****
Senin pagi di lobi utama PT BEGO tidak pernah terasa setegang ini. Udara pendingin ruangan terasa membekukan tulang. Desas-desus tentang kegagalan merger dan denda seratus miliar sudah menyebar ke seluruh penjuru gedung bak api melahap ilalang kering.
Di sudut ruangan divisi akunting, Via duduk mematung. Matanya sembab, seragam kerjanya tampak kusut. Ia sedang menunggu eksekusi, entah itu surat pemecatan dari HRD atau borgol dari pihak kepolisian.
Namun, tepat pukul 09.15 WIB, sumber kekacauan meledak bukan dari ruang rapat, melainkan dari pintu putar lobi kaca lantai dasar.
"PAK SURYA! PAK SURYA TOLONG SAYA, PAK!"
Jeritan histeris seorang pria paruh baya memecah keheningan lobi yang sedang ramai oleh karyawan. Pria itu adalah Mang Kardi, supir pribadi Pak Surya yang biasanya hanya diam menunggu di basement. Penampilannya kacau balau, pecinya miring, dan tangannya gemetar hebat meremas sebuah amplop cokelat resmi berlogo burung garuda.
Dua petugas sekuriti berusaha menahannya, tapi Mang Kardi memberontak dengan tenaga orang putus asa. Keributan itu memancing orang-orang keluar dari ruangan mereka, termasuk jajaran direksi, Theo beserta tim auditnya, dan tentu saja... Pak Surya yang wajahnya langsung pias melihat supirnya mengamuk.
"Kardi! Kamu gila ya?! Ngapain kamu teriak-teriak di kantor?!" bentak Pak Surya, mencoba menutupi kepanikannya. Ia melangkah maju berniat menyeret supirnya keluar.
Namun Mang Kardi keburu menjatuhkan diri, bersimpuh di kaki Pak Surya sambil menangis meraung-raung.
"Bapak tega sama saya, Pak! Bapak bilang pinjam KTP saya cuma buat syarat formalitas bikin PT TAI! Tapi kenapa pagi ini rumah saya didatangi orang Kantor Pajak?!" Mang Kardi mengangkat surat tagihan di tangannya tinggi-tinggi, mengibaskannya ke udara hingga semua orang bisa melihat kop surat Direktorat Jenderal Pajak.
"Saya ditagih utang pajak dua puluh dua miliar, Pak! Uang dari mana saya, Pak?! Makan sehari-hari saja susah! Bapak harus tanggung jawab, itu kan perusahaan fiktif punya Bapak!"
Keheningan yang mematikan seketika menyelimuti lobi. Ratusan pasang mata karyawan, manajer, dan direksi kini menatap Pak Surya.