INERSIA

cahyo laras
Chapter #3

Menghindar Dari Kumpulan Badut

Aku kembali mendaratkan tubuhku di kursi di sebelahnya, mataku awas memperhatikan dan mengoreksi deretan angka yang baru saja ia input. Harus kuakui, untuk ukuran mantan penghuni divisi marketing yang biasanya lebih sering jualan pesona daripada ngitung pajak, kemampuan adaptasi Via cukup baik. Jari-jarinya yang lentik mengetik dengan ritme yang stabil.

Namun, cahaya dari luar jendela kaca perlahan berubah menjadi jingga redup. Hari sudah semakin sore. Suara mesin fotocopy di ujung ruangan sudah lama mati, digantikan oleh dengungan mesin AC yang terdengar kelelahan. Sebenarnya pekerjaanku sendiri belum tuntas, tersendat karena sebagian kapasitas otakku harus dialokasikan untuk mengawasi anak baru ini.

Apakah anak baru ini harus kuajak lembur di hari pertamanya? Aku melirik Via. Wajahnya mulai terlihat pias, mungkin lelah memproses ribuan baris Excel. Tidak... tidak... sebaiknya kusudahi saja. Kalau dia sakit, aku juga yang repot besok. Pragmatisme selalu menang.

"Oke, Via. Ini sudah jam pulang. Besok mungkin kamu udah bisa beraksi di set-up komputermu sendiri," kataku sambil berdiri. Aku meregangkan punggungku ke belakang. Krek! Krek! Suara tulang belakangku berbunyi nyaring, seolah memprotes perbudakan hari ini.

"Oh, iya Mas. Makasih banyak ya Mas atas ilmunya hari ini. Untuk besok dan ke depannya... mohon bantuannya terus ya," kata Via. Ia mendongak, menatapku dengan mata bulatnya yang berbinar, lalu tersenyum manis. Sangat manis.

Aku mengalihkan pandangan. Manis sih, tapi dari pengalaman hidupku, yang manis-manis gini yang biasanya mengandung sianida. Jangan tertipu, Daffa.

"Ya udah. Cukup di-save aja file-nya. Komputernya biarin nyala, ga perlu di-shut down, booting-nya lama. Keburu tua nunggunya," kataku datar.

Via mengangguk patuh. Ia berdiri, merapikan mejanya sebentar, lalu menyampirkan tali tas selempang kulit kecil ke bahunya. Aku sendiri langsung menyambar jaket parasutku yang digantung asal di sandaran kursi dan menggendong ranselku yang isinya lebih banyak botol minum kosong daripada dokumen.

Oke. Misi hari ini selesai. Tinggal pulang, mandi, tidur.

Aku dan Via berjalan beriringan keluar dari ruangan divisi akunting. Saat kami menyusuri lorong menuju area lift, aku bisa merasakan hawa di sekitarku mendadak berubah. Pasang-pasang mata dari karyawan divisi lain yang sedang bersiap pulang langsung terkunci ke arah kami. Lebih tepatnya, ke arah Via.

Entah mereka terpesona oleh paras cantiknya yang bagaikan oase di tengah gurun, atau mereka sedang shock melihat ada makhluk good looking yang bisa bertahan hidup keluar dari divisi neraka akunting.

Di depan pintu lift, ada empat orang pria kemeja rapi yang sedang menunggu. Aku berdiri di sebelah Via, sengaja mengambil jarak aman sekitar satu meter dari kawanan hyena kantoran itu.

Dari ekor mataku, aku bisa melihat Via mulai tidak nyaman. Ia menundukkan kepala, kedua tangannya memegang erat tali tas selempangnya. Hawa dari tatapan keempat pria itu memang terasa intens, seperti predator yang baru melihat daging segar.

"Bro, anak baru itu ya?"

Seseorang dari komplotan itu menyapaku. Jujur saja, di kantor dengan ratusan budak korporat ini, aku banyak hafal wajah tapi sama sekali tidak peduli pada nama. Sebut saja pria ini 'Kapur Barus'. Kepalanya nyaris plontos, kulitnya putih pucat, dan aroma parfum musk-nya begitu menyengat hingga menembus sinusku.

Bro? Dia memanggilku bro? Sejak kapan kita akrab, hei? Berpapasan di toilet saja kita cuma saling buang muka.

"Iya, baru masuk hari ini," jawabku pendek, tanpa minat.

"Cakep ya..." bisik salah satu temannya yang berdiri di belakang Kapur Barus. Suara bisikan yang sama sekali tidak pelan.

"Hallo... namaku Richard," tiba-tiba seorang pria lain dari kelompok itu melangkah maju. Rambutnya disisir klimis ke belakang penuh pomade. Dia langsung menyodorkan tangannya ke arah Via dengan senyum lebar yang memamerkan gigi gingsulnya.

Karena dia sudah menyebut namanya sendiri, aku tidak perlu repot-repot memberinya julukan di kepalaku. Andai aku harus memberinya nama, akan kusebut dia 'Omong Kosong'.

"Via..."

Via menyambut jabatan tangan itu dengan sangat ragu. Ujung jarinya saja yang bersentuhan. Senyum nyengir tipis tergambar di bibirnya. Auranya jelas memancarkan sinyal S.O.S. Dia benar-benar tidak nyaman.

Ting!

Suara lonceng lift berdenting. Angka di panel menunjukkan lift sudah tiba di lantai kami.

"Via, aku ada laporan yang ketinggalan. Ikut aku sebentar," kataku memecah suasana, suaraku sengaja kubuat sedikit mendesak.

"Eh...? I-iya, Mas." Via langsung menarik tangannya dari Richard seperti ditarik magnet, tampak lega luar biasa mendapat alasan kabur.

Tanpa menoleh lagi ke arah komplotan itu, aku berbalik dan berjalan cepat kembali ke lorong divisi akunting, diikuti langkah kaki kecil Via yang bergegas di belakangku. Sementara itu, empat pria tadi, termasuk Richard, melangkah masuk ke dalam lift dengan leher yang masih menoleh ke belakang, mata mereka menempel lekat pada punggung Via hingga pintu besi itu tertutup.

Sesampainya di kubikelku yang sepi, aku menghentikan langkah dan berbalik. Aku diam sesaat, menatap wajah Via yang masih tegang.

Lihat selengkapnya