INERSIA

cahyo laras
Chapter #31

Martabak Di Malam Lembur

Pukul 19.30 WIB.

Kantor lantai 6 ini sekarang terasa seperti kuburan elit. Gelap di luar, hanya lampu neon di blok kubikel kami yang menyala terang benderang. Suara rintik hujan menderas menghantam kaca jendela raksasa, berpadu dengan ketukan keyboard-ku yang konstan layaknya metronom. Tumpukan map merah tahun 2021 di mejaku menyebarkan aroma khas kertas lapuk dan debu masa lalu.

Aku sedang memelototi neraca lajur, memastikan keseimbangan angka-angka yang membosankan ini, ketika tiba-tiba terdengar suara roda kursi bergesekan dengan karpet.

Bruk.

Kursi kerja Via meluncur mendekat dan menabrak pelan pinggiran kursiku.

"Mas Daffa..." keluhnya dengan nada mendayu yang membuat jari-jariku langsung kaku di atas keyboard.

Hidungku seketika diserang oleh aroma segar sampo lidah buaya yang bercampur samar dengan wangi bunga melati. Wangi itu menendang keluar bau debu kertas dari radarku secara paksa.

"Mas, aku pusing banget. Ini rumus VLOOKUP-ku kenapa error N/A terus dari tadi? Datanya nggak mau ketarik," keluh Via sambil mengerucutkan bibirnya. Telunjuknya menunjuk ke arah layar monitor PC-nya yang menyala terang di mejanya.

Karena letak monitor PC-nya terpaku di atas meja sebelahnya, mau tidak mau aku harus menggeser kursiku masuk ke batas wilayah mejanya. Sreett.

Dan sialnya, begitu aku mencondongkan tubuhku ke depan untuk melihat layarnya, wajah kami mendadak berada di jarak yang sangat kritis. Via tidak memundurkan badannya sama sekali. Lengan kemejanya bersentuhan ringan dengan sikuku. Aku bahkan bisa merasakan hawa hangat dari tubuhnya di tengah udara AC sentral yang membeku ini.

Gusti Pengeran.

Jarak aman Standar Operasional Prosedur antara senior dan junior di meja kerja adalah minimal setengah meter! Ini pelanggaran tata ruang kubikel! Kenapa wanginya enak sekali? Dan kenapa jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang dari pompa air Sanyo?!

Bertahanlah, Daffa! rutukku dalam hati. Ingat, Kau adalah batu karang di tengah samudra korporat! Jangan biarkan anomali ini merusak kestabilan mentalmu!

Aku menelan ludah dengan susah payah. Mataku menolak keras menatap wajahnya dari jarak sejengkal ini. Aku memaksa leherku kaku menatap deretan sel Excel di layar PC tersebut.

"Itu..." suaraku terdengar sedikit lebih serak dari biasanya. Aku berdehem pelan, menetralkan pita suaraku agar kembali ke mode jongos ketik yang datar. "Kamu lupa mengunci range table array-nya pakai tombol F4, Via. Jadinya waktu kamu drag rumusnya ke bawah, referensi datanya ikut bergeser ke sel yang kosong."

Tanganku terulur meraih mouse di atas mejanya, dan tanpa sengaja punggung tanganku menyentuh pergelangan tangannya yang sedang bertumpu pasrah di samping keyboard.

Sial.

Rasanya seperti ada sengatan listrik statis bervoltase rendah yang menjalar langsung ke nadiku. Aku buru-buru menarik tanganku kembali seolah baru saja menyentuh panci panas, lalu menekan tombol di keyboard-nya dengan kaku untuk memperbaiki rumus tersebut.

"Tekan Enter," perintahku serak.

Via menekan tombol Enter, dan voila, deretan angka langsung muncul dengan rapi menggantikan tulisan error tersebut. Wajahnya seketika cerah. Ia menoleh menatapku dari dekat, tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.

"Ya ampun, beneran! Pantesan aja dari tadi error!" serunya riang. "Mas Daffa emang paling pinter deh! Makasih ya, Mas!"

Pujian lugu itu, ditambah senyumannya dari jarak sedekat ini, adalah kombinasi serangan fatal yang tidak pernah diajarkan penangkalnya di buku teks akuntansi mana pun. Wajahku mulai terasa memanas.

Aku membuang muka, menggeser kursiku mundur dengan cepat, lalu pura-pura kembali sibuk menata tumpukan map merahku untuk menyembunyikan kecanggunganku.

"Sudah, kerjakan lagi sana. Jangan invasi kubikel orang. Kita masih punya tumpukan laporan empat tahun lagi yang harus dibereskan," usirku dengan nada ketus yang kubuat-buat.

Via tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung, lalu memutar arah kursinya kembali menghadap monitor PC-nya. "Siap, Bos Galak!"

Begitu ia membelakangiku dan kembali sibuk dengan layarnya, aku menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan tanpa sadar. Aku memijat pelipisku perlahan sambil memejamkan mata, mencoba menenangkan sistem syarafku yang masih ugal-ugalan.

Lihat selengkapnya