INERSIA

cahyo laras
Chapter #33

Patah Hati Yang Terulang Kembali

Pagi itu, aku dan Via menyerahkan rekapitulasi laporan pajak lima tahun terakhir ke meja Pak Brata. Tugas mustahil itu selesai, dan roda raksasa bernama merger antara PT BEGO dan PT KERE terus berputar menggilas waktu.

Seminggu kemudian, Ballroom utama di lantai dasar gedung disulap menjadi panggung seremonial yang kelewat mewah. Walaupun secara hukum proses merger masih menunggu ketuk palu Kemenkumham, hari ini adalah perayaan penyatuan. Hari di mana sang Ultimate Beneficial Owner, pemilik sekaligus CEO sejati dari kedua perusahaan raksasa ini, akan menampakkan wajahnya ke publik untuk pertama kalinya.

Seluruh karyawan dari level direksi hingga staf palugada sepertiku berkumpul di ruangan megah berlapis karpet tebal merah marun ini. Aku memilih duduk menyendiri di meja bundar paling pojok, dekat dengan pintu dapur, ditemani segelas air mineral yang mengembun.

Prasmanan mewah berjejer hanya sepuluh meter dariku. Aroma pekat rendang daging, santan gurih, dan bawang goreng seolah menampar-nampar hidungku tanpa ampun. Sayangnya, ada kasta di ruangan ini. Karyawan kasta sudra sepertiku hanya boleh menyentuh sendok prasmanan setelah sang CEO selesai memberikan titahnya.

"Mas."

Aroma parfum lidah buaya yang familier menyela wangi makanan. Via menghampiriku. Gadis itu mengenakan blus peach yang sangat manis, rambutnya digerai rapi, wajahnya berseri-seri. Ia sebenarnya duduk di barisan tengah bersama sirkel divisi akunting lainnya.

"Theo ada di sini, Mas. Tadi malam dia nge-WA aku," bisik Via dengan mata berbinar penuh harap.

Theo.

Mendengar nama itu, mataku langsung turun menatap pantulan samar wajahku di genangan air mineral di atas meja. Ya... aku sudah tahu, seluruh logika dan analisaku sudah mengerucut pada satu kesimpulan. Theo bukanlah anomali biasa. Dia pasti akan muncul di panggung sana.

"Kenapa, Mas? Kok diam?" tegur Via, memiringkan kepalanya menatapku heran.

"Nggak, nggak apa-apa," jawabku datar. "Aku cuma lapar lihat rendang di prasmanan itu."

Via tertawa kecil, pukulan pelan mendarat di bahuku. "Sabar ih! Oke, aku balik ke depan ya, Mas."

Gadis itu berbalik dan berjalan riang kembali ke gerombolannya. Mataku terus memperhatikannya hingga ia duduk. Entah kenapa, hawa dingin dari mesin AC sentral mendadak terasa menusuk tengkukku. Firasatku berdenging tidak enak. Ada sesuatu yang sangat besar yang akan runtuh hari ini.

Acara pun dimulai. Dentuman bass dari sound system raksasa menggetarkan lantai saat MC membuka acara. Sambutan dari Ketua Serikat Pekerja, lalu Direktur Utama, dan beberapa manajer senior bergulir membosankan. Hingga akhirnya, lampu utama ballroom diredupkan. Musik fanfare yang megah mengalun. Waktunya sang CEO muncul.

Pintu kayu jati ganda di sisi kanan panggung terbuka lebar. Empat pria berbadan tegap berpakaian safari hitam melangkah keluar lebih dulu, mengamankan jalur.

Lalu, dari balik bayangan pintu, muncullah sosok itu.

Pria bertubuh tegap, berkulit putih bersih, dengan balutan setelan jas navy yang jahitannya meneriakkan kata 'kemewahan'. Sepatu kulit pantofelnya mengkilap memantulkan cahaya lampu sorot. Ia melangkah naik ke atas panggung dengan aura dominasi absolut yang membuat ratusan orang di ruangan ini menahan napas.

Theo.

Dari pojok ruangan, mataku langsung mencari sosok Via. Gadis itu berdiri mematung di kursinya. Mulutnya sedikit terbuka, tangannya menutupi bibir. Matanya membelalak tak percaya melihat pria yang ia cintai ternyata kini berdiri di puncak rantai makanan sebagai CEO dua perusahaan raksasa.

Cih. Adegan ini benar-benar terasa seperti klise Drama China murahan. Bedanya, di drama televisi, sang CEO menyembunyikan identitas murni karena ingin mencari cinta sejati. Di dunia nyata yang penuh konspirasi ini, sang CEO menyembunyikan identitasnya untuk menjadikan gadis lugu itu sebagai umpan hidup demi menjebak menteri-menteri korupnya.

Berbeda dengan Via yang syok, mataku menatap datar ke arah panggung. Kejanggalan masif yang selama ini mengganggu logikaku akhirnya terjawab. Walau harus kuakui, pangkat CEO sedikit meleset dari prediksiku. Aku mengira dia hanya Komisaris atau pemegang saham anonim.

Lihat selengkapnya