Pukul 05.15 WIB.
Semburat warna ungu kebiruan mulai mengiris ujung cakrawala di balik deretan gedung pencakar langit Jakarta. Suasana divisi akunting masih senyap, tapi bebanku sudah terangkat sepenuhnya. Layar monitor telah kumatikan.
Aku berjalan mendekati kubikel Via. Gadis itu masih terlelap, wajahnya tenggelam di balik kerah jaket navy kebesaranku. Aku mengetuk partisi mejanya pelan.
"Via," panggilku lembut. "Bangun. Sudah pagi."
Gadis itu menggeliat kecil. Ia mengerjapkan matanya yang masih lengket, mengerang pelan, lalu mengangkat kepalanya dengan bingung. Rambutnya sedikit mencuat berantakan. Ia mengucek matanya seperti anak kecil, lalu menatapku dengan nyawa yang belum terkumpul penuh.
"Mas Daffa...? Jam berapa ini?" gumamnya serak. Ia menarik jaketku lebih rapat ke tubuhnya. "Laporannya...?"
"Sudah selesai semua," jawabku, memasukkan kedua tanganku ke saku celana agar ia tidak melihat jari-jariku yang entah kenapa sedikit berkeringat. "Ikut aku sebentar."
"Kemana mas?"
"Sudah ikut saja" kataku.
Tanpa menunggu jawabannya, aku membalikkan badan dan berjalan menuju pintu akses tangga darurat. Kudengar bunyi kursi ditarik dan langkah kaki yang sedikit diseret menyusulku dari belakang.
Kami menaiki dua lantai terakhir melalui tangga beton yang dingin dan bergema. Napasku sedikit berat, tapi bukan karena tangga ini. Melainkan karena antisipasi akan apa yang ada di atas sana. Aku mendorong pintu besi berat berkarat dengan tulisan 'ROOFTOP ACCESS'.
Angin pagi Jakarta yang dingin dan belum tercemar polusi parah langsung menampar wajah kami.