INERSIA

cahyo laras
Chapter #7

Ketakutan Itu Terjadi

Hari demi hari berlalu. Polanya selalu sama. Setiap menjelang siang, Pak Brata akan datang membawa "titah", lalu Via akan keluar bersama Richard dan kembali di sore hari dengan wajah yang semakin kehilangan cahaya.

Sampai suatu hari, aroma parfum floral yang tajam menembus indra penciumanku. Desi tiba-tiba mendatangi kubikelku. Saat itu, Via sedang keluar (lagi) dengan Richard.

"Daf..." panggil Desi.

"Hmm?" balasku, mataku tetap terkunci ke arah deretan angka di monitor.

"Pacarmu masih sama si Richard?"

"Iya.. beberapa hari in.. eeh? Pacar?" Jariku berhenti mengetik. Aku menoleh ke arah Desi dengan dahi berkerut.

"Iya, pacarmu.. Via..." Desi tersenyum miring, menyandarkan pinggulnya di partisi kubikelku.

"Dia itu juniorku, Des. Ga ada kontrak asmara di antara kami," jawabku defensif. Walaupun, sialnya, aku harus mengakui di dalam hati... belakangan ini dadaku kadang berdebar aneh melihat senyumnya. Senyum yang entah kenapa mulai pudar sejak dia rutin pergi dengan si brengsek Richard.

"Entahlah apa pun statusnya, labrak si Richard, Daf. Bahaya kalau Via terus-terusan sama dia. Aku ini bekas korbannya Richard," kata Desi. Nada suaranya merendah, kehilangan nada jenakanya.

Beda dong, Des, batinku merespons. Via keluar bukan atas keinginannya sendiri. Kamu keluar sama Richard dulu karena kamu kemakan bujuk rayunya dan janji-janji manisnya. "Ya... aku bisa apa? Perintah si Botak itu mutlak. Aku ga punya wewenang buat nahan," balasku realistis.

"Aku cuma memperingatkanmu, Daf. Jangan sampai kamu nyesel karena ga ngapa-ngapain. Minimal kamu tunjukin taringmulah, lawan si Richard itu," kata Desi tajam, menatapku lurus ke mata sebelum akhirnya berbalik pergi.

Lihat selengkapnya