Angin malam yang berembus di teras rumah itu terasa membekukan, namun bagi Aksal, rasanya seperti berdiri di tengah kobaran api. Nama itu—Rayyan—masih menggantung di udara, menciptakan jurang pemisah yang lebar di antara mereka.
Aksal mundur selangkah, seolah fisiknya baru saja menerima hantaman keras. Tangannya yang terkepal di sisi tubuh gemetar hebat, buku-buku jarinya memutih karena tekanan emosi yang nyaris meledak.
"Rayyan..." desis Aksal, suaranya parau, penuh ketidakpercayaan yang menyakitkan. "Dari ratusan siswa di sekolah ini... dari banyak teman yang kamu miliki... kenapa harus dia, Ra? Kenapa harus orang yang paling ingin menjatuhkan aku?"
Dara tidak mundur. Ia berdiri tegak dengan bantuan tongkatnya, matanya menatap Aksal tanpa rasa takut. "Karena dia ada, Sal. Sesederhana itu. Di saat aku duduk di teras, menunggu janji yang tak pasti, Rayyan mengirim pesan, menanyakan kabarku, dan berencana menjenguk."
Dara berhenti sejenak, tatapannya menyiratkan kekecewaan yang mendalam. "Aku sudah menunggu kamu selama tiga jam, Sal. Dokter sudah mau tutup jam praktik. Aku tidak punya pilihan. Jadi aku balas pesannya dan meminta dia mengantarku. Dan dia langsung datang, tanpa menunggu waktu lama."
Aksal menggeleng cepat, menolak fakta yang begitu menyakitkan ini. "Kenapa kamu nggak pesan taksi online? Kenapa harus dia, Ra? Kamu tahu apa motif dia!"
Pertanyaan Aksal tentang taksi online itu bagaikan percikan api. Dara tertawa miris, tawa yang menusuk telinga.
"Taksi online? Kamu mau aku ke rumah sakit, sendirian, naik taksi online, dengan kaki yang baru akan dibuka gipsnya dan baru bisa menapak? Kamu ingin aku pergi sendirian, padahal kamu sudah janji menemaniku?"
Dara menelan ludahnya sejenak memberi jeda, "Pacar macam apa kamu, Sal?!"
Aksal membeku. Pertanyaannya yang didasari cemburu justru menamparnya kembali dengan kenyataan yang lebih keras: ia lebih memilih Dara naik taksi sendirian daripada dijemput Rayyan, padahal ia adalah pacarnya dan ia yang berjanji untuk hadir.
"Aku... aku nggak bermaksud begitu, Ra," gumam Aksal, rasa bersalah itu mencekiknya.
"Lalu kamu bermaksud apa, Sal?" tuntut Dara. "Kamu menghilang karena urusan di rumah. Aku tidak menyalahkan urusan itu. Tapi aku menyalahkan kebisuan kamu, Sal. Kamu biarkan aku menunggu, kamu biarkan aku cemas, dan kamu bahkan tidak mengaktifkan ponselmu setelah itu! Sementara aku tahu semua drama yang kamu sembunyikan!"
Aksal terhenyak. Mulutnya sedikit terbuka. "Kamu... tahu?"
Dara mengangguk, air mata Dara akhirnya jatuh, satu tetesan yang mengalir cepat di pipinya.
"Lia yang cerita. Lia keceplosan," jawab Dara, suaranya bergetar menahan tangis. "Yang sakit adalah kamu merasa harus menyembunyikan itu semua dari aku. Kamu anggap aku apa? Kamu berjuang sendirian, nahan Bima di parkiran, nahan emosi kamu, sementara aku duduk di rumah ketawa-ketiwi kayak orang bodoh yang nggak tahu pacarnya lagi diserang satu sekolah."
"Aku cuma mau ngelindungin kamu, Ra," suara Aksal melemah, terdengar putus asa. "Kamu lagi sakit. Fokus kamu harus sembuh. Aku nggak mau sampah dari Rayyan ngerusak pemulihan kamu."
"Itu bukan melindungi, Sal. Itu mengucilkan," balas Dara tajam. "Dalam hubungan, perlindungan itu berarti menghadapi masalah bareng-bareng. Bukan kamu jadi pahlawan tunggal dan aku jadi penonton yang buta."
Dara menyeka air matanya kasar, lalu kembali ke masalah xiiutama yang membuat Aksal terlambat.
"Dan sekarang... soal urusan rumah," lanjut Dara, menatap Aksal lekat-lekat. "Kamu telat berjam-jam. Kamu bilang ada masalah keluarga. Kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu biarkan aku nunggu dalam ketidaktahuan? Apa masalah keluarga kamu juga rahasia negara yang nggak boleh aku tahu?"
Aksal menunduk, menarik napas panjang. Ia tahu ia harus menjelaskan alasan keterlambatannya, tetapi trauma melihat kondisi Ibunya membuatnya enggan membagi aib itu sekarang.
"Ra... aku minta maaf. Aku telat karena ada urusan mendadak di rumah yang benar-benar tidak bisa aku tinggalkan. Aku sangat panik. Fokusku terpecah. Aku minta maaf nggak sempat kasih kabar sama sekali. Aku pikir setelah urusan itu selesai, aku langsung ke sini..."
Dara mendengarkan. Ekspresi marah di wajahnya tidak melunak. Justru kekecewaan yang semakin dalam terlihat di matanya.
"Urusan mendadak di rumah apa sih, Sal?" ulang Dara, suaranya meninggi dan penuh kepedihan. "Masalah apa? Kenapa kamu nggak bilang? Kamu tahu aku akan mengerti jika itu masalah darurat! Tapi kenapa kamu pilih untuk menyembunyikannya? Kenapa kamu biarkan aku nunggu dalam ketidaktahuan?"
"Aku nggak mau kamu khawatir dua kali, Ra," bela Aksal, suaranya terdengar frustrasi. "Kamu lagi fokus sembuh, kaki kamu baru dibuka gipsnya. Aku pikir aku bisa selesaikan sendiri dan langsung datang!"
"Sudah kubilang itu bukan melindungi, Sal. Itu mengucilkan," balas Dara tajam. "Dalam hubungan, perlindungan itu berarti menghadapi masalah bareng-bareng. Bukan kamu jadi pahlawan tunggal yang memikul semua beban!"
Dara melanjutkan, suaranya dipenuhi frustrasi: "Aku tahu soal fitnah Rayyan dan Alexa. Aku tahu soal urusan tim yang kamu hindari. Dan sekarang, ada masalah di rumahmu yang juga kamu tutup rapat. Yang sakit adalah kamu merasa harus menyembunyikan semua hal penting ini dariku. Kamu anggap aku apa? Cuma gadis yang nggak perlu tahu pahitnya hidup kamu?"
Dara menyeka air matanya kasar.
"Aku berterima kasih sama Rayyan bukan karena aku suka dia. Tapi karena dia satu-satunya yang memperlakukan aku seperti manusia yang butuh bantuan nyata, bukan manusia yang perlu dibohongi demi 'kebaikan'."
Suasana hening. Aksal mematung, dikalahkan oleh niat baiknya sendiri. Ia sadar, penyembunyiannya atas masalah Rayyan dan masalah Ibunya telah membuat Dara sepenuhnya kehilangan kepercayaan.
"Pulanglah, Sal," usir Dara pelan.
"Ra, nggak. Kita belum selesai. Aku nggak mau pulang dengan keadaan begini," mohon Aksal.