Jam pulang berbunyi.
Aku berjalan menyusuri tangga darurat menuju basement B2. Udara pengap khas ruang bawah tanah yang bercampur dengan aroma bensin dan debu langsung menyapaku. Di kejauhan, di bawah lampu neon yang berkedip, tampak Richard sedang berjongkok. Jas mahalnya sudah dilepas, kemejanya basah oleh keringat. Dia sedang sibuk, dan frustrasi, mengutak-atik mesin motor Ducati-nya yang relay-nya sudah kusimpan aman di laci mejaku.
Mendengar derap langkah sepatuku, Richard menoleh. Wajahnya yang biasa tampan kini berlumur peluh dan sedikit oli.
"Hei, Bro? Mana Via?" sapa Richard, berusaha menyembunyikan kekesalannya pada mesin motor dengan seringai arogan.
"Dia tidak masuk kerja dua hari ini," jawabku datar. Aku berhenti melangkah, menjaga jarak aman sekitar dua meter darinya.
Richard terkekeh pelan, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Selow, Bro, ga usah pasang wajah seram gitu. Lu bukan pacarnya Via, kan?"
Seram? Wajahku sejak lahir memang begini. Datar dan minim ekspresi.
"Bukan. Dia juniorku," jawabku dingin.
"Santai... junior doang ini."
"Richard."
Suaraku menggema pelan di dinding basement beton itu. Richard menghentikan gerakannya. Ia berdiri tegak.
"Ya, Bro?"