Otakku yang biasanya mampu membedah laporan keuangan ratusan halaman dalam hitungan menit, kini berputar keras mencoba merangkai puzzle identitas pria di seberang meja ini. Tapi... sudahlah. Aku memejamkan mata sesaat, meredam rasa curigaku, aku tidak mau memikirkan ini terlalu dalam. Konspirasi kalangan atas bukan ranahku. Aku hanyalah sekadar pot tanaman di sudut ruang akunting yang ingin hidup tenang dan disiram teratur.
Yang penting, aku sudah menyelesaikan tanggung jawabku sebagai senior yang melindungi juniornya. Titik.
Tapi, saat aku membuka mata.
Aku menyadari sebuah anomali. Cara Via tertawa saat Theo menceritakan sebuah lelucon receh dari masa lalu mereka. Suara tawanya terdengar sangat lepas, renyah, dan berderai. Bahunya yang biasa menegang saat di kantor, kini merosot rileks. Tubuhnya condong mengikis jarak dengan Theo.
Dan senyumnya... senyum itu berbeda. Itu bukan senyum sopan bercampur segan yang sering dia tunjukkan pada rekan kerja di divisi neraka kami. Itu juga bukan senyum manis penuh rasa terima kasih, sekaligus rasa bersalah, yang sering dia berikan padaku.
Ini adalah senyum seseorang yang... familier. Nyaman. Intimate.
Sial. Apakah mereka...?
Aku buru-buru memutus rantai hipotesis itu sebelum kesimpulannya terbentuk di kepalaku. Bukan urusanku. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Hujan gerimis mulai turun, meninggalkan jejak air yang meluncur zig-zag di permukaan kaca.
Namun, meskipun aku terus merapal mantra 'bukan urusanku' di dalam hati, entah kenapa ada sebuah reaksi fisik yang aneh terjadi di dalam rongga dadaku. Rasanya seperti ada tekanan udara tak kasat mata yang mendadak turun drastis. Napasku menjadi sedikit lebih pendek. Ada rasa ngilu yang asing, berdenyut pelan di balik tulang rusukku.
Pasti asam lambungku naik, batinku berdalih cepat. Ya, ini pasti karena aku belum makan nasi dan malah dijejali roti gandum penuh mentega ini. Aku terus membangun tembok penyangkalan. Ini murni masalah biologis, bukan emosional.
Dengan gerakan kaku, aku mencomot sisa roti mahal di depanku. Tekstur yang tadi terasa lembut dan flaky kini berubah layaknya mengunyah kertas kardus basah di mulutku. Rasanya hambar. Aku menelannya paksa, lalu meminum habis kopi susuku.
Aku meraih jaket parasutku yang tersampir di sandaran kursi, lalu bangkit berdiri. Gesekan kaki kursi dengan lantai kayu cafe berderit cukup keras.