INERSIA

cahyo laras
Chapter #34

Rahasia Sang CEO

Semenjak hari itu, aku menjadi bayangan yang sesungguhnya. Aku lebih pendiam dari biasanya, menelan bulat-bulat suara ketikan keyboard sebagai pengganti suaraku.

Via saat ini tetap menjadi bagian dari divisi akunting, tapi orbitnya telah berubah. Perlakuan orang-orang terhadapnya berbalik seratus delapan puluh derajat. Karyawan divisi lain yang dulu sering membuang muka, kini berlomba-lomba menyapanya dengan senyum palsu termanis. Via jarang diberi kerjaan berat. Pak Brata, si botak penjilat itu, bahkan sering memuji-muji Via dengan hiperbolik dan menjijikkan hanya agar suaranya terdengar sampai ke telinga CEO.

Sekarang Theo berkantor di lantai 11, gedung ini. Kami tetap di lantai 6. Jika lantai 6 tempat kami adalah neraka operasional yang penuh debu dan keringat, lantai 10 adalah Olimpus para direktur, maka lantai 11 adalah singgasana sang Dewa Pencipta. Aku pernah melewati lantai itu untuk menuju rooftop, tapi aku sama sekali belum pernah masuk ke ruangannya. Tidak ada CCTV publik di sana. Dan saat ini, dengan adanya Theo, akses lift menuju lantai 11 dijaga oleh sekuriti khusus.

Via juga sudah tidak pernah lembur bersamaku. Setiap jam lima sore teng, ia sudah merapikan tasnya, tersenyum pamit, karena di lobi bawah, sang CEO telah menunggu untuk membawanya makan malam.

Aku? Aku tetap hancur.

Tembok denial-ku sudah rubuh, dan yang tersisa hanyalah puing-puing kesadaran yang menyakitkan. Via selalu bertanya padaku dengan wajah polosnya, "Mas, kok pucat?" atau "Mas Daffa kok diam aja akhir-akhir ini?"

Aku hanya menjawab bahwa aku kelelahan akibat rekapitulasi data. Aku berusaha keras membatasi interaksi, mengalihkan pandanganku setiap kali wangi lidah buaya  itu mendekat. Sudah kuputuskan. Aku tidak akan peduli lagi. Walaupun instingku yang tajam sebagai jongos ketik terus membunyikan alarm bahwa posisi Theo di pucuk sana tidak sepenuhnya aman, aku memilih untuk tuli. Theo sudah terang-terangan menunjukkan kekuatannya, seharusnya pria berjas mahal itu bisa melindungi Via jauh lebih baik daripada aku yang hanya berbekal flashdisk murahan.

Tiba-tiba, siang ini, Pak Brata berjalan ke kubikelku. Derap pantofelnya terdengar cepat.

"Daffa..." panggil Pak Brata dengan nada suara yang anehnya... pelan dan hormat. "Kamu dipanggil sama Pak Theo. Ke lantai 11. Sekarang."

Tanganku berhenti mengetik. Mataku menatap layar monitor.

Tumben botak ini tidak melempar map kerjaan, batinku. Namun sedetik kemudian...

"Tapi nanti kalau udah selesai ketemu Pak Theo, kerjaan Via kamu handle semua ya, biar dia bisa pulang cepat. Kasihan calon nyonya besar kecapekan," bisik Pak Brata sambil nyengir lebar.

Bangke. Si botak ini memang konsisten menyebalkan.

Aku menarik napas panjang. Aku sudah tahu hari ini akan tiba. Aku sadar, cepat atau lambat aku akan bertemu sang CEO empat mata. Metadata Excel yang sengaja kutinggalkan waktu itu adalah surat undanganku, dan sang raja akhirnya merespons.

Aku berdiri, merapikan kemeja kerjaku yang kusut, lalu berjalan menuju lift.

Sesampainya di lantai 11, hawa dingin AC langsung menusuk pori-poriku. Penjagaannya bukan main-main. Empat pria berbadan tegap berpakaian safari langsung mengadangku. Aku harus melewati Metal Detector Walk-Through seperti di bandara. Tubuhku digeledah secara fisik, memastikan aku tidak membawa alat perekam atau senjata tajam.

Setelah dinyatakan bersih, salah satu pengawal membukakan pintu kayu mahoni ganda yang sangat tebal.

Aku melangkah masuk. Ruangan ini tidak seperti kantor, melainkan penthouse triliuner. Lantainya dilapisi karpet tebal yang menelan suara langkah kaki. Di sudut kiri terdapat rak buku oak menjulang tinggi berisi literatur ekonomi, di sisi kanan ada mini golf, dan di balik dinding kaca terdapat mini gym pribadi. Udara di sini berbau seperti campuran kertas buku baru dan parfum woody yang maskulin.

Jauh di ujung ruangan, di balik meja kayu solid yang lebarnya menyamai tempat tidur, Theo sedang duduk. Melihatku masuk, ia menutup laptop tipisnya dan berdiri menyambutku dengan senyum ramah yang memuakkan.

"Daffa." Suara baritonnya menggema elegan.

Aku diam. Hanya menatapnya dengan wajah datarku yang paling keras.

Theo berjalan mendekat, memasukkan satu tangannya ke saku celana panjangnya. "Aku cukup terkejut. Sangat terkejut, malah. Tim forensik IT-ku nyaris gila mencari tahu siapa yang membobol Laporan Keuangan rahasia itu. Ternyata, kamu adalah orang di balik semua ini. Kamu bisa menghanguskan Richard, memiskinkan Helmi, dan terakhir... membuat Surya, CFO korup yang licin bagai belut itu ditarik paksa ke kantor polisi dengan tagihan pajak 22 Miliar."

Theo berhenti dua meter di depanku. "Kamu jenius, Daffa. Sangat hebat."

"Ada perlu apa kamu memanggilku?" potongku dingin. Pujiannya sama sekali tidak mengubah detak jantungku.

Theo tertawa kecil, tidak tersinggung oleh ketusku. "Hanya ingin mengobrol sesama arsitek. Santai saja. Kamu bisa main catur?"

"Sedikit," jawabku singkat.

Theo berjalan menuju area lounge tamu di tengah ruangan. Di atas meja kaca berangka baja, sudah tersedia papan catur kayu bermagnet yang terlihat sangat mahal. Theo duduk di sofa kulit Chesterfield yang empuk, menyilangkan kakinya dengan santai. Aku menarik kursi berlengan tegak di seberangnya dan duduk dengan punggung kaku.

"Sudah berapa lama kamu kerja di PT BEGO?" tanya Theo, jari-jarinya yang bersih dan terawat mulai menata bidak-bidak kayu mahagony berwarna putih.

"Lima tahun," jawabku. Tanganku bergerak menata pasukan hitamku. Bidak-bidak ini terasa dingin dan berat di ujung jariku.

Setelah semuanya tersusun rapi layaknya dua pasukan yang siap berdarah, Theo memulai pertandingan. Tangan kanannya maju, menggeser Pion di baris depan (e4). Pembukaan yang agresif.

"Daffa, apakah sejak awal kamu sudah mencurigaiku?" Theo bertanya sambil menarik tangannya. "Sejak pertemuan pertama kita di kafe waktu itu?"

Aku hanya diam sesaat. Ruangan besar ini mendadak terasa kedap udara. Hanya terdengar detak jarum jam dinding antik di sudut ruangan.

"Ya," jawabku pelan, tanganku bergerak menggeser Pion hitamku (e5), menyambut serangannya dari tengah. "Kamu adalah anomali yang sangat mencolok. Kamu mengaku baru saja di-PHK, tapi setelan kemejamu tidak ada kerutannya sama sekali. Sepatumu loafers berbahan suede mahal, parfummu terlalu mewah untuk ukuran orang yang baru kehilangan gaji bulanan. Terlebih, kamu memesan Caramel Macchiato di kafe mahal."

Lihat selengkapnya