Keesokan paginya, aku duduk di kubikelku seperti biasa. Rutinitas pagiku selalu sama: kubuka dengan secangkir kopi saset panas, dan ditutup dengan gerutuan panjang karena melihat tumpukan berkas yang tak pernah habis. Sumpah, berkas-berkas laknat ini seolah-olah berkembang biak dan membelah diri ketika ditinggal semalaman.
Tapi pagi ini berbeda. Aku duduk, menyeruput kopi, dan melamun menatap layar. Rasa sesak sialan dari cafe semalam masih menempel di dinding dadaku.
Beberapa menit kemudian, Via datang. Ia menyapa ramah siapa pun yang dilewatinya. Aroma sampo lidah buayanya tercium saat ia mendekati mejanya. Gadis ini memang mudah berbaur, ia sudah sangat akrab dengan orang-orang di sini.
"Pagi, Maass..." sapanya riang.
"Pagi," jawabku lemas, enggan menatapnya.
"Kok lemes gitu? Sakit?" tanya Via, suaranya terdengar khawatir.
"Gak. Gak apa-apa," jawabku pendek.
Via menyalakan PC-nya, lalu mempersiapkan berkas-berkas yang akan dia kerjakan. Pagi itu, aktivitas divisi akunting dimulai dengan sangat normal. Tuts keyboard berderik, suara mesin printer berdengung.
Namun, kedamaian itu hancur saat langkah kaki jahanam yang sangat kukenal mendekat. Sepatu kulit pantofel yang haknya diseret itu hanya milik satu orang.
"Via," suara berat Pak Botak Brata memecah keheningan. "Ada meeting terkait pengadaan barang untuk sebuah Bank BUMN. Kamu diminta untuk hadir di meeting itu sekarang."
Via menengok, matanya membulat. "Hah? Saya, Pak?"
"Iya. Entahlah, itu permintaan langsung dari atasan direksi. Spesifik kamu yang harus datang ke meeting itu. Oh iya, ajak Daffa juga," titah Pak Brata.
Heh? Aku yang tadinya pura-pura sibuk langsung mendongak. Aku ikutan?
"Lho, kok saya juga ikutan, Pak?" tanyaku.
"Entahlah, mungkin mereka butuh orang akunting buat nyatat. Udah, buruan."
Otakku langsung memprotes. Ini bukan sekadar masalah menemani Via. Pertanyaan krusialnya: Apakah tugas tambahan dari luar divisi ini akan menambah nominal di slip gajiku? Jawabannya tentu tidak. Ini murni penambahan beban kerja.
"Tapi kerjaan saya di meja masih numpuk banyak, Pak," jawabku mencoba menghindar.
"Kan bisa dikerjain nanti kalau udah selesai meeting! Tinggal lembur," balas Pak Brata mutlak.
Brengsek. Bukannya dikurangi, malah tetap disuruh lembur. Tapi sistem rantai makanan korporat ini memaksaku tunduk. Perintah bos adalah titah dewa.
"Baik, Pak."
"Langsung naik ke ruang meeting VIP di lantai delapan saja ya. Itu ruangan khusus divisi Pengadaan Barang dan Jasa. Temui Bapak Helmi di sana," instruksi Pak Brata sebelum berbalik pergi.
Aku dan Via bersiap. Aku hanya membawa buku catatan kecil bersampul hitam dan sebuah pulpen. Via membawa tas selempangnya.
Kami berjalan keluar dari ruang divisi akunting menuju lift. Ini pertama kalinya aku masuk ke teritorial divisi lain. Dan setahuku dari gosip pantri, Divisi Pengadaan adalah sarang para penyamun elite. Uang perusahaan bocor paling banyak dari lantai delapan ini.
Tiba-tiba menunjuk orang akunting untuk ikut rapat pengadaan saja sudah aneh, apalagi menunjuk Via yang baru dua bulan di pusat sebagai perwakilan. Ini anomali berlapis.
Kami masuk ke dalam lift, menekan angka delapan. Hawa dingin lift terasa membekukan tengkukku. Sesampainya di lantai delapan, kami melangkah menyusuri lorong berkarpet tebal dan masuk ke Ruang Meeting VIP.
Ruangan itu sangat mewah. Meja kayunya panjang mengkilap, kursinya dilapisi kulit asli, dan jendelanya menyajikan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Di ujung meja, sudah menunggu dua orang pria.
Satu pria paruh baya, usianya sekitar lima puluhan, perutnya sedikit membuncit dibalut kemeja batik sutra mahal. Dia pasti Pak Helmi, sang Direktur Pengadaan. Di depannya duduk seorang pria muda yang rapi dengan kemeja biru muda berlengan panjang yang digulung rapi.
Tunggu dulu. Otakku langsung mencerna situasi. Meeting macam apa yang hanya dihadiri segelintir orang ini? Apalagi ini proyek pengadaan untuk Bank BUMN. Mana tim legal? Mana tim Procurement Klien? Kenapa suasananya seperti arisan tertutup?
Kami berempat saling menyalami dan memperkenalkan diri.
"Helmi." Tangannya terasa licin.
"Via."
"Daffa."
"Bima." Tangannya dingin.
Setelah basa-basi singkat, kami duduk. Aku mengambil posisi di sebelah Via, membuka buku catatanku, bersiap mencatat.
"Jadi begini, Via," Pak Helmi membuka suara, bersandar di kursinya. "Saya selaku Direktur Pengadaan baru saja deal proyek besar dengan Bapak Bima ini. Kami sudah sepakat untuk pengadaan lima ratus unit laptop untuk Bank BUMN tempat Pak Bima bekerja."
Gila. Lima ratus laptop? Bank BUMN? Jantungku berdetak lebih cepat. Angka sebesar itu tidak mungkin diurus di ruang tertutup tanpa tim lengkap. Ga salah mengundang seorang anak baru dan kroco akunting ke sini? Deal hanya berdua? Di mana surat penunjukannya?