[DAFFA]
Pantatku mendarat kembali di atas kursi kerjaku yang busanya sudah menipis. Terdengar bunyi derit pelan dari pegas kursi yang sudah karatan. Di depanku, layar monitor memancarkan cahaya biru yang menyilaukan, menyoroti tumpukan ordner tagihan yang masih menggunung, menunggu untuk ku- input.
Aku menatap tumpukan kertas itu dengan pandangan kosong. Kurasakan dengung mesin AC sentral di atas kepalaku berbaur dengan riuh rendah suara karyawan divisi lain yang baru kembali dari lobi.
Aku benci untuk mengakuinya, tapi... kenapa rasa menyebalkan di ulu hatiku ini muncul lagi? Rasanya seperti menelan secangkir kopi saset yang ampasnya belum mengendap. Pahit, asam, dan mencekik kerongkongan.
Seharusnya aku sudah sadar dari awal. Seharusnya aku memegang teguh hukum inersia-ku. Aku meretas sistem, membobol laci eksekutif, dan menjungkirbalikkan birokrasi negara bukan karena aku ingin menjadi pahlawan berkuda putih di matanya. Aku melakukannya murni karena dia adalah juniorku. Tanggung jawabku.
Tapi... Arrrgh. Tanganku terkepal di atas meja. Rasanya aku ingin menjedotkan kepalaku sendiri ke ujung meja kayu ini sampai otakku berhenti memproses algoritma perasaan yang tidak masuk akal ini.
"Mas..."
Aroma segar lidah buaya mendadak memotong bau debu kertas di sekitarku. Aku menoleh.
Via berdiri di samping kubikelku. Ujung-ujung rambut anak rambutnya yang mencuat (baby hair) tampak menempel di dahinya yang basah. Ada sisa tetesan air di dagu dan bulu matanya. Sepertinya, setelah puas menangis dan berpelukan di lobi tadi, ia langsung berlari ke toilet untuk mencuci wajahnya. Matanya masih sedikit bengkak kemerahan, tapi bibirnya melengkungkan senyum paling lega yang pernah kulihat.
"Hmm?" balasku bergumam, sengaja tidak menatap matanya terlalu lama.
"Mas kenapa? Kok lemes gitu?"
Pertanyaan itu lagi. Sudut bibirku berkedut. Kau tanya aku lemas kenapa? Aku benci mengakuinya, tapi faktanya sistem mentalku sedang mengalami crash berat karenamu, Via.
"Nggak apa-apa," jawabku dengan nada datar yang sudah sangat terlatih. "Cuma kurang sarapan aja. Gimana? Kamu nggak jadi ditangkep polisi kan hari ini?"
Aku sengaja melontarkan kalimat itu setenang menanyakan menu makan siang, berusaha menutupi fakta bahwa aku baru saja membelah lautan birokrasi demi memastikan polisi itu tidak pernah datang untuknya.
Senyum Via semakin merekah. Wajahnya berseri-seri seperti bunga yang baru disiram air.
"Iya, Mas! Alhamdulillah, syukur banget!" Suara Via sedikit bergetar karena antusiasme yang meluap-luap. "Theo nyelamatin aku, Mas! Ternyata tim auditnya nemuin bukti di server kalau utang itu fiktif. Dia juga yang bikin Pak Surya ditangkep polisi tadi. Theo hebat banget, kan?"
Jleb.
Kalimat itu menembus dadaku lebih presisi dari ujung pisau bedah.
Gadis ini benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku... aku tidak akan pernah memberitahunya. Mengklaim gelar pahlawan itu sama saja dengan menarik diriku sendiri ke arena gladiator romansa melawan Theo.
Aku menolak itu. Secara matematis dan status sosial, aku pasti kalah. Empat tahun lalu, Olla menghancurkanku hingga aku memilih menutup diri dari perasaan apa pun dan hidup dalam kesunyian kubikel ini. Apakah sekarang aku sudah keluar dari jalur aman itu hanya karena gadis ini?
Aku mengalihkan pandanganku ke layar monitor. "Syukurlah kalau begitu," gumamku pendek.
Di sisi lain, mengabaikan luka egoku, otak analitisku kembali berputar. Sosok Theo kini terasa semakin janggal dan berbahaya. Dengan tumbangnya Pak Surya, proses merger ini pasti akan tetap dilanjutkan, dan PT BEGO akan bersih dari parasit level direksi. Skema ini terlalu rapi. Aku semakin tidak yakin pria tampan itu hanyalah seorang "Auditor Eksternal".
Tapi, pertandingan sesungguhnya baru saja dimulai.