INERSIA

cahyo laras
Chapter #8

Kamu Itu Tanggung Jawabku

Jam pulang berbunyi. Aku dan Via berjalan bersisian menuju lobi bawah. Udara dingin AC gedung terasa membekukan keringat di pelipisku.

Baru saja kami menginjakkan kaki di lobi, pemandangan menyebalkan menyambut kami. Richard sedang berdiri santai, mengobrol dan tertawa bersama beberapa rekan sales-nya. Begitu mata pria itu menangkap kehadiran kami, seringai tipis muncul di bibirnya.

Via refleks mundur satu langkah, bersembunyi di balik punggungku. Tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung kemeja belakangku dengan erat. Tubuhnya gemetar.

Aku berhenti melangkah. Kupasang badan, menutupi tubuh Via sepenuhnya dari pandangan predator itu. Kutatap mata Richard dengan tatapan paling kosong, tajam, dan mematikan yang kumiliki. Tidak berkedip. Menusuk tepat ke ulu hatinya.

Richard yang sadar sedang ditatap, berjalan mendekat dengan gaya santai.

"Bro, Bro... jangan galak-galak gitu matanya. Aku ga ngapa-ngapain kok," kekeh Richard, mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah. Bau parfum mahalnya langsung membuatku muak.

Aku hanya diam, tak merespons sepatah kata pun. Berdiri tegak laksana dinding beton, memberi batas teritori yang sangat jelas: Maju selangkah lagi, kau berurusan denganku.

Karena tak mendapat respons dariku, Richard memiringkan kepalanya, menatap Via yang bersembunyi di belakangku.

"Via, besok kita jalan lagi ya..." kata Richard dengan nada menggoda yang menjijikkan.

Via membuang muka, mencengkeram kemejaku makin kuat untuk menahan tangis.

"Via, kita lewat jalan lain," kataku memecah keheningan. Aku memutar tubuhku, setengah merangkul bahu Via (hanya sebatas menjaga agar dia tidak tertinggal), lalu menuntunnya berjalan berbelok menuju pintu akses tangga darurat yang mengarah ke basement. Aku harus melakukan rencanaku sekarang.

Aku dan Via menuruni tangga beton yang lembap dan remang-remang hingga sampai di area parkir basement B2. Suara exhaust fan raksasa berdengung di atas kepala kami. Mataku memindai area parkir.

Ketemu. Motor Ducati merah milik Richard terparkir congkak di bawah lampu neon.

"Tunggu di sini sebentar, tolong awasi kalau ada security yang lewat," instruksiku pada Via.

Aku berjalan cepat mendekati motor sport mahal itu. Tanganku merogoh saku ransel, mengeluarkan obeng pipih kecil, aku selalu membawa beberapa kunci dan obeng kemana-mana jaga-jaga kalau motorku mogok, maklum motorku motor zaman awal reformasi. Aku berjongkok di sisi kiri motor.

"Mas, lagi ngapain sih?" tanya Via dari jarak tiga meter, wajahnya panik berbisik. "Itu kan motor Kak Richard!"

"Diam dan awasi saja," balasku.

Dengan sangat hati-hati, aku mencongkel panel samping pelindung fairing bawah. Berkat hobi masa remaja sering ikut balapan liar, aku hafal anatomi kelistrikan motor apapun termasuk motor Eropa. Tanganku meraba ke arah kotak sekring utama.

Ketemu. Relay Fuel Pump ECU. Sebuah kotak hitam kecil berbentuk kubus berukuran tak lebih dari ruas jempol.

Ini bukan busi atau aki yang bisa dibeli di bengkel pinggir jalan. Ini adalah komponen elektronik khusus dari pabrikan Italia. Jika bagian ini dicabut, sistem injeksi tidak akan menyemprotkan bensin. Motor hanya akan mengeluarkan bunyi 'klik' saat di-stater, tapi mesinnya dijamin mati total. Dan yang paling penting: barang ini indent, butuh waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu untuk dipesan dari dealer resmi.

Ctek. Aku mencabut relay hitam itu, memasukkannya ke dalam saku celanaku, lalu menutup kembali panel fairing dengan rapi seolah tak pernah disentuh. Semuanya terjadi kurang dari dua menit.

Aku berdiri, membersihkan debu di telapak tanganku, lalu berjalan kembali ke arah Via yang menatapku dengan mulut setengah terbuka.

Lihat selengkapnya