Aku kembali ke kubikelku dengan langkah setenang air danau. Di layar monitorku, kursor masih berkedip monoton di atas lembar kerja Excel yang belum kusentuh sejak pagi. Aku meraih cangkir kopiku. Kopi murah itu sudah dingin, menyisakan lapisan tipis minyak di permukaannya. Kusesap sedikit. Rasanya pahit dan asam, sangat pas dengan suasana hatiku saat ini.
Aku melirik ke arah meja Via. Gadis itu sedang mengetik dengan antusias, sesekali merapikan poninya, sama sekali tak menyadari bahwa namanya baru saja dijadikan tiket VIP ke neraka oleh direktur pengadaan.
Baiklah. Mari kita bekerja.
Aku memutar leherku hingga berbunyi 'krek', lalu meletakkan jari-jariku di atas tuts keyboard mekanikku. Rencana pengeboman struktural ini membutuhkan senjata yang sangat spesifik: sebuah mesin fotocopy/printer raksasa merek Fuji Xerox yang terletak di lorong utama lantai kami.
Pak Helmi adalah fosil korporat. Dia fobia dengan layar digital dan tanda tangan elektronik. Baginya, sebuah kontrak baru sah jika dicetak di atas ratusan lembar kertas HVS tebal, dijilid rapi, dan ditandatangani basah menggunakan pulpen mahal kesayangannya. Dan karena dia bos besar, yang bertugas mengetik dan mencetak tumpukan kertas itu adalah sekretarisnya, Mbak Nita.
Aku membuka jendela Command Prompt. Layar hitam dengan teks putih seketika mendominasi. Aku mengetikkan deretan angka. ping 192.168.1.50. Itu adalah IP Address default dari mesin printer raksasa di lorong.
Hampir semua teknisi IT perusahaan ini pemalas. Mereka jarang mengganti password administrator bawaan (default) pada mesin-mesin perangkat keras. Aku memasukkan kata sandi admin dan username admin.
Akses Diterima.
Aku tersenyum sinis. Masuk ke dalam sistem jaringan printer sentral perusahaan ternyata lebih mudah daripada membobol Wi-Fi warung kopi.
Dari panel kontrol rahasia itu, aku mengaktifkan fitur Print Job Interception. Setiap kali Mbak Nita mengirim perintah cetak dari komputernya ke mesin ini, sistem akan menahannya selama lima menit di server spooler, membuat salinan digitalnya, dan mengirimkannya ke folder tersembunyi di PC-ku sebelum akhirnya kertas fisiknya keluar.
Kini, aku hanya perlu menjadi laba-laba yang sabar menunggu di tengah jaring.
Pukul 14.30. Ping!
Sebuah notifikasi kecil muncul di pojok kanan bawah layarku. Incoming File: PO_Vendor_Glodok_FINAL_DRAFT.pdf. Ukurannya 5 Megabyte. Total 150 halaman.
Dapat kau. Aku langsung mengunduh file itu dan mengonversinya menjadi dokumen Word. Tanganku bergerak lincah men-scroll puluhan halaman yang isinya hanya tumpukan copy-paste pasal-pasal standar yang membosankan. Halaman demi halaman berisi bahasa hukum kaku yang dirancang murni untuk membuat siapa pun yang membacanya mengantuk dan langsung melompat ke halaman terakhir untuk tanda tangan.