****
Jumat pagi, pukul 09.30 WIB. Di Lobi Utama Bank Nusantara.
Udara dingin dari AC sentral Bank Nusantara terasa membekukan tengkuk Bima. Kemeja birunya mulai basah oleh keringat dingin yang merembes di area ketiak dan punggung. Di hadapannya, duduk sesosok pria paruh baya berkacamata kotak tebal yang auranya lebih dingin dari suhu ruangan. Bapak Ardiansyah, Kepala Keamanan IT Bank Nusantara.
Di sudut ruangan yang sama, Via duduk manis di sofa tamu. Gadis itu tersenyum sopan, menyesap teh hangat yang disuguhkan office boy bank, sama sekali tidak menyadari ketegangan yang sedang terjadi di meja teknis. Baginya, ini hanyalah rutinitas pengecekan biasa sebelum ia menandatangani Berita Acara.
"Pak Bima, inisiatif email Anda kemarin sangat bagus. Mengingat maraknya ransomware, saya tidak mau ambil risiko," kata Ardiansyah datar, matanya tak lepas dari kardus hitam berlogo mengkilap di atas meja. "Mari kita lihat unit sampel dari vendor Anda."
Tangan Ardiansyah yang cekatan membuka segel kardus yang semalam telah direkatkan kembali secara sempurna oleh Daffa. Ia mengeluarkan laptop Core i9 itu, menyambungkan kabel daya, dan menekan tombol Power.
Bima menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu laptop itu rakitan, tapi Koh Samuel sudah menjamin jailbreak-nya sempurna.
Layar menyala. Logo Windows muncul.
Namun, tepat ketika laptop itu mendeteksi jaringan Wi-Fi internal Bank, layar yang tadinya biru terang mendadak berkedip. Dalam hitungan detik, seluruh layar berubah menjadi merah darah yang menyilaukan. Sebuah kotak peringatan raksasa dengan fon tebal muncul di tengah layar, tidak bisa di-close, tidak bisa diabaikan.
[ SYSTEM HALTED - FATAL ERROR ] UNREGISTERED / ILLEGAL HARDWARE DETECTED. SERIAL NUMBER MISMATCH WITH MOTHERBOARD. DEVICE HAS BEEN QUARANTINED BY NETWORK SECURITY.
Pantulan warna merah itu menyala di kaca mata Pak Ardiansyah. Urat di pelipis pria tua itu langsung menonjol. Ia menggebrak meja hingga cangkir kopinya melompat.
"BIMA!! APA-APAAN INI?!" gelegar suara Ardiansyah, membuat beberapa staf bank di luar ruangan terlonjak kaget. Via yang sedang minum teh nyaris tersedak.
"I... itu... mungkin ada error sistem, Pak! Coba di-restart..." Bima tergagap, wajahnya pucat pasi seperti mayat.
"ERROR SISTEM APANYA?!! Ini Hardware Trojan! Barang rakitan ilegal yang nomor serinya dihapus!" Ardiansyah menunjuk layar merah itu dengan jari telunjuk yang gemetar karena marah. Ia merogoh HT di pinggangnya. "Sekuriti! Blokir akses loading dock! Ada lima ratus unit laptop dari PT BEGO yang mau masuk. Cegat truknya! Jangan biarkan satu pun barang turun, dan panggil polsek terdekat sekarang juga! Kita ada kasus penipuan vendor!"
Mendengar kata 'Polisi', lutut Bima seketika lemas. Dunianya runtuh. Sambil mundur teratur, Bima merogoh ponselnya di saku celana dan berlari ke toilet dengan tangan bergetar hebat.
Sementara itu, di Ruang Rapat VIP Lantai 8, PT BEGO.
Aroma kopi Arabica mahal dan asap tipis cerutu memenuhi ruangan. Pak Helmi dan Koh Samuel sedang duduk bersandar santai di kursi kulit mereka, tertawa renyah merayakan uang lima belas miliar yang beberapa jam lagi akan masuk ke rekening.