan itu di udara.

"Jangan, Bim," perintah Aksal tajam, matanya tidak beralih dari Rayyan. "Gue yang urus."

Aksal menahan Bima, sambil kembali fokus pada Rayyan yang kini terlihat sedikit terkejut, tetapi masih mempertahankan ketenangannya.

"Kenapa lo lakukan ini, Rayyan?" tuntut Aksal. "Jelasin niat lo. Apa yang lo mau?"

Rayyan menghela napas, seolah ia sedang berhadapan dengan anak kecil yang merepotkan. "Gue hanya kecewa pada lo," jawabnya tenang. "Dan kasihan pada Dara. Gue kasihan melihat bagaimana Dara memercayai semua yang lo lakukan, sementara lo... lo membiarkan Alexa menciptakan drama di kantin."

Aksal menguatkan cengkeramannya pada tangan Bima yang masih meronta. Aksal tahu, jika tinju Bima mendarat, selesai sudah. Isu akan naik ke dewan guru. Reputasi tim yang baru saja dibangun dengan susah payah akan hancur. Aksal tidak ingin kemenangan KNP mereka tercoreng hanya karena perkelahian konyol.

"Apa yang lo lihat di kantin adalah salah paham yang lo sengaja putarbalikkan, Rayyan," jelas Aksal dengan nada tinggi. "Dan gue tahu lo cuma mau provokasi. Tapi gue nggak akan kasih lo kepuasan itu."

Aksal mengendurkan cengkeramannya pada Bima. Ia melangkah maju, sangat dekat dengan Rayyan.

"Gue nggak peduli motif lo apa," desis Aksal. "Tapi mulai sekarang, tutup mulut lo. Hapus semua hoaks yang lo sebar. Sekali lagi gue dengar Dara terganggu karena omongan busuk lo, gue nggak akan janji gue bisa tahan Bima, dan gue nggak akan janji gue akan tahan tangan gue sendiri."

Aksal mundur selangkah, memberi isyarat pada Bima dan teman-teman lainnya untuk pergi. Rayyan hanya menatap Aksal. Ia tidak menjawab, tidak meminta maaf, hanya membiarkan keheningan yang penuh arti itu menjadi jawaban. Lalu, Rayyan menyalakan motornya, melaju pergi dengan tenang.

Bima yang masih gemetar karena amarah berbalik pada Aksal. "Kenapa lo tahan gue, Sal?! Dia sudah keterlaluan!"

Aksal menatap Bima, ekspresinya kembali menjadi Kapten yang logis. "Karena kalau lo pukul dia, kita yang kalah. Isu ini akan naik ke dewan guru dan Komite Disiplin. Reputasi tim yang kita jaga susah payah di KNP bisa hancur cuma karena tinju bodoh. Itu konsekuensi yang nggak sebanding dengan kepuasan memukul wajahnya."

Toni dan teman lainnya mengangguk. "Aksal benar, Bim," ujar Toni, menepuk bahu Bima. "Dia udah menangkap poinnya. Kita harus main bersih."

Bima menghela napas, rasa frustrasinya tak tertahankan. Ia menendang ban motornya sendiri dengan kesal, tetapi akhirnya ia mengiyakan.

Aksal melihat motor Rayyan menghilang dari pandangan. Ia telah memenangkan pertempuran mengendalikan kekerasan fisik, tetapi ia tahu, ia masih kalah dalam perang informasi. Ancaman itu nyata dan mungkin masih akan berkelanjutan.

Lihat selengkapnya