Blurb
Newton pernah berkata: benda yang diam akan terus diam, sampai ada gaya luar yang menggerakkannya.
Tapi... Newton tidak pernah bekerja di divisi akunting.
Benda diam akan tetap diam. Itu adalah prinsip hidup yang dipegang Daffa Kurniawan selama lima tahun, duduk di kubikel yang sama, menyeruput kopi saset yang sama, dan memastikan tidak ada satu pun hal di dunia ini yang cukup penting untuk mengganggu jam kerja dan tidurnya.
Sampai Via masuk ke hidupnya dengan mata polosnya yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Sampai Olla muncul kembali dari masa lalunya dengan tawanya yang renyah, yang entah bagaimana terasa seperti satu-satunya tempat di dunia di mana Daffa tidak perlu pura-pura menjadi orang lain.
Dua gravitasi. Dua arah. Satu pria yang tidak mau bergerak ke mana pun.
Tapi semesta, rupanya, punya rencana yang jauh lebih rumit, dan jauh lebih berbahaya, dari sekadar urusan hati.
Karena di balik kekonyolan sehari-hari seorang jongos ketik bergaji UMR, ada perang yang tidak pernah dia pilih, musuh yang tidak bisa dikalahkan dengan cara biasa, dan sebuah pertanyaan yang paling dia hindari:
Untuk siapa kamu bergerak, Daffa, jika bukan untuk dirimu sendiri?
Daffa tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Tapi ternyata, ada hal-hal yang jauh lebih mahal dari kopi saset dua ribu perak yang tidak bisa dia biarkan hilang begitu saja.
Karena begitulah hukum inersia bekerja, benda yang sudah bergerak, tidak akan pernah bisa kembali diam.