Keesokan paginya, langit Jakarta masih berwarna biru kelabu saat aku memarkirkan motor bututku. Jam di ponselku menunjukkan pukul 05.30. Udara pagi masih terasa dingin, namun telapak tanganku sedikit berkeringat.
Di saku jaketku, terselip sebuah Surat Perintah Kerja palsu. Secara administratif, surat ini adalah sebuah lelucon. Kop suratnya kubuat menyerupai format resmi PT Bina Ekosistem Global Outsourcing (BEGO), lengkap dengan tanda tangan digital manajer General Affair yang kuambil dari scan dokumen, plus sebuah barcode palsu yang jika di-scan hanya akan mengarah ke halaman error intranet perusahaan.
Perusahaan penyewa gedung sebenarnya tidak punya wewenang langsung atas vendor keamanan, tapi aku bertaruh pada satu hal: hierarki dan kebodohan struktural. Petugas keamanan sif malam yang kelelahan tidak akan memverifikasi dokumen di jam rawan tidur ini, dan juga komadan keamanan datang di jam kerja, tidak akan mungkin mengecek surat ini.
Aku melangkah masuk ke ruang kontrol CCTV di basement. Udara di dalam ruangan itu terasa sedingin kulkas daging, dipenuhi dengungan konstan dari deretan rak server dan DVR. Bau kopi basi dan asap rokok yang menempel di jaket petugas langsung menyengat hidungku.
"Permisi, Pak..." sapaku dengan nada suara datar nan otoritatif.
Dua petugas yang sedang bersandar di kursi dengan mata setengah terpejam terlonjak kaget. "Ya? Gimana, Mas?"
"Saya dari IT internal. Mau ambil hardisk DVR kloter tiga untuk keperluan audit tahunan PT Bina Ekosistem Global Outsourcing (BEGO). Ini surat perintahnya. Hardisk lamanya saya tarik, ini saya bawa hardisk penggantinya yang baru," kataku dengan artikulasi cepat dan meyakinkan, menyodorkan kertas itu bersama sebuah hardisk SATA 2TB kosong yang kucuri dari gudang peralatan divisi neraka. Di era penyimpanan SSD Cloud, hardisk fisik sekecil ini tidak akan pernah masuk radar audit inventaris.
Petugas itu menguap lebar, melirik sekilas ke arah stempel merah terang di kertas, lalu mengangguk pasrah. "Oh, audit ya. Silakan, Mas. Laporannya ditaruh di meja aja."
Bingo.
Aku menekan tombol shut down pada unit DVR target. Fan pendinginnya mati perlahan. Dengan gerakan cekatan yang sudah kulatih ratusan kali di kepalaku, aku mencabut kabel konektor, menarik hardisk yang berisi rekaman sebulan terakhir, lalu menukarnya dengan yang kosong. Semua selesai dalam waktu kurang dari satu menit.
"Terima kasih, Pak. Mari," pamitku santai, padahal jantungku berdetak secepat mesin jahit.
Sesampainya di kubikelku yang masih sepi, aku langsung menyalakan komputer milik Via. Beruntungnya Perusahaan ini memberikan PC spesifikasi dewa, lengkap dengan kartu grafis RTX, ke tangan Via (walaupun aku masih janggal PC Dewa ini sampai masuk ruang divisi juru ketik dokumen ini). Proses rendering dan scrubbing video rekaman CCTV yang biasanya membuat komputerku hang sampai kiamat, kini berjalan semulus mentega.
Aku menyambungkan hardisk itu menggunakan kabel konverter SATA ke USB. Layar monitor berpendar menyilaukan saat aku memutar video playback berkecepatan 8x. Fokusku hanya satu: area divisi marketing.
Mataku dengan cepat memetakan tata letak ruangan mereka. Kubikel Richard berada di sudut paling strategis, membelakangi dinding kaca besar yang menghadap langsung ke jalan protokol. Posisi yang sempurna untuk bos arogan yang suka membuat Instagram Story dengan latar pemandangan kota sambil ngopi. Aku mencatat pola hariannya: Richard datang pukul 07.45, menyalakan PC, menaruh ponselnya di meja, lalu berjalan ke pantri pada pukul 07.50 untuk menggiling biji kopi premiumnya sendiri.
Otakku menyusun algoritma sabotase. Sempurna.
Esok paginya, rencana dimulai.
Pukul 06.00. Menggunakan jaringan VPN dan server proxy gratisan, aku mengirimkan sebuah email spoofing (email palsu) ke kepala tim sales dan seluruh staf marketing.
Subject: [URGENT] AUDIT INVESTIGASI BPK - TENDER PENGADAAN 2025 - HARAP STANDBY.
Tentu saja ini omong kosong. Tapi di dunia korporat yang kotor, kata "Audit BPK" dan "Investigasi" adalah mantra sihir yang memicu kepanikan massal. Tim sales yang biasanya baru masuk jam sembilan pasti akan datang lebih pagi, menyalakan PC mereka secara serentak dalam keadaan panik, dan membiarkan layar mereka tidak ter-lock karena sibuk mencari-cari dokumen fisik di laci.
Pukul 06.30. Aku menyelinap ke pantri. Richard tidak pernah sudi meminum kopi saset seperti kami kaum UMR. Dia menyeduh kopinya menggunakan dripper V60. Dengan cepat, aku menukar kertas saring kopi miliknya dengan kertas saring murahan yang memiliki pori-pori jauh lebih rapat. Jika dia menyeduh kopi nanti, air panasnya akan menetes dengan sangat... sangat... lambat. Mengulur waktu ekstra yang berharga.
Pukul 06.45. Aku menghampiri troli perlengkapan Office Boy (OB) di lorong belakang. Aku 'mengambil' seragam OB berwarna biru muda yang baunya campuran antara deterjen murah dan keringat kering, mengenakannya menutupi kemejaku. Aku memakai topi baseball yang kuturunkan hingga menutupi alis, memasang masker medis, dan mengunyah segenggam permen karet karet yang kusimpan di kedua sisi pipi bagian dalam. Rahangku seketika terlihat lebih persegi dan bengkak. Penyamaran biometrik murah meriah.
Agar OB asli yang bertugas di area marketing terlambat datang, aku menyabotase trolinya: menyembunyikan botol cairan pembersih lantai, dan menempelkan sticky notes palsu beserta lembaran uang seratus ribu di meja pantri dengan pesan: "Tolong belikan bubur ayam di sekitar minimarket. Kacang dikit, ayam pisah, kuah banyakan, kerupuknya sebagian diremes, sebgaian dibungkus. Bu Herma Divisi Marketing" Sang OB pasti akan langsung berlari keluar gedung demi menjalankan tugas, minimarket di sekitar gedung ada banyak, dan hanya yang terjauh yang ada tukang bubur ayamnya, saat kembali dia akan bingung, karena tidak ada yang namanya Herma di divisi marketing.
Pukul 07.45. Richard tiba. Dia melangkah masuk dengan setelan jas mahalnya, langsung menuju kubikel, menyalakan PC, dan menancapkan kabel charger ke iPhone-nya.
Ini saatnya.
Aku masuk ke area marketing sambil menyalakan vacuum cleaner berdaya tinggi. Suaranya menderu berisik, menyedot debu karpet. Sambil berpura-pura membersihkan lantai, aku mengarahkan ujung pipa vacuum tepat ke kolong meja Richard. Gerakanku sengaja kubuat sedikit kasar agar corong vacuum menabrak kaki mejanya. Debu-debu karpet beterbangan di sekitarnya.