Layar ponsel itu kembali meredup, lalu mati menjadi hitam pekat untuk yang kesekian kalinya. Dara menatap benda pipih di tangannya dengan tatapan nanar. Di layar riwayat panggilan, deretan tulisan merah "Panggilan Keluar Tak Terjawab" berbaris rapi di bawah nama "Aksal Danendra". Satu, lima, sepuluh, hingga kini sudah hampir dua puluh panggilan. Semuanya berakhir pada pesan suara operator yang dingin dan tanpa emosi.
Dara menghela napas panjang, sebuah embusan yang sarat akan kekesalan bercampur kekhawatiran yang mencekik.
Sejak hari di mana Lia tidak sengaja membocorkan rahasia besar tentang fitnah di sekolah, Dara belum sempat bertemu Aksal secara langsung. Lelaki itu seolah menghilang ditelan bumi, atau lebih tepatnya, ditelan oleh "kesibukan" yang ia jadikan alasan. Mereka memang masih bertukar pesan via WhatsApp, dan terkadang Aksal menelepon sebentar sebelum tidur dengan suara lelah yang kentara, namun pertemuan fisik selalu dihindari.
Dara tidak bodoh. Ia tahu Aksal sedang menghindar. Aksal sedang berusaha menyelesaikan masalah fitnah itu sendirian sebelum berani menatap mata Dara. Namun, bagi Dara, ketidakhadiran Aksal justru memperparah keadaan. Ia ingin bicara. Ia ingin mengatakan bahwa ia sudah tahu semuanya dan ia tidak peduli pada omongan orang. Ia ingin mengatakan bahwa mereka bisa menghadapinya bersama.
Hari ini seharusnya menjadi hari itu; hari pembuktian. Dara sudah memberi kabar sejak kemarin bahwa gips di kakinya akan diperiksa dokter spesialis hari ini. Itu adalah momen krusial untuk menentukan apakah ia bisa mulai berjalan tanpa tongkat. Aksal sudah berjanji—dengan nada yang sangat meyakinkan di telepon semalam—bahwa ia akan menjemput, mengantar, dan menemani Dara.
"Janji seorang Jenderal," begitu kata Aksal.
Namun kini, jam dinding di ruang tamu terus berdetak tanpa ampun, mengejek penantian Dara. Jarum jam sudah melewati waktu perjanjian hampir satu jam.
Di sofa seberang, Ayah dan Ibu Dara duduk dengan gelisah. Mereka sudah rapi mengenakan pakaian formal—Ayah dengan kemeja batiknya dan Ibu dengan kebaya modern yang anggun. Mereka seharusnya sudah berada di jalan tol menuju luar kota untuk menghadiri pernikahan sepupu dekat Dara, sebuah acara keluarga yang penting. Namun, mereka masih terpaku di sini, menunggu janji seorang laki-laki yang tak kunjung datang.
"Nak..." Ibu Dara memecah keheningan, suaranya penuh keraguan. Beliau melirik jam tangan, lalu menatap putrinya yang masih menggenggam ponsel. "Ini sudah jam berapa? Dokter ortopedi kamu prakteknya ada batas waktunya, kan? Kalau telat, nanti antreannya hangus."
Dara menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan getaran kecewa di suaranya. "Sebentar lagi, Bu. Mungkin Aksal macet. Tadi malam dia janji kok."
Ayah Dara, yang sejak tadi mengetuk-ngetukkan jari di lengan kursi, akhirnya berdiri. Wajahnya keruh. "Sudah, Ayah batalkan saja ke luar kotanya. Kita nggak bisa ninggalin kamu kayak gini. Ayah yang antar kamu ke rumah sakit."
"Jangan, Yah!" potong Dara cepat. Ia tidak ingin menjadi alasan orang tuanya melewatkan momen keluarga, dan di sisi lain, ia masih memegang sisa-sisa harapan pada Aksal. "Ayah sama Ibu sudah janji sama Tante Rina mau datang. Nggak enak kalau batal mendadak cuma gara-gara nunggu jemputan. Kalian berangkat aja, serius."
"Tapi pacar kamu itu nggak ada kabar, Dara," tegas Ayahnya, nada kecewa pada pacar anaknya mulai terdengar jelas. "Masa Ayah tega ninggalin anak Ayah yang kakinya sakit sendirian di rumah nunggu ketidakpastian?"
Dara terdiam. Ia tahu Ayahnya benar. Ketidakhadiran Aksal bukan hanya mengecewakan Dara, tapi mulai menggerus kepercayaan orang tuanya.
Dara mencoba menelepon satu kali lagi. Panggilan tersambung... tut... tut... lalu terputus. Masuk kotak suara lagi.
Dara menurunkan ponselnya pelan. Matanya terasa panas. Kamu di mana, Sal? Kenapa di saat aku butuh kamu, di saat aku mau kasih kamu kesempatan buat jujur, kamu malah menghilang?
Waktu terus berjalan. Batas pendaftaran ulang di rumah sakit semakin mepet.
Tiba-tiba, ponsel di pangkuan Dara bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk. Jantung Dara melonjak. Dengan gerakan cepat, ia menyalakan layar, berharap melihat nama Aksal dengan seribu alasan maaf. Namun, harapan itu hancur seketika saat ia membaca nama pengirim di layar pop-up.
Bukan Aksal.
Dara tertegun sejenak, membaca isi pesan singkat itu dengan teliti. Keningnya berkerut, ada keraguan di matanya. Ia menatap layar itu lama, menimbang opsi. Ia melihat orang tuanya yang menunggu dengan cemas, melihat jam dinding yang terus berputar, dan mengingat keheningan Aksal yang menyakitkan.
Dara menghela napas gusar, sebuah keputusan pahit akhirnya diambil. Jemarinya menari di atas keyboard, mengetik balasan seadanya: "Oke. aku share loc sekarang, ya."
Setelah pesan terkirim, Dara meletakkan ponselnya di meja, lalu meraih tongkat penyangganya dan berdiri. Ia memaksakan sebuah senyum di wajahnya, senyum yang tidak mencapai matanya, untuk menenangkan kedua orang tuanya.
"Pa, Bu... kalian berangkat sekarang ya," kata Dara mantap. "Aku juga mau berangkat ke rumah sakit."
Ibu Dara langsung berdiri, wajahnya sumringah sesaat. "Aksal sudah kasih kabar? Dia sudah di jalan?"
Dara terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa seperti irisan tipis di hatinya. Ia tidak ingin berbohong, tapi ia juga tidak ingin menghancurkan suasana hati ibunya sebelum berangkat ke pesta.
Dara hanya menghela napas pelan, lalu menatap mata ibunya. Ia tidak mengangguk, tidak menggeleng. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang menyimpan kekecewaan mendalam.
"Sudah ada yang jemput, Bu," jawab Dara diplomatis. "Pokoknya, Dara aman sampai rumah sakit. Ibu sama Papa hati-hati di jalan ya. Nanti Dara kabari kalau sudah selesai kontrol."
Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut yang bisa meruntuhkan pertahanannya, Dara mencium tangan kedua orang tuanya dan memberi isyarat agar mereka segera pergi. Di balik punggung mereka, Dara menatap pintu depan dengan tatapan kosong.
Suara deru mesin mobil orang tuanya perlahan menjauh, menghilang di tikungan jalan kompleks, membawa sisa-sisa kekhawatiran yang sempat terpancar di wajah mereka. Kini, hanya tinggal keheningan yang menyelimuti teras rumah Dara.
Dara kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi rotan. Bahunya merosot, beban emosional yang ia tahan di depan orang tuanya kini runtuh sepenuhnya. Tangannya masih mencengkeram ponselnya erat-erat, begitu erat hingga telapak tangannya terasa basah oleh keringat dingin. Ia tidak langsung menyimpan benda itu. Ibu jarinya kembali menekan tombol daya, menyalakan layar untuk yang keseribu kalinya.
Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan balik. Hanya wallpaper foto mereka berdua saat perayaan kemenangan tim basket bulan lalu yang menyala mengejek. Di foto itu Aksal tersenyum lebar sambil merangkulnya yang sedang duduk di kasur rumah sakit dengan menggigit piagam dari Aksal, sebuah kontras yang menyakitkan dengan kebisuan Aksal hari ini. Dara menatap layar itu dengan tatapan kosong selama beberapa detik, sebelum akhirnya menutupnya kembali dengan helaan napas pasrah yang panjang dan berat. Harapannya telah dikikis habis oleh jarum jam.
Lima belas menit berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Angin sore menggerakkan daun-daun pohon mangga di halaman, menciptakan bayangan yang menari di lantai teras.
Sebuah mobil sedan berwarna abu-abu metalik perlahan mendekat, lalu berhenti tepat di depan pagar rumah Dara yang terbuka. Mesin mobil itu menderu halus, tidak mematikan mesinnya.
Dara mengenali mobil itu. Bukan mobil Aksal.
Pintu pengemudi terbuka. Sesosok laki-laki keluar dari sana. Ia mengenakan pakaian kasual namun rapi, wajahnya menyiratkan sedikit ketergesaan namun tetap tenang. Dara tidak memanggil namanya, ia hanya mengangguk pelan sebagai tanda pengakuan.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Dara meraih tongkat penyangganya. Ia menumpu berat badannya pada kaki kanan dan tongkat itu, berusaha bangkit berdiri. Kaki kirinya yang baru sembuh memang sudah bisa menapak, namun rasa ngilu dan kaku masih membatasi geraknya.
Melihat Dara yang berusaha berdiri, si pengemudi bergegas masuk ke pekarangan, langkahnya lebar menghampiri teras.
"Maaf ya, Ra. Tadi jalanan macet di perempatan depan," ujar laki-laki itu dengan nada penuh penyesalan, napasnya sedikit memburu. "Kamu nunggu lama?"
Dara menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis yang sopan. "Nggak apa-apa. Makasih banyak ya, udah bersedia datang dadakan gini buat jemput aku."
"Santai aja. Harusnya aku yang makasih kamu mau kabari aku," jawab pengemudi itu.
Saat Dara mulai melangkah menuruni undakan teras, si pengemudi dengan sigap mengulurkan tangan. Ia tidak menyentuh pinggang atau merangkul, melainkan memegang lengan Dara dengan lembut namun kokoh, menjadi tumpuan tambahan agar gadis itu tidak goyah.
"Aku bisa sendiri kok," gumam Dara pelan, mencoba menunjukkan kemandiriannya, atau mungkin mencoba menjaga batas. "Kakiku sudah lumayan kuat."
"Iya, aku tahu kamu kuat," balas laki-laki itu lembut, namun ia tidak melepaskan pegangannya. "Tapi biarkan aku bantu sampai masuk mobil. Licin, takut kamu kepleset."
Dara tidak membantah lagi. Ia membiarkan dirinya dibantu, merasakan perbedaan sentuhan itu. Ini bukan tangan Aksal yang biasa menggenggamnya dengan posesif dan hangat. Ini adalah sentuhan asing yang menawarkan bantuan murni di saat orang yang seharusnya ada justru menghilang tanpa kabar.
Mereka sampai di depan pintu penumpang depan. Si pengemudi membukakan pintu lebar-lebar, lalu mundur sedikit memberi ruang bagi Dara untuk masuk. Sebelum Dara mendudukkan dirinya di jok mobil yang empuk, ia berhenti sejenak. Ia berdiri mematung di samping pintu mobil yang terbuka. Tangannya kembali merogoh saku, mengeluarkan ponselnya untuk terakhir kalinya.
Ia melihat layar hitam itu sekali lagi. Masih sunyi.
Dara menarik napas dalam, lalu mengembuskannya kasar. Keputusan telah bulat. Jari telunjuknya menggeser panel notifikasi, menekan ikon Mobile Data hingga non-aktif. Tidak cukup sampai di situ, ia menekan tombol Power lama, hingga muncul opsi "Matikan Daya". Layar ponsel itu berkedip sekali, menampilkan logo merek, lalu mati total. Hitam pekat.
Dara memasukkan benda mati itu ke dalam tas selempangnya, menutup ritsletingnya rapat-rapat. Ia memutuskan hubungan dengan dunia luar. Ia memutus akses Aksal kepadanya. Hari ini, Dara tidak ingin dicari, tidak ingin mendengar alasan, dan tidak ingin menunggu lagi.
Dara masuk ke dalam mobil.
"Sudah siap?" tanya pengemudi itu setelah menutup pintu Dara dan kembali ke kursi kemudi.
"Sudah," jawab Dara singkat, pandangannya lurus ke depan, menatap jalanan aspal yang membentang. "Ayo jalan."