INERSIA

cahyo laras
Chapter #28

Persiapan Eksekusi Sang CFO

Keesokan Harinya, Pukul 09.00

Operasi infiltrasi dimulai. Aku tidak bisa masuk ke ruangan Pak Surya sebagai Daffa si jongos ketik. Aku butuh identitas baru. Sesuatu yang transparan, selalu ada di mana-mana, tapi tidak pernah benar-benar diperhatikan oleh para eksekutif arogan di gedung ini: Seorang Office Boy (OB).

Di dalam bilik toilet lantai dasar yang terkunci, aku memulai transformasiku.

Aku mengeluarkan perlengkapan dari ranselku. Pertama, aku menempelkan plester bedah transparan di belakang telinga dan rahang bawahku, menarik kulitnya sedemikian rupa hingga bentuk rahangku yang tirus terlihat lebih persegi dan kaku. Kedua, aku menempelkan kumis palsu berbahan rambut asli yang kubeli dari toko mainan. Sedikit lem spirit gum, dan wajahku kini terlihat lima tahun lebih tua.

Terakhir, aku mengganti kemejaku dengan seragam OB biru pudar ber- name tag "Sutrisno". Aku memasukkan gulungan tisu ke dalam sepatuku agar cara berjalanku sedikit pincang dan menyeret. Aku membuang postur tegakku, membungkukkan bahu serendah mungkin. Jika Via melihatku sekarang, ia tidak akan mengenali mentornya sendiri.

Pukul 09.30 WIB. Aku mendorong troli kebersihan menuju lantai 10.

Mbak Risa, sekretaris Pak Surya, sedang sibuk menelepon. Ia hanya melirikku sekilas tanpa minat. "Permisi, Mbak. Jadwal bersih-bersih ruangan Bapak dan refill air minum," suaraku kubuat parau dan bergetar. Mbak Risa mengibaskan tangan, memberi isyarat agar aku masuk. "Pak Surya lagi meeting di ruang direksi. Buruan bersihinnya, sebentar lagi dia balik."

Sempurna. Aku melangkah masuk ke dalam ruang kerja CFO yang luasnya menyamai lapangan futsal itu. Pintunya kututup rapat.

Langkah pertamaku: Tragedi Biologis. Pak Surya punya teko pemanas air dan koleksi teh Chamomile premium di meja sudutnya. Aku menuangkan air panas, menyeduh tehnya hingga berwarna keemasan. Lalu, dari saku celanaku, aku mengeluarkan botol kecil obat pencahar cair berdosis tinggi. Lima tetes obat itu meluncur mulus ke dalam cangkir, larut tanpa warna dan tanpa rasa.

Langkah keduaku: Sabotase Waktu. Aku berjalan masuk ke dalam kamar mandi en-suite (kamar mandi dalam) eksklusif milik Pak Surya. Ruangan berlapis marmer ini akan menjadi penjara sementaranya. Aku harus memastikan dia terjebak di sini selama mungkin saat obat pencahar itu bekerja.

Air Terjun Tangisan: Aku merangkak ke bawah wastafel dan kloset pintar. Menggunakan obeng kecil, aku memutar katup saluran air bidet (semprotan kloset) hingga nyaris tertutup penuh. Saat dinyalakan nanti, air yang keluar hanya akan berupa tetesan pelan yang sangat menyiksa. Ia butuh waktu lima kali lipat lebih lama untuk membersihkan dirinya.

Sabun Frustrasi: Aku membuka tabung dispenser sabun cuci tangan cair yang menempel di dinding. Aku menuangkan sebotol Baby Oil dan sedikit Hand Sanitizer ke dalamnya, lalu mengaduknya. Formulasi ini akan membuat sabunnya menjadi sangat licin, tidak mau berbusa, dan sulit dibilas. Pak Surya akan menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk menghilangkan rasa lengket di tangannya.

Gantungan Keputusasaan: Ini mahakaryaku. Aku melepas sekrup gantungan celana/jas yang ada di balik pintu kamar mandi. Aku memindahkannya ke bagian paling atas pintu, nyaris menyentuh kusen atas. Dengan tinggi tubuh Pak Surya yang gempal dan pendek, ia harus berjinjit atau melompat-lompat dengan panik hanya untuk mengambil celananya kembali.

Setelah mahakarya sabotase ini selesai, aku merapikan peralatanku, menaruhnya didalam lemari kosong. Aku tidak keluar ruangan. Aku bersembunyi di dalam lemari penyimpanan ordner kosong yang letaknya tepat di sudut ruangan, hanya berjarak tiga meter dari meja kerja Pak Surya. Celah kecil dari pintu lemari menjadi jendela pantauku.

Kini, jaring telah ditebar. Sang laba-laba hanya perlu menunggu lalat gemuk itu masuk.

Pukul 10.15 WIB.

Pintu ruangan terbuka. Pak Surya melangkah masuk dengan wajah ditekuk, melempar jasnya ke sofa. Ia berjalan ke meja sudut, meraih cangkir teh Chamomile yang sudah kusiapkan, dan menegaknya hingga tandas dalam dua kali tegukan.

Aku menahan napas di dalam lemari yang pengap. Keringat mengalir di pelipisku, membuat lem kumis palsuku sedikit gatal.

Sepuluh menit berlalu. Pak Surya sedang asyik memarahi manajer lain lewat telepon. Lima belas menit berlalu. Suara Pak Surya mulai kehilangan fokus. Dua puluh menit...

GRRRUUUKKK.

Suara gemuruh dari perut Pak Surya terdengar bahkan sampai ke tempat persembunyianku. Pak Surya menghentikan kalimatnya di telepon. Wajahnya seketika pucat pasi. Matanya terbelalak panik.

"S-saya tutup dulu teleponnya!"

Ia membanting gagang telepon. Tangannya memegangi perutnya yang buncit. Tubuhnya meliuk menahan kontraksi luar biasa. Tanpa menunggu sedetik pun, ia berlari terbirit-birit, dengan gaya lari setengah mengangkang yang sangat lucu, menuju kamar mandi pribadinya. Jas dan celana kainnya ia lepas dengan kasar di depan pintu, menyangkutkannya sembarangan ke 'gantungan keputusasaan' yang sudah kutinggikan.

BRAAAK! KLIK. Pintu kamar mandi dikunci dari dalam. Disusul suara ledakan gas beracun dan gemuruh porselen yang menderita.

Showtime.

Lihat selengkapnya