Keesokan harinya, Via sudah bisa mengerjakan tugasnya sendiri, akhirnya aku tak perlu lagi mengajarinya. Via mulai bercengkrama ringan dengan rekan-rekan sedivisi.
Saat jam makan siang, aku sempat melihat Richard akan masuk ke dalam ruang divisi akunting. Namun, melihat aku duduk di sebelah Via sambil mengunyah bekal makan siangku dengan tatapan datar, pria itu mengurungkan niatnya dan mundur perlahan.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan hingga jam makan siang usai. Tiba-tiba, Pak Brata, bos kami yang perutnya selalu menantang kancing kemeja itu, muncul dengan suara lantangnya.
"Via, kamu hari ini tugas keluar ya sama anak sales dari divisi marketing," kata Pak Brata.
Deg. Kalkulasi di kepalaku langsung berputar cepat. Ini pasti arahan Richard. Sebagai anak emas perusahaan yang mendatangkan miliaran rupiah, permintaannya nyaris mutlak di mata manajemen.
"Ba.. baik, Pak," jawab Via gugup.
"Tunggu dulu, Pak," aku refleks berdiri dari kursiku. Roda kursiku berdecit keras.
"Via masih dalam pengawasan saya. Dia masih training, sebaiknya jangan bawa dia sekarang, Pak," kataku tegas.
"Hah?? Tumben kamu nahan dia? Kemarin kamu nolak mati-matian ngajarin dia?" tanya Pak Brata dengan kening berkerut.
"Gak apa-apa, Pak. Saya lihat dia belum mahir untuk input data pajak, jadi saya harus mengawasi pekerjaannya dulu agar tidak ada retur," kataku mencari alasan paling logis.