[DAFFA]
Suara ketikan keyboard-ku berirama konstan. Mataku fokus menelusuri ribuan baris data Excel, menjalankan rumus VLOOKUP dan INDEX-MATCH yang sudah kuhafal di luar kepala. Suasana divisi akunting sedang tenang.
Brak!
Pintu kaca divisi terbuka kasar. Aku menoleh.
Via berjalan gontai menyusuri lorong antar kubikel. Langkahnya terseret, bahunya berguncang hebat. Ia menabrak pinggiran mejanya sendiri sebelum akhirnya ambruk ke kursinya.
Gadis ceria yang biasanya membawa aroma segar lidah buaya itu kini terlihat seperti zombie. Wajahnya seputih kertas HVS. Ia menyembunyikan wajahnya di lipatan lengannya di atas meja, dan tangisnya pecah. Isakan tertahan yang begitu pedih, terdengar seperti seseorang yang baru saja dijatuhi vonis mati.
Jari-jariku membeku di atas keyboard. Perutku serasa ditinju.
Aku berdiri dan melangkah ke kubikelnya. "Via? Kamu kenapa?" tanyaku, berusaha menjaga nadaku tetap datar meski jantungku berdetak tak karuan.
Ia mengangkat wajahnya. Matanya merah bengkak.
"Mas Daffa..." suaranya serak dan putus asa. "A-aku... aku mau dipenjara, Mas..."
Alisku bertaut keras. "Dipenjara? Bicara yang jelas. Ada apa?"
"T-tumpukan dokumen yang disuruh stempel kemarin sore..." Via terisak, kesulitan merangkai kata. "A-ada surat utang seratus miliar di dalamnya... PT TAI... CFO nuduh aku nyabotase merger, Mas. Aku bakal dituntut seratus miliar... aku nggak punya uang sebanyak itu, Mas... adikku gimana..."
Tangis Via kembali meledak. Ia meremas ujung kemejanya dengan tangan gemetar.
Otakku seketika bekerja layaknya processor yang dioverclock. Tumpukan tiga ordner raksasa. Instruksi dadakan CFO. Target selesai sebelum magrib.
Sialan.
Kepingan puzzle itu langsung tersusun rapi di kepalaku. CFO sengaja menyelipkan bom waktu itu ke tangan Via. Ia tahu Via terlalu polos dan sedang terburu-buru. CFO ingin menggagalkan audit merger agar boroknya tak ketahuan, dan gadis lugu ini dijadikan tumbal sembelihan yang sempurna.
Dan Theo? Sang pangeran auditor yang ditunggu-tunggu Via itu ternyata hanya bisa berdiri mematung di ruang rapat, membiarkan gadis ini dibantai oleh birokrasi. Sial seandainya saat itu aku tidak menuruti egoku untuk pergi, dia tidak akan seperti ini. Brengsek... brengsek...!!!
Rasa sesak dan cemburu yang beberapa hari ini menggerogoti dadaku karena kedekatan Via dan Theo... mendadak menguap tanpa sisa. Hilang terbakar oleh amarah yang sedingin es. Tidak ada ruang untuk ego lelaki atau insecurity saat melihat gadis ini menangis ketakutan kehilangan masa depannya.
"Sudah, jangan nangis," kataku pelan tapi tegas. Aku mengambil sekotak tisu dari mejaku dan meletakkannya di dekatnya.
Aku kembali ke kursiku. Memutar leherku hingga terdengar bunyi 'krek'. Menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan.
Duniaku mungkin hanya sebatas kubikel sempit berdebu ini. Jabatanku mungkin hanya jongos ketik yang bahkan tak punya akses ke pantry eksekutif. Tapi CFO salah besar jika ia pikir ia bisa menumbalkan staf dari divisiku dan lolos begitu saja.
Aku membuka tab browser baru, menghapus history, dan menyalakan VPN.
Jika Theo tidak bisa menyelamatkannya dengan jas mahalnya, maka yang akan turun tangan. Kita lihat, sampai mana CFO dan PT TAI fiktifnya itu bisa bertahan.