INERSIA

cahyo laras
Chapter #25

Firasat Buruk

[DAFFA]

Jam di sudut kanan bawah monitor Windows-ku menunjukkan pukul 11.30. Waktunya jam makan siang.

"Mas, bawa bekal?"

Suara Via memecah konsentrasiku dari deretan tabel Excel. Gadis itu melongok dari balik kubikelnya. Aroma parfum lidah buayanya yang khas seketika menggeser bau debu kertas di sekitarku.

"Bawa, seperti biasa," jawabku tanpa menoleh dari monitor. "Kamu hari ini bekal apa?"

"Engg... maaf ya, Mas," suara Via mendadak terdengar tidak enak. "Hari ini aku mau makan siang bareng Mbak Desi dan Mbak Dina. Jadi, Mas makan sendirian dulu ya?"

Jariku yang bersiap menekan tombol Enter terhenti di udara selama sedetik.

"Oh. Oke," jawabku singkat.

Kecewa? Sedikit. Tapi tolonglah, kami bukan anak SD yang harus ngambek gara-gara teman sebangku jajan di luar. Mengingat bonus tiga puluh tujuh juta yang baru saja ia terima dari proyek Pak Helmi kemarin, wajar saja dia ingin makan enak di luar. Lagipula, Via sudah mulai beradaptasi. Ia kini resmi tergabung dalam sirkel gosip cewek-cewek (baca: tante-tante) divisi akunting. Ia bukan lagi 'anak bawang' yang harus selalu kuawasi.

"Gak apa-apa, santai saja," tambahku, berusaha membuat nadaku sedatar mungkin. "Sebelum ada kamu juga aku biasa makan sendirian."

Via tersenyum lega, meraih dompet dan ponselnya, lalu melesat bergabung dengan gerombolan Mbak Desi yang sudah menunggu di dekat pantri dengan suara hak sepatu berhak tinggi yang berisik.

Seketika, ruangan divisi ini mendadak sepi. Hanya tersisa dengung mesin AC sentral dan beberapa staf pria yang lebih memilih tidur mendengkur di kursi mereka.

Aku membuka kotak bekalku perlahan. Nasi putih, telur dadar, tempe orek, dan satu potong sosis goreng. Mataku menatap sosis itu. Biasanya, Via akan menusuk sosis itu dengan garpunya tanpa dosa, lalu menukarnya dengan satu lauk dari kotak bekalnya.

Hap. Aku memasukkan sosis itu ke mulutku sendiri. Mengunyahnya lamat-lamat. Rasanya hambar.

Sepi ini rasanya beda, sebelum ada Via suasana sepi ini biasa untukku, tapi entah kenapa sekarang rasanya beda. Apakah kehadiran Via perlahan mengubahku? Apakah hukum inersia-ku mulai goyah oleh gaya tarik gadis ceroboh itu?

Lihat selengkapnya