2 Minggu Kemudian
Hari Kamis, pukul sepuluh pagi. Satu hari sebelum jadwal pengiriman 500 unit laptop ke gudang Bank BUMN.
Dokumen maut bernilai empat puluh lima miliar itu sudah aman tertidur di dalam brankas Pak Helmi. Namun, sebuah jebakan bom tidak akan berguna jika tidak ada yang menginjak pelatuknya. Aku butuh seseorang di pihak klien untuk menyalakan sumbu ledakannya. Dan orang itu tidak boleh Bima. Bima adalah bagian dari komplotan, dia pasti akan meloloskan barang rongsokan itu dengan mata tertutup.
Aku harus meminjam tangan atasan Bima.
Sambil mengunyah sepotong gorengan bakwan yang sudah dingin, keras, dan alot (pasti ini sudah digoreng berkali-kali), aku membuka tab penyamaran (Incognito) baru. Jari-jariku menari di atas keyboard, mengetikkan nama Bank BUMN tersebut di kolom pencarian LinkedIn. Aku harus mencari tahu siapa pemegang otoritas tertinggi IT di bank itu. Profiling target dimulai.
Dalam hitungan detik, algoritma pencarian menampilkan sebuah nama: Bapak Ardiansyah. Head of IT Security & Infrastructure.
Aku memperbesar foto profilnya. Pria paruh baya dengan uban di pelipis, berkacamata kotak tebal, dan tatapan mata tajam yang tidak bersahabat. Dari rekam jejak digitalnya, artikel seminar keamanan siber dan komentarnya yang pedas di forum-forum IT, aku bisa menyimpulkan profil psikologisnya.
Pak Ardiansyah adalah seorang idealis. Tekratis kaku. Paranoid terhadap celah keamanan. Dan yang paling penting: dia adalah tipe bos yang membenci ketidakkompetenan dan tidak bisa disuap. Bima pasti menyembunyikan rencana kotor pengadaan ini dari pantauan elang atasannya tersebut.
Sempurna. Karakter paranoid Pak Ardiansyah adalah senjata terkuatku. Aku hanya perlu mengarahkannya ke leher Bima.
Aku membuka sebuah software mailer berbasis web yang terenkripsi dari flashdisk-ku. Ini bukan email biasa. Ini adalah alat spoofing, teknik menyamar yang memungkinkan pengirim memalsukan identitas alamat email ( header ) agar terlihat berasal dari orang lain.
Aku menyingkirkan remah bakwan dari jariku, lalu mengetikkan alamat email pengirim: bima.prasetya@banknusantara.co.id. Ya, aku memalsukan email ini agar seolah-olah dikirim langsung oleh Bima sendiri dari meja kerjanya.
Lalu, ke kolom To, kumasukkan alamat email Pak Ardiansyah.
Kini, waktunya merangkai 'hasutan'. Aku harus merangkai kalimat menggunakan gaya bahasa Bima yang kaku dan menjilat atasan, namun disuntik dengan racun kecemasan yang akan memicu paranoia seorang Kepala Keamanan IT.
Kuketik subjek email dengan huruf kapital untuk memancing urgensi: [URGENT & CONFIDENTIAL] PROTOKOL KEAMANAN INSTALASI 500 UNIT LAPTOP BARU - MITIGASI RANSOMWARE.
Jari-jariku melanjutkan ke isi badan email. Bunyi klik-klak dari keyboard mekanikku terdengar berirama, seiring dengan detak jantungku yang ritmis.
"Yth. Bapak Ardiansyah, Bapak Kepala Divisi IT & Keamanan.
Sesuai dengan arahan Bapak mengenai ketatnya ancaman peretasan dan perangkat keras ilegal (Hardware Trojan) belakangan ini, saya ingin mengajukan inisiatif protokol keamanan tambahan untuk penerimaan 500 unit laptop besok pagi.
Mengingat skala proyek ini sangat krusial, saya menyarankan agar Bapak menginstruksikan tim IT untuk mengaktifkan sistem Whitelist MAC Address & Serial Number Validation pada server utama kita. Pastikan setiap unit yang akan terhubung ke jaringan Bank, Nomor Serinya (SN) HARUS dicek dan terdaftar secara resmi di database pabrikan internasional. > Langkah pencegahan ini untuk memastikan tidak ada satu pun perangkat selundupan, perangkat bekas (refurbished), atau perangkat dengan 'suntikan' ilegal dari pihak vendor yang bisa lolos masuk ke infrastruktur bank kita.
Mohon arahan dan persetujuannya, Pak.
Hormat saya, Bima Prasetya - Procurement Staff"
Aku membaca ulang draf tersebut. Seringai tipis terbentuk di sudut bibirku.
Jika aku mengirim ini sebagai 'Orang Luar', Pak Ardiansyah mungkin akan mengabaikannya sebagai spam. Tapi dengan menggunakan nama Bima, Pak Ardiansyah akan melihat ini sebagai inisiatif brilian dari bawahannya.
Dan apa yang terjadi jika Bima asli dipanggil dan membantah pernah mengirim email ini? Pak Ardiansyah yang paranoid justru akan semakin curiga! Kenapa Bima menolak protokol keamanan? Apakah Bima menyembunyikan sesuatu? Penolakan Bima hanya akan membuat Pak Ardiansyah turun gunung dan mengecek laptop-laptop itu dengan tangan besinya sendiri. Sebuah jebakan logika yang tak memiliki jalan keluar, maju kena mundur kena.
Aku melirik ke sekeliling divisi akunting. Di kubikel sebelahku, Via sedang sibuk menelepon supplier alat tulis kantor, suaranya renyah dan penuh semangat. Ia masih berpikir bahwa besok adalah hari besar pembuktian kariernya.