INERSIA

cahyo laras
Chapter #22

Negosiasi Maut Dengan Manager

Keesokan paginya, aku duduk di kubikelku dengan perasaan seperti pahlawan kemerdekaan yang mau mengangkat bambu runcing.

Mataku tak lepas mengawasi kubikel sebelah. Mas Daffa ada di sana, sedang mengaduk kopi saset Indocafe-nya dengan wajah setenang batu nisan. Layar komputernya sudah penuh dengan tabel Excel yang kalau kulihat sekilas saja bisa bikin asam lambungku naik. Dia mengetik dengan cepat, mengurus faktur pajak pusat, mengurus kerjaan Mbak Desi, dan entah kerjaan siapa lagi yang dilemparkan ke pundaknya yang ringkih itu.

Aku menggigit ujung bolpoinku. Pikiranku melayang ke angka di slip gajinya kemarin.

Lima koma dua juta. Angka itu terngiang-ngiang di kepalaku bagaikan kaset rusak. Perusahaan ini benar-benar titisan Dajjal berkedok PT! Bagaimana bisa mereka membiarkan Hercules divisi akunting ini bekerja bagai kuda liar di padang sabana, tapi memberinya makan rumput kering?! Gajinya bahkan lebih kecil dari uang jajan adikku kalau dia minta beli suku cadang motor balapnya yang nyungsep di sawah itu!

Membayangkan Mas Daffa harus membagi uang segitu untuk kos, makan bakwan dingin, dan transport di tengah kejamnya ibu kota... hatiku meringis. Pantas saja jaketnya tidak pernah ganti, dan sepatunya sudah setipis kesabaran orang puasa di siang bolong. Ini penindasan kelas pekerja! Ini pelanggaran HAM! Kalau Karl Marx masih hidup, dia pasti sudah nangis tersedu-sedu sambil meluk Mas Daffa!

Tidak bisa dibiarkan, batinku berapi-api. Sebagai manusia yang punya hati nurani dan bonus 37 juta, aku harus mencari keadilan!

Aku bangkit berdiri. Menyambar buku catatanku dan pulpen gel andalanku. Aku berjalan cepat menuju toilet perempuan. Saatnya melakukan ritual perubahan wujud.

Toilet lantai enam sedang sepi. Aroma kamper rasa jeruk memenuhi ruangan berkeramik putih itu. Aku berdiri menghadap cermin wastafel yang memantulkan wajahku. Wajah gadis berponi dengan pipi agak chubby yang biasanya selalu tersenyum lugu.

"Bangun, Via. Bangun! Jangan jadi cewek menye-menye hari ini," aku menunjuk bayanganku sendiri di cermin. "Kau adalah mantan Sales Elite cabang Bogor! Kau pernah membuat bos supplier pupuk bertekuk lutut memberikan diskon 40%! Kau adalah predator!"

Aku menampar kedua pipiku sendiri pelan. Plak! Plak! Oke, pipiku malah jadi merah seperti kepiting rebus. Tidak apa-apa, anggap saja blush-on alami.

Aku mengeluarkan dompet kosmetikku. Untuk maju perang melawan bos pelit macam Pak Brata, aku butuh war paint (riasan perang). Aku mengambil lipstik merah merona yang kupinjam dari Mba Desi tempo hari. Konon, lipstik merah bisa memberikan intimidasi psikologis pada lawan bicara.

Kuoleskan lipstik itu ke bibirku dengan penuh determinasi. Atas, bawah, ratakan.

Aku kembali menatap cermin.

Buset. Aku terkesiap. Bukannya terlihat seperti Meryl Streep di film The Devil Wears Prada, aku malah lebih mirip badut yang habis makan orok. Merahnya keterlaluan!

Dengan panik, aku menyambar tisu toilet dan menggosok bibirku kasar. Gagal, gagal! Jangan pakai merah, nanti Pak Brata malah ngira aku mau ngajak dia dangdutan. Aku menggantinya dengan lipstik warna nude-peach andalanku, lalu menegaskan eyeliner sedikit agar mataku terlihat lebih tajam dan kejam.

Selanjutnya: Rambut. Poniku yang biasanya tergerai manis harus diubah. Aku menarik seluruh rambutku ke belakang, mengikatnya dengan gaya ponytail tinggi yang ketat. Tarikannya sampai membuat mataku sedikit tertarik ke atas.

Nah, begini! Elegan. Profesional. Mematikan.

Aku berdeham, mencoba melatih suara negosiasiku. Ku-rendahkan suaraku satu oktaf agar terdengar seperti wanita karier SCBD yang gajinya dua digit.

"Ehem. Selamat pagi, Bapak Brata yang terhormat. Mari kita bicara bisnis," ujarku pada cermin sambil menyipitkan mata dan menaikkan sebelah alis. "Apakah Bapak sadar, Bapak telah mengeksploitasi aset berharga perusahaan? Naikin gaji Mas Daffa, atau saya obrak-abrik ruangan ini!"

Tiba-tiba, suara siraman air terdengar dari bilik toilet di belakangku. Klotok... klotok... klotok. Pintu bilik terbuka. Mba Desi keluar dari sana, menatapku dengan wajah datar, sementara aku masih berdiri dalam pose tangan menunjuk ke cermin dengan alis menukik tajam.

"Lu ngapain, Vi? Latihan teater?" tanya Mba Desi sambil berjalan ke wastafel di sebelahku untuk mencuci tangan.

Wajahku rasanya mau meledak saking malunya. Semesta ini kenapa hobi sekali merusak momen kerenku?!

"Ehehe... enggak, Mbak. Ini... senam wajah! Biar otot pipinya ga kram kalau disuruh senyum ke atasan," jawabku ngawur sambil buru-buru memijat pipiku, pura-pura senam.

Mba Desi hanya memutar bola matanya dan mengeringkan tangan. "Ada-ada aja lu. Hati-hati kram beneran tuh bibir."

Begitu Mba Desi keluar, aku membuang napas lega. Sialan, hilang sudah aura Meryl Streep-ku.

Tapi tidak apa-apa, tekadku sudah bulat. Aku merapikan rok span hitamku, memeluk buku catatanku di dada, dan melangkah keluar toilet. Langkahku berirama. Ketuk, ketuk, ketuk. Suara sepatuku di lantai lorong terdengar seperti hitungan mundur bom waktu.

Mode Marketing Elite: 100% On.

Aku berjalan melewati meja-meja divisi akunting. Beberapa orang menoleh melihat perubahan auraku yang tiba-tiba serius. Aku tidak peduli. Mataku terkunci lurus pada satu target: Pintu kayu tebal bertuliskan Manager Accounting & Finance

Lihat selengkapnya