INERSIA

cahyo laras
Chapter #2

Menjadi Mentor Dadakan

Aku kembali mendaratkan bokongku di kursi kerja yang busanya sudah kempes termakan usia. Di sebelahku, Via masih berdiri mematung. Matanya yang bulat mengerjap bingung melihat sekeliling kubikelku yang sempit dan dipenuhi tumpukan map lusuh.

Ah elah, ini bocah masa nunggu dipersilakan kayak tamu? Menghela napas malas, aku bangkit dan menyeret sebuah kursi kosong dari meja sebelah. Roda kursi itu berdecit memilukan, menggores lantai karpet kasar, dan menghasilkan suara ngilu yang membuat telinga sakit.

"Duduk," kataku singkat.

Via mendaratkan tubuhnya dengan gerakan canggung. Aroma wangi bedak bayi dan sampo lidah buaya yang tadi sempat tercium di lorong, kini menguar lebih kuat di udara kubikel yang sempit ini. Wangi itu bertabrakan secara brutal dengan bau apek karpet kantorku dan aroma kopi sasetku yang sudah dingin.

"Mas, udah lama kerja di sini?" Suaranya yang renyah memecah suara ketikan keyboard-ku.

"Hampir lima tahun."

"Wow, lama dong. Di sini kerjaannya ngapain aja, Mas?" tanya Via, menatapku dari samping.

"Intinya sih cuma ngetik laporan, analisis harga, ngitungin pajak, nge-print. Kalau lagi nggak beruntung, jobdesk-nya bisa berekspansi jadi kuli angkat galon, barista dadakan buat manajer, dan dapet kerjaan lain yang nggak tertulis di kontrak. Saranku, jangan betah-betah di sini," jawabku datar, mataku tetap terkunci pada deretan sel Excel yang berpendar menyilaukan.

"Lho, Masnya kok bisa lima tahun di sini?" tanya Via polos.

Deg... Pertanyaan polos itu menembus dadaku seperti panah beracun. Benar juga. Kenapa aku membusuk di sini selama setengah dekade? Otakku memproses dengan cepat. Bukan karena aku bodoh, tapi karena aku terlalu malas menghadapi drama baru. Aku adalah perwujudan dari hukum Inersia, benda yang diam, menolak untuk bergerak demi kedamaian batin.

"Entahlah. Mungkin karena aku nggak nyari-nyari peluang kayak yang lain," jawabku asal.

"Oh, gitu... Namaku Delvia Laurance. Panggilan Via. Nama Mas siapa?"

Delvia Laurance. Nama yang terlalu elegan untuk habitat ini. Khas nama-nama yang sering muncul di daftar absen sekolah bertaraf (dan bertarif) internasional.

"Daffa... Daffa Kurniawan. Panggil apa saja," jawabku.

Lihat selengkapnya