[POV VIA]
Ting!
Suara notifikasi dari aplikasi M-Banking memecah konsentrasiku dari layar monitor. Aku meraih ponselku yang tergeletak di samping mouse. Layarnya menyala, menampilkan logo bank dan sederet angka dari notifikasi transfer masuk dengan keterangan: Bonus Project VVIP - PT Nusantara.
Mataku seketika menyipit. Aku mendekatkan layar ponsel ke wajahku hingga nyaris menempel di hidung.
Astagah, Mak... besar sekali!
Aku melihat angka 37 juta. Jari telunjukku refleks menyentuh layar, menghitung jumlah nolnya satu per satu dari belakang. Satu... dua... tiga... enam! Enam nol! Ini benar-benar tiga puluh tujuh juta rupiah, bukan tiga puluh tujuh ribu! Seumur-umur aku jadi marketing andalan di cabang Bogor, bonus terbesarku hanya mentok di angka hitungan ratusan ribu atau jutaan kecil. Mungkin karena ini margin dari proyek pengadaan bernilai 15 miliar.
Alhamdulillah, Puji Tuhan... batinku bersorak. Ada uang besar masuk. Rasanya beban di pundakku langsung menguap terbawa udara AC sentral kantor.
Pikiranku langsung melayang ke kampung halaman. Tahun ini adikku yang paling kecil masuk SMA, lalu adikku yang satunya lagi masuk kuliah. Gila memang, dulu ayah dan ibuku waktu bikin anak tidak memperhitungkan timeline pendidikan kah? Kenapa biaya masuk sekolahnya harus barengan begini?!
Belum lagi adikku yang mau masuk kuliah itu tiba-tiba minta dibelikan motor. Mintanya spesifik pula: Yamaha Aerox. Katanya sih untuk penunjang mobilitas kuliah. Tapi insting kakak pertamaku curiga motor itu bakal dipakai buat balapan liar. Adik perempuanku yang satu itu memang anomali. Wajahnya ayu, tapi hobinya trek-trekan. Entah sudah berapa kali aku harus menebus motor Honda Beat-nya di bengkel dan kantor polisi. Terakhir kali dia bermasalah adalah saat motornya nyungsep ke sawah. Alasannya? Dia meleng waktu lagi ngebut karena terpesona melihat tukang sayur keliling yang good looking. Benar-benar bikin sakit kepala.
Lalu si bontot, dengan polosnya minta dibelikan sepatu roda. Heiii... jalanan depan rumah kita saja mayoritas masih tanah dan batu kerikil! Sepatu roda mau dipakai meluncur di mana? Di atas pematang sawah?! Begitulah absurd-nya adik-adikku.
Tapi fatalnya, aku sudah terlanjur memberikan syarat: Harus juara kelas kalau ingin permintaannya dikabulkan. Walaupun kelakuan mereka absurd, otak mereka encer-encer. Aku kadang sampai mempertanyakan diriku sendiri di sepertiga malam; aku ini harusnya mendoakan mereka berprestasi agar masa depannya cerah, atau mendoakan nilai mereka pas-pasan agar tabunganku tidak jebol untuk menuruti permintaan aneh-aneh itu?
Untungnya mereka sadar ekonomi keluarga kami bukan sekelas sultan. Walaupun wajah kami diwarisi fitur oriental mirip cici-cici PIK, keuangan kami aslinya sangat ngepas. Sudahlah, itulah dilema menjadi anak pertama yang merangkap jadi menteri keuangan merangkap tempat curhat adik-adik.
Aku juga harus ekstra hati-hati mengirimkan uang bonusan ini ke ibuku. Beliau dan aku sama-sama mewarisi gen impulsif tingkat dewa. Dapat uang lebih sedikit saja, langsung belanja bahan makanan untuk masak mewah. Kalau uang 10 juta kukirim hari ini dalam bentuk cash, aku yakin besok pagi ibuku langsung menyembelih kambing di halaman rumah dengan dalih 'rasa syukur'. Entahlah, ayahku di alam barzah sana sedang menonton kelakuan kami sambil menangis terharu atau tertawa ngakak.
Tapi bonusan ini memang sangat besar. Sebagai rasa syukur yang lebih masuk akal, sepertinya aku harus mentraktir satu divisi hari ini.
Aku mengedarkan pandangan, menghitung kepala orang-orang di ruangan ini secara diam-diam. Satu... dua... umm... ada dua belas orang. Ditambah aku dan Mas Daffa jadi empat belas. Pak Brata yang botak di dalam ruangan dan Mas OB dihitung juga ga ya? Hitung deh, kasihan. Total enam belas orang.
Berikutnya, beli apa ya? Nasi padang? Terlalu mahal kalau dibelikan lauk spesial semua. Lagipula aku tidak tahu pantangan mereka. Kalau aku belikan jeroan atau rendang, takutnya besok divisi akunting lumpuh gara-gara pada kena kolesterol berjamaah. Minuman boba? Jangan deh, aku harus menanyakan selera mereka satu-satu, takutnya ada yang ngelunjak minta ekstra topping macam-macam.
Oke, yang paling aman dan merakyat: Pizza ukuran besar!
Aku langsung membuka aplikasi ojek online. Memesan delivery dua loyang Pizza Meat Lover ukuran Jumbo dengan minuman cola dingin. Kulihat total harganya... astagah... lumayan bikin meringis juga. Tapi mengingat angka 37 juta di rekeningku, harga pizza ini tidak ada apa-apanya. Hanya recehan debu!
Mataku melirik ke arah kubikel di sebelahku. Mas Daffa. Seniorku yang selalu kelihatan kurang tidur itu sedang mengetik cepat, wajahnya ditekuk serius. Dia gimana ya? Dia kan seniorku yang sudah banyak membantuku. Kemarin aku memang sudah mentraktirnya di cafe, tapi mungkin aku bisa mengajaknya makan enak lagi malam ini khusus berdua. Hitung-hitung syukuran.
"Mas..." aku memanggilnya perlahan, melongok dari balik partisi kubikel.
"Hmm?" Mas Daffa hanya bergumam tanpa menoleh. Matanya terpaku pada deretan angka Excel yang bikin pusing di layarnya.
"Bonusan proyek pengadaan udah cair nih. Nanti malem makan di luar yuk, Mas?" ajakku antusias.
Mas Daffa terdiam sesaat. Jari-jarinya berhenti mengetik. Apa dia mau? Apakah dia akan merekomendasikan tempat makan sate yang enak?
"Enggak," jawabnya dingin dan datar. Matanya kembali menatap layar.