Hari demi hari pun berlalu dengan ritme yang kembali normal. Hubungan Via dengan rekan kerja sedivisi makin menghangat. Aroma parfum floral khas ibu-ibu dan tawa renyah kini sering terdengar di sekitar meja kami. Via mulai sering diajak makan siang atau ngemil sore oleh cewek-cewek di sini (baca: tante-tante).
Secara performa, Via juga sangat rajin. Pekerjaan divisi yang biasanya menumpuk kini lebih cepat selesai. Dia sangat gesit belajar dan beradaptasi.
Ya maklum sih, PC-nya spek dewa. Mengklik ikon MS Office, Excel, atau aplikasi pajak hanya butuh hitungan milidetik untuk terbuka mulus tanpa lag. Prosesornya bekerja dalam keheningan yang elegan. Sedangkan aku? Setiap kali membuka spreadsheet yang ukurannya lebih dari 10 MB, kipas CPU-ku akan meraung seperti mesin diesel traktor, dan aku harus memaki-maki layarnya dulu sambil menunggu loading kursor yang berputar tak berkesudahan. Ketimpangan sosial dalam bentuk perangkat keras.
"Mas, gimana kalau malam ini kita makan di luar?" tanya Via tiba-tiba, memecah konsentrasiku di suatu sore menjelang jam pulang.
Hah? Makan malam? Hanya berdua? Dengan cewek dengan spek visual seperti dia?
Otakku langsung memproyeksikan sebuah simulasi. Andai aku mengiyakan, lalu ada yang diam-diam memotret kami sedang makan berdua dan mengunggahnya ke medsos, aku pasti langsung dituduh pakai ilmu pelet lintrik atau gendam. Untuk manusia sepertiku, jalan berdua dengan Via sama saja dengan keajaiban dunia
"Enggak ah..." tolakku cepat, mengalihkan pandangan. "Gajiku bulan ini udah ada pos-posnya sendiri. Ketat, ga bisa diganggu gugat. Aku ga mau mengorbankan jatah beli satu kilo beras demi makan enak satu malam."
"Aku yang bayarin deh, Mas," tawar Via, tersenyum lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena Mas Daffa udah ngajarin aku selama ini."
Deg.
Jiwa miskin dan rasionalitasku yang ga tahu malu langsung berteriak kegirangan mengalahkan harga diri lelakiku.
"Memangnya mau makan di mana?" tanyaku, masih berusaha menjaga nada suaraku agar tak terdengar terlalu antusias.
"Di cafe deket-deket sini aja, Mas. Kita makan sambil ngopi-ngopi santai gitu," jawab Via antusias.
Persetan dengan ego maskulinitas. Di tengah kerasnya inflasi ibu kota, gratis tetaplah gratis. "Oke. Baiklah..." jawabku pasrah.
Sore itu merayap menjadi malam. Karena ada laporan rekonsiliasi yang harus kusesuaikan, aku terpaksa lembur. Via dengan setia menungguku di kubikelnya.
Dari balik partisiku, aku bisa mendengar samar-samar suara dari headset putih yang menempel di telinganya. Dia sedang asyik menonton Netflix. Cahaya monitor berpendar lembut menerangi wajahnya. Hatiku rasanya miris bercampur iri melihat PC gaming dengan VGA RTX spek dewa itu hanya dipakai untuk ngetik Word dan nonton drakor. Penghinaan terhadap teknologi!
Kalau PC itu milikku, sudah kupakai untuk main game Triple A terbaru dengan grafik ultra sampai pagi. Bahkan kalau perlu aku menginap dan membawa selimut ke kantor. Kapan ya aku punya PC gaming seperti itu? Kalau dihitung dengan gajiku sekarang, aku butuh waktu setahun penuh untuk menabung, dan selama setahun itu aku harus bertahan hidup dengan cara berfotosintesis, hanya mengandalkan air dan sinar matahari.
Akhirnya, deretan angka di layarku balance. Selesai juga.
"Via..." panggilku.