"Love in Bali With u."
Begitu tulisan status IG gebetanku 4 tahun lalu. Di layar ponselku androidku, terputar video dia dan pasangannya sedang makan siang romantis di pinggir pantai. Sayup-sayup terdengar suara deburan ombak dan denting pisau-garpu yang beradu. Kini entahlah, dia masih hidup atau sudah dimakan hiu di Samudra Hindia, aku tak peduli.
"Huuufff..."
Aku menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari hidungku terasa hangat, membawa sisa aroma kopi saset murahan yang kuseduh tiga jam lalu. Mataku mulai perih dan berair, lelah dipaksa menatap cahaya biru menyilaukan dari monitor tua sejak pagi. Sepertinya hari ini aku terperangkap lembur lagi.
Namaku Daffa Kurniawan. Seorang Junior Administration Accounting, atau nama keren dari jongos ketik di PT Bina Ekosistem Global Outsourcing atau disingkat PT BEGO. Tugas sehari-hariku adalah mengetik laporan, menganalisa biaya, mengurus penghitungan pajak, nge-print, mengangkat galon, mengantar berkas lintas lantai, dan mungkin sebentar lagi disuruh mengendalikan cuaca.
Saat pertama kali menginjakkan kakiku di kantor ini, jobdesk asliku murni hanya ngurusin dokumen. Tapi seiring berjalannya waktu, orang-orang di sekitarku makin ngelunjak. Punggungku rasanya sudah melengkung menyerupai tanda tanya karena harus memikul beban kerjaan mereka yang terus-terusan dilempar ke mejaku.
Dalam dunia korporat ber-AC dingin tapi berhati dingin ini, jangan pernah percaya pada siapa pun. Tidak ada yang namanya kawan abadi. Semua bisa tiba-tiba jadi penjilat berlidah cabang, penghianat yang menusuk dari belakang, diam-diam berbisik di pantri menggunjingkan kejelekanmu, dan...
TING!
Bunyi notifikasi nyaring itu memecah konsentrasiku. Kotak pesan pop-up muncul di pojok kanan bawah layar monitor.
"Bro, gue belum setor tunai hari ini, utangnya gue bayar besok ya?"
Itu, yang baru saja kalian lihat.
Kalau diibaratkan, dunia korporat ini adalah padang sabana yang berisi rantai makanan buas. Di saat yang lain saling cakar, makan, dan dimakan demi hidup lebih lama atau hidup lebih enak, aku lebih memilih menjadi pot tanaman hias di pojok kubikel, menguning, kurang sinar matahari, tidak ikut-ikutan konflik melelahkan mereka, dan menolak mati. Pokoknya kerja, punggung encok, pulang, tidur. Gitu aja.
"Daf, nanti sore lu ikut main padel? Divisi akunting mau lawan divisi marketing, lho," ucap Desi.
Semerbak wangi parfum floral yang mahal seketika menembus bau apek karpet kantorku saat ia bersandar di partisi kubikel. Desi, rekan kerjaku yang hobi banget terbang ke Singapura setiap Jumat sore. Padahal slip gaji kami nominalnya sama, tapi dia bisa liburan keluar negeri. Ga aneh sih, dia jagonya menjilat atasan. Lidahnya mungkin sudah berlapis emas saking seringnya menemani manajer karaoke.
"Enggak, Des. Gue ada lemburan," tolakku mutlak. Selain karena tumpukan lemburan laknat ini, aku tidak mau buang-buang uang dan sisa tenagaku.
"Oh, gitu... sayang lho. Sama divisi marketing lho, kali aja kamu bisa dapet cewek dari sana."
Aku hanya nyengir kuda, memamerkan senyum asimetris tanpa menjawab apa-apa, lalu kembali memelototi rentetan angka di spreadsheet.
Dapet cewek? Terakhir kali aku naksir cewek itu 4 tahun lalu. Setelah itu usai sudah, tamat, game over. Kututup rapat-rapat pintu hatiku, kugembok dobel, lalu kuncinya kulempar ke palung mariana. Aku masih bisa bernapas baik-baik saja tanpa perempuan. Aku kapok berharap. Dada selalu bergetar ngilu tiap melihat senyuman gebetan, asam lambung naik menanti balasan pesannya. Kita berusaha mati-matian memperbaiki diri agar pantas bersamanya, dan ketika menyadari kita terlambat karena dia lebih dulu di-gandeng pria berduit... boom. Galau berminggu-minggu, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dipojokan kamar sambil mendengarkan playlist lagu galau. Hidup yang sangat menyusahkan.