INERSIA

cahyo laras
Chapter #26

Jebakan Sang CFO

Sore itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah kalender Masehi, meja Daffa bersih dari tumpukan berkas lembur. Anehnya, keseimbangan alam justru bergeser ke meja sebelahnya.

Via tampak terhuyung-huyung melangkah dari arah lorong ruang direksi. Napasnya terengah-engah menahan beban maha berat di pelukannya. Bruk! Bruk! Bruk! Tiga ordner (map raksasa berukuran folio) dibanting ke atas mejanya. Debu halus beterbangan di bawah cahaya lampu neon.

"Astaga naga... punggungku mau patah rasanya," keluh Via sambil mengusap keringat di dahinya. "Mas, aku disuruh tanda tangan dan stempel semua berkas lampiran ini sama orangnya CFO. Katanya harus kelar sebelum maghrib untuk dikasih ke tim audit besok."

Daffa memutar kursinya. Matanya menatap tumpukan ordner itu dengan tatapan predator. Ada ribuan lembar kertas di sana.

"Coba aku lihat satu," Daffa menarik ordner paling atas. Ia membuka beberapa halaman secara acak. Surat jalan, rekonsiliasi vendor, tagihan headset... semuanya tampak normal. Tapi insting pragmatisnya menolak percaya. Kenapa staf yang belum setahun kerja seperti Via yang disuruh mengesahkan dokumen level dewan direksi?

"Sudah, Mas Daffa pulang duluan aja. Tumben-tumbenan kan nggak lembur?" kata Via sambil mulai mengeluarkan stempel perusahaan dari lacinya.

"Tapi... kamu yakin nggak apa-apa tanda tangan sendirian sebanyak ini?" tanya Daffa, nadanya masih menggantung penuh keraguan.

Via tersenyum lebar. "Gak apa-apa, Mas! Lagian... nanti aku pulangnya mau diantar Theo. Dia masih ada di lantai atas kok, nungguin aku selesai."

Mendengar nama itu disebut, rahang Daffa mengeras tanpa kentara. Rasa khawatir di dadanya seketika menguap, tergantikan oleh ego lelaki yang terluka. Oh. Ada pangerannya yang menunggu.

Daffa memutus kontak mata dengan Via. Ia meraih tas ransel usangnya.

"Ya sudah. Tolong, sebelum tanda tangan, kamu cek dengan teliti. Biasakan baca kop suratnya dan judul dokumennya. Kalau ada yang aneh-aneh, hubungi aku," pesan Daffa dingin.

"Siap, Mas Bos!" jawab Via riang, sudah mulai memegang pulpennya.

Daffa melangkah pergi meninggalkan ruangan. Punggungnya yang sedikit membungkuk menghilang di balik pintu kaca.

Sepeninggal Daffa, Via mulai bekerja dengan mode kecepatan cahaya. Tangannya bergerak seperti mesin industri. Ia menatap jam dinding yang jarumnya terus merangkak menuju pukul enam sore. Ia tidak ingin Theo menunggunya terlalu lama. Peringatan Daffa tentang 'mengecek dengan teliti' menguap begitu saja dari kepalanya.

Lihat selengkapnya