INERSIA

cahyo laras
Chapter #4

Makan Siang Dengan Junior

Keesokan paginya, aroma kardus baru dan plastik pabrik menguar di kubikel Via. PC untuk meja kerjanya sudah tiba. Masalahnya, barang itu tidak datang dalam bentuk PC utuh siap booting, melainkan berwujud part-part terpisah di dalam dus. Pak Brata yang dzalim itu menyuruhku merakitnya dengan alasan "hemat biaya". Brengsek memang.

Via duduk manis di kursinya, matanya mengerjap bingung melihatku berjongkok membongkar motherboard dan merakit kabel-kabel seolah aku ini mekanik di Mangga Dua.

Sebenarnya merakit PC itu mudah, tapi ini buang-buang waktu. Seharusnya pagi ini aku sedang menikmati kopi saset yang uapnya masih mengepul, sambil menyelesaikan laporan yang tertunda kemarin.

Yang membuat hatiku makin miris, spesifikasi hardware yang sedang kurakit ini sangat tidak masuk akal. RAM 32 GB, processor generasi terbaru, dan... tunggu, ini VGA Card RTX?! Buset dah! Cewek akunting dikasih PC gaming kelas atas begini buat apaan?! Paling banter hiburannya di kantor cuma buka YouTube 1080p, scroll marketplace, atau nonton drakor sembunyi-sembunyi!

Aku melirik nanar ke arah PC-ku sendiri di kubikel sebelah. Komputer purba yang suaranya seperti mesin pemotong rumput. Booting Windows-nya saja butuh waktu setara durasi masak mi instan, logo 'Activate Windows' setia menempel transparan di pojok kanan bawah, dan game paling berat yang bisa diangkat cuma Zuma, game favorit PNS kelurahan. Itu pun kalau bolanya kutembak, layarnya langsung freeze, tahu-tahu semua bolanya sudah meluncur masuk ke congor tengkorak. Brata dzalim!!!

Setelah selesai merakit fisik, aku menyalakan monitor. Menyala dengan mulus, tanpa suara berisik. Sialnya lagi, OS-nya sudah disiapkan Windows 11 Ultimate Original lengkap dengan lisensi Office terbaru.

Aku menghela napas panjang, meratap dalam hati. Sebenarnya aku ini dianggap manusia nggak sih di kantor ini?

"Kenapa, Mas?" tanya Via, suaranya renyah menyadarkanku.

"Gak apa-apa. Cuma alergi bau barang mahal," jawabku asal.

Setelah instalasi selesai, aku kembali ke habitatku di kubikel sebelah.

"Masih ingat cara masukin laporannya kayak kemarin kan?" tanyaku dari balik partisi.

"Iya, Mas..." jawabnya yakin.

Bagus. Aku membagi sepertiga tumpukan berkas dari mejaku dan memindahkannya ke mejanya. Otakku berpikir tugasku sebagai mentor dadakan sudah selesai, aku bisa kembali ke mode hemat energi dan bekerja dengan tenang. Tapi hukum entropi selalu menang. Kekacauan adalah hal yang mutlak.

Dalam dua jam ke depan, namaku dipanggil lebih sering daripada tukang siomay di SD.

"Mas, ini formulanya ga bisa. Syntax error," panggil Via.

Lihat selengkapnya