Sore harinya, tepat jam pulang kerja berbunyi. Tuts keyboard berhenti berbunyi secara massal. Via berdiri di sebelah partisiku, meremas tali tasnya. Wajahnya malu-malu.
"Mas Daffa..."
"Ya?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari monitor yang sedang proses shut down.
"Anu... karena aku belum kenal banyak orang di sini, dan aku kan baru pindah kos hari ini... aduh, gimana bilangnya ya, Mas?" Via menggigit bibir bawahnya.
"Kamu minta bantuin beres-beres barang di kamar kosmu?" tebakku langsung pada inti masalah.
Via melongo. Mata bulatnya menatapku dengan syok. "Hah?! Kok tahu, Mas?!"
Tentu saja, Premis pertama: "Belum kenal banyak orang". Premis kedua: "Baru pindah kos". Punchlinenya pasti : Dia butuh kuli angkut gratisan.
Dalam hatiku, aku sudah merangkai pidato penolakan yang sangat epik: "Via, aku ini lelah. Tulangku rasanya mau rontok. Aku ingin pulang, mandi air dingin, dan tidur seperti mayat. Kau pikir aku ini relawan bencana alam yang bisa disuruh jadi kuli panggul gratis?!"
Namun, lidah pragmatisku mengkhianati monolog batinku. Via adalah tanggung jawabku sementara ini. Menolaknya mentah-mentah mungkin akan menimbulkan drama di masa depan. Aku menghela napas.
"Kosanmu deket kan dari sini?" tanyaku dengan nada pasrah level dewa.
"Iya, Mas! Deket banget, di gang belakang gedung kantor ini aja," jawab Via dengan mata berbinar-binar.
"Oke."
Kami turun ke lobi. Dan tebak siapa yang sedang berdiri santai di dekat mesin pemindai ID Card? Richard. Dia menyandarkan tubuhnya ke pilar, memainkan kunci motor di tangannya.
"Hai, Via... mau kuantar balik?" tawarnya lembut, suaranya dibuat serendah mungkin.
Di obrolan siang tadi saat aku tak ada, Via pasti sudah membeberkan kalau dia pindah kos. Si brengsek ini sengaja mencegat di sini untuk mencari tahu koordinat kosnya.
"Enggak, Kak... aku.." Via terlihat panik.
Aku langsung memotong ucapannya tanpa ragu.
"Aku mau ikut ke kosannya, bantuin beres-beres kamarnya. Kau mau ikut sekalian angkat-angkat kardus?" kataku menatap mata Richard tanpa berkedip. Suaraku datar, mengindikasikan dominasi teritorial yang sangat jelas.
"Mas Daffa..." Via menatapku dengan wajah panik yang konyol.
Senyum Richard sedikit memudar. Ada rahang yang mengeras di balik wajah tampannya, tapi dengan cepat ia menutupi kekecewaan egonya.
"Oke, baiklah... lain kali aja, Via. Hati-hati di jalan," kata Richard, berbalik dan berjalan keluar lobi. Ia mundur, bukan karena takut, tapi karena predator cerdas tahu kapan harus menunggu mangsanya sendirian.
"Mas Daffa..." panggil Via saat kami sudah berjalan menyusuri trotoar menuju belakang gedung.
"Ya?"
"Kak Richard itu kenapa sih? Tahu-tahu deketin aku terus... tadi siang juga maksa minta nomorku."
Langkahku terhenti sesaat. "Kamu kasih?"
"Ya... gimana lagi, Mas? Dia bilang karena sama-sama anak marketing, dia butuh untuk sharing data klien. Aku kan mantan anak marketing, Mas. Nggak enak nolaknya," keluh Via.
Brengsek. Trik murahan. Benar dugaanku, Richard mulai menenun jaringnya.
"Gak apa-apa. Gak usah terlalu dipikirkan," jawabku kembali melangkah.
Kami masuk ke sebuah gang selebar dua mobil di belakang kompleks perkantoran. Lingkungannya sangat asri, jalannya di-paving rapi, banyak pohon rindang, jauh dari kebisingan jalan raya raya. Ini perumahan elit.
Kami berhenti di depan sebuah bangunan tinggi berpagar hitam elegan. Ini kosan khusus putri. Gila... kos-kosan macam apa ini?
Aku mengekor Via masuk ke dalam gedung. Begitu pintu lobi kos dibuka, indra penciumanku diserbu oleh aroma diffuser lavender bercampur vanila yang sangat mewah. Lantainya pualam bersih. Berbeda 180 derajat dengan kos-kosanku yang kalau buka pintu langsung disambut aroma kaus kaki basah, asap rokok, dan bau lumut dari kamar mandi.
Tampak beberapa kardus besar sudah menumpuk di depan pintu kamar Via. Ia membuka kunci kamarnya, mendorong pintu ke dalam, dan menyalakan lampu.
Astagah. Mataku sedikit melebar. Kamar ini luar biasa luas. Di tengahnya bertengger kasur spring bed tebal bermerek, pendingin ruangan sentral, kamar mandi dalam berdinding kaca frosted lengkap dengan shower air panas, kulkas satu pintu, microwave, Smart TV layar datar menempel di dinding, dan lemari pakaian empat pintu yang menjulang.
Biaya sewa sebulan di sini pasti bisa buat bayar kontrakan setahun di kampung halamanku. Dan pertanyaan terbesarku kembali muncul: Gaji 'junior' ini sebenarnya berapa miliar?!
Kosanku? Cat tembok hijau lumutnya sudah mengelupas parah, kipas angin butut di dinding suaranya mendengung seperti helikopter tempur yang mau jatuh, dan kasur busanya sangat keras hingga tulang rusukku rasanya menempel di aspal setiap kali tidur telentang.
"Ini... kita mulai dari mana, Mas?" tanyanya menyadarkanku dari kekaguman yang menyedihkan ini.
"Umm... mungkin kita masukin dulu kardus-kardus yang di depan ini," kataku.