Jam menunjukkan pukul 11.45 WIB. Waktunya istirahat makan siang.
Sebagian besar karyawan sudah berhamburan keluar gedung mencari pecel lele atau meramaikan kantin. Namun, bagiku, ini adalah jam tayang utama (prime time). Dari pantauan kalender intranet perusahaan yang sedikit kubuka aksesnya, Pak Helmi memiliki jadwal kosong dari jam 12.00 hingga 14.00, ditandai sebagai "Makan Siang Pribadi".
Namun, orang seperti Pak Helmi tidak pernah makan siang sendirian jika tidak ada 'uang' di atas meja. Instingku mengatakan, dia akan bertemu dengan pihak Vendor untuk membahas bagi hasil proyek Bank BUMN ini. Dan tempat paling aman untuk rapat gelap di gedung ini? Ruang Rapat VIP Utama di lantai 8. Kedap suara, bebas dari pantauan CCTV internal (karena bos-bos benci diawasi), dan selalu dikunci dari dalam.
Aku harus menanam 'telinga' di sana.
Aku membuka laci paling bawah kubikelku. Mengeluarkan sebuah ponsel Android usang. Ponsel ini tidak ada SIM Card-nya, tapi masih bisa terhubung ke Wi-Fi gedung. Aku membuka aplikasi Discord, masuk ke Voice Channel rahasia yang kubuat sendiri, lalu menyalakan mode speaker dan mematikan notifikasi. Ponsel butut ini sekarang resmi menjadi penyadap nirkabel (bug). Aku menempelkan double tape industri berwarna hitam di bagian punggungnya.
Persiapan selesai.
Aku mengambil tiga buah ordner (map tebal) berisi laporan pajak tahunan yang beratnya nyaris lima kilogram. Dokumen paling membosankan, paling tebal, dan paling dihindari oleh semua direksi di muka bumi.
Aku berjalan masuk ke dalam lift, menekan lantai 8. Hawa dingin lift tidak mampu menahan keringat tipis yang mulai merembes di pelipisku.
Ting. Pintu terbuka.
Lorong lantai 8 sepi. Kulihat pintu Ruang Rapat VIP sedikit terbuka karena ada OB yang baru saja selesai membersihkan ruangan. Aku melangkah masuk dengan santai, mengangguk pada OB yang sedang mendorong troli keluar. "Nganter berkas Pak Helmi, Bang," kataku datar. OB itu hanya mengacungkan jempol tanpa peduli.
Kini aku sendirian di dalam Ruang Rapat VIP.
Aroma pengharum ruangan berbau pinus bercampur dengan aroma tajam dari kursi kulit asli langsung menyerbu hidungku. Ruangan ini sangat dingin, AC sentralnya menderu halus. Di tengah ruangan, terdapat meja mahoni oval berukuran raksasa yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal.
Aku berjalan cepat ke ujung meja, kursi kebesaran tempat Pak Helmi biasa duduk. Aku berlutut, meraba bagian bawah meja mahoni yang gelap dan bertekstur kasar itu.
Sret. Aku melepaskan lapisan double tape, lalu menekan punggung ponsel usangku kuat-kuat ke dasar kayu meja. Kutahan selama lima detik. Kuat. Benda itu kini menyatu dengan kegelapan kolong meja.
Namun, tepat saat tanganku menarik diri...
Klek. Ceklek.
Suara kenop pintu ditekan dari luar. Jantungku serasa berhenti berdetak. Ada suara tawa berat pria dari lorong. Itu suara Pak Helmi! Dia datang lima belas menit lebih awal, dan dia tidak sendirian!