Aku berjalan menyusuri lorong menuju sayap timur gedung dengan langkah tegap, memegang erat Form Pengajuan Penyesuaian Upah di dadaku layaknya sedang membawa piagam proklamasi. Benteng pertama si Botak Brata sudah runtuh. Kini, saatnya menghadapi Final Boss sesungguhnya: Divisi HRD.
Ruangan Divisi Compensation & Benefit (C&B) HRD memiliki aura yang sangat berbeda dari kubikel akunting yang sumpek dan berbau kertas berdebu. Begitu aku mendorong pintu kacanya, hawa dingin yang sangat steril langsung menyapaku. Ruangan ini beraroma lavender dicampur desinfektan, dengan deretan rak berisi ratusan binder data karyawan yang tersusun rapi berdasarkan abjad dan warna. Terlalu rapi sampai terasa agak psikopat.
Di ujung ruangan, duduklah sang penguasa kehidupan (dan pemotong gaji) karyawan: Ibu Rini. Manajer HRD ini terkenal kaku, disiplin, dan memiliki tatapan mata yang bisa membuat karyawan yang sering telat langsung ngompol di celana. Rambutnya disanggul ketat ke belakang, kacamata bacanya bertengger di ujung hidung, dan lipstiknya selalu berwarna merah marun gelap. Sempurna. Siluet klasik seorang nenek sihir korporat. Tinggal kasih sapu dan jubah hitam, sempurna sudah jadi nenek sihir di dongeng-dongeng.
Aku berjalan menghampiri mejanya.
"Permisi, Bu Rini," sapaku dengan senyum paling sopan sedunia. "Saya mau menyerahkan form penyesuaian gaji dari Pak Brata."
Bu Rini mendongak dari balik kacamata bacanya. Dia mengambil kertas itu dari tanganku dengan gerakan lambat dan penuh curiga. Matanya yang tajam memindai barisan tulisan Pak Brata.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
"Tujuh setengah juta?!" Suara Bu Rini tiba-tiba melengking, membelah kesunyian ruangan steril itu. "Via, apa-apaan ini?! Ini usulan untuk Daffa? Staf entry data biasa?!"
"Betul, Bu," jawabku tenang.
Bu Rini langsung membanting kertas itu ke atas meja. Tangannya menyambar pulpen tinta merah yang sepertinya memang didesain khusus untuk mencoret harapan dan mimpi karyawan.
"Tidak bisa! Tidak ada sejarahnya staf back-office naik gaji hampir lima puluh persen di luar jadwal Performance Appraisal tahunan!" omel Bu Rini dengan kecepatan rapper Eminem. "Ini menyalahi struktur upah perusahaan! Ini merusak salary band! Kalau saya loloskan ini, besok semua staf akunting bakal demo minta naik gaji! Tidak. Akan saya kembalikan ke Pak Brata untuk direvisi!"
Ujung pulpen merah Bu Rini sudah melayang di atas kertas, bersiap menorehkan tanda silang raksasa.
"Tunggu, Bu Rini," ujarku cepat. Tanganku meluncur dan dengan halus menahan punggung tangannya yang memegang pulpen merah.
Bu Rini menatapku kaget, tidak percaya ada karyawan bau kencur yang berani menyentuh tangan eksekutornya. Aku menarik tanganku perlahan, lalu menunjuk kalkulator Casio raksasa di atas mejanya.
"Boleh saya pinjam kalkulatornya sebentar, Bu?" tanyaku dengan nada selembut sutra.
Tanpa menunggu jawabannya, aku menarik kalkulator itu ke hadapanku. Aku menarik napas panjang. Bantu aku, Mas Daffa. Aku akan menggunakan mantra sihir angka yang kau ajarkan padaku.
"Mari kita bicara logika angka, Bu Rini," ujarku, jari telunjukku mulai menekan tombol-tombol kalkulator dengan bunyi cetak-cetuk yang mantap. "Ibu adalah ahli efisiensi perusahaan. Ibu pasti setuju kalau tugas HRD bukan cuma menjaga aturan, tapi juga menyelamatkan pengeluaran perusahaan, kan?"