Keesokan harinya setelah konfrontasi di lantai sebelas itu, permintaanku langsung dieksekusi tanpa basa-basi.
Pagi-pagi buta, sebelum mesin fotokopi sempat dipanaskan, dua orang OB bertubuh besar masuk ke divisi akunting. Tanpa banyak bicara, mereka membongkar partisi kubikel Via, menyusunnya ulang di sudut paling ujung ruangan dekat dengan pantri. Komputer spek dewa beserta monitor gandanya dipindah ke sana dengan suara decit roda troli yang mengiris telinga.
Pak Brata hanya berdiri di dekat pilar, mengawasi prosesi pemindahan itu dengan wajah pucat dan kebingungan. Si botak itu terlihat seperti orang yang ingin sekali marah karena tata ruangnya diacak-acak, tapi terlalu pengecut untuk bertanya karena ia tahu betul perintah ini turun dari langit lantai sebelas.
Via sendiri berdiri mematung di samping meja barunya. Ia memeluk tas selempangnya dengan ekspresi kebingungan yang kentara. Matanya yang bulat melirik ke arahku, mencari semacam validasi atau penjelasan.
Aku tidak memberikannya. Aku menatap lurus ke arah layar monitorku yang menampilkan deretan sel Excel kosong. Wajahku kubuat sedatar beton.
Jarak antara kubikelku dan tempat barunya sekarang adalah sekitar delapan meter, dipisahkan oleh lorong sempit dan dua belas kepala karyawan divisi lain. Cukup jauh untuk membuat aroma sampo lidah buayanya tak lagi bisa menembus radarku. Cukup jauh untuk memastikan aku tidak lagi mendengar rengekan polosnya setiap kali rumus VLOOKUP-nya error.
Dan yang paling penting... cukup jauh untuk memulai proses yang sudah seharusnya kulakukan sejak awal.
Melupakan.
"Mas Daffa," panggilnya dari kejauhan. Suaranya sedikit tertahan, menembus dengung AC ruangan. "Kenapa sih mejaku dipindah?"
Beberapa kepala karyawan di deretan tengah sontak menoleh ke arahku, antena gosip mereka mendadak berdiri.
"Gak tau," jawabku datar, sengaja menekan nada suaraku setenang mungkin tanpa mengangkat wajah dari layar. "Mungkin kamu butuh ruang lebih luas untuk bekerja. Meja di sana lebih besar."
Itu adalah kebohongan paling membosankan dan tidak kreatif yang pernah keluar dari mulutku. Tapi sialnya, itu berhasil. Via mengangguk pelan, meski gurat di dahinya menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya. Ia perlahan duduk di kursi barunya, tertelan oleh jarak.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam empat bulan terakhir, aku berhasil menyelesaikan seluruh tumpukan laporan neraca lajurku sebelum jam lima sore teng.
Ternyata, jarak delapan meter dan dinding dua belas kepala manusia adalah dosis obat yang cukup efektif untuk membunuh anomali ini.
Seminggu berlalu dengan ritme yang nyaris normal. Ritme seorang jongos ketik tanpa distraksi.
Ingat. Kutekankan kata 'Nyaris'.
Karena pada kenyataannya, walaupun aku secara fisik tak pernah lagi mengobrol dengannya, sudut mataku yang paling bandel ini mengkhianatiku. Secara periferal, aku selalu tahu di mana gadis itu berada. Aku tahu kapan ia tertawa kecil mendengar lelucon garing Desi. Aku tahu kapan ia mengernyitkan dahi menatap layarnya yang menyala terang. Aku bahkan tahu persis kapan ia menguap lebar-lebar di jam dua siang sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
Aku merutuki diriku sendiri. Tapi aku memaksakan diri untuk tidak peduli. Proses mendenial ini lambat, menyiksa, dan menyebalkan. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Demi kestabilan mentalku, aku harus menutup mata. Biarlah dia dan sang CEO itu hidup di istana mereka.