INERSIA

cahyo laras
Chapter #36

Haruskah Aku Menolongnya?

Hari demi hari berlalu dengan ritme yang memuakkan. Aku memang sudah tidak pernah berbicara sama sekali dengan Via. Secara teori, ini adalah kemenangan besar bagi hukum inersiaku. Semuanya kembali menenangkan; tidak ada lagi rentetan pertanyaan Excel yang bodoh, tidak ada distraksi.

Tapi setiap kali ekor mataku tanpa sengaja melirik ke arah kubikelnya di ujung ruangan, yang kutangkap hanyalah aura kelam yang menyedot habis oksigen di sekitarnya. Via tidak bekerja dengan maksimal. Tatapannya kosong ke arah monitor. Sesekali, rekan-rekan cewek (baca: tante-tante), menghampirinya, mengelus bahunya, atau memeluknya untuk sekadar menenangkan.

Suatu siang, saat jam makan siang, ruangan divisi cukup sepi. Via sudah ditarik pergi oleh rombongan tante-tante itu. Aku duduk sendirian, membuka tutup kotak bekal Tupperware-ku. Aroma nasi putih dingin dan telur dadar menguar pelan.

Tiba-tiba, tanpa suara langkah yang jelas, Desi sudah berdiri menyandar di partisiku.

"Daf..." panggilnya pelan.

"Hah?" Aku mendongak dengan kening berkerut. "Ga ikut makan siang bareng yang lain di bawah, Des?" tanyaku. Jujur, aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba membuang waktunya di kubikelku.

"Enggak. Aku lagi puasa sunnah," jawab Desi santai.

Aku melirik tajam ke arah tangan kanannya. "Puasa? Tadi aku lihat kamu nyedot boba Brown Sugar."

Desi melotot. "Berisik!!! Jangan bawel ih!"

Lalu, hening. Wajah menyebalkan khas Desi yang biasanya siap mengajak ribut, mendadak luntur menjadi raut wajah yang serius dan ramah. Hmm... instingku menyala. Biasanya kalau pasang muka begini dia mau ngutang duit atau mau melempar kerjaan. Aku sudah sangat hafal polanya.

"Hei, Daf... kamu ga kasihan sama Via?" tanya Desi tiba-tiba. Suaranya merendah.

Deg.

Kenapa dia bertanya seperti itu? Aku menghentikan tanganku yang baru mau menyuap nasi. Aku tak menjawabnya, pura-pura tuli, dan kembali melanjutkan suapanku dengan gerakan kaku.

"Sejak kekasihnya ditangkap Kejaksaan beberapa hari lalu, dia bener-bener depresi lho, Daf," lanjut Desi, bersikeras meruntuhkan kebisuanku. "Menurut press release di berita, Theo kena kasus proyek fiktif BUMN dan TPPU, tapi Theo melalui kuasa hukumnya tetap membantah keterlibatannya. Via... dia percaya 100 persen Theo tidak bersalah, tapi dia ga bisa ngapa-ngapain."

Aku mengunyah telur dadarku lambat-lambat. "Lalu apa hubungannya denganku?"

Desi tersenyum tipis. Senyum miring yang menyebalkan.

"Hei... aku ini cewek, Daf. Radarku kuat," Desi mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Aku tau kamu cemburu karena Via dan Theo menjadi sepasang kekasih di acara merger waktu itu. Kamu pasti sakit banget kan?"

Aku hanya diam. Rahangku mengeras.

"Gini lho, Daf," Desi menghela napas panjang. "Sejak hari di mana Pak Theo melamar Via secara terbuka itu, kamu sudah tidak pernah ngobrol lagi dengan Via. Kamu menjauh. Coba deh, sekali-kali kamu hibur dia. Mungkin kamu bisa bikin dia sedikit lebih tenang."

Aku masih diam. Kusuap lagi nasi dan telur dadarku, mencoba menikmati rasa hambar yang kini memenuhi rongga mulutku.

"Coba nanti sore sehabis kerja, kamu datang ke kosannya," tawar Desi, menepuk pinggiran mejaku pelan. "Mungkin kamu bisa sedikit tergerak. Andai kamu ga bisa jadi pasangannya, setidaknya kamu masih bisa jadi temen untuknya kan? Temen yang biasa nolongin dia. Aku, Dina, Nita, dan beberapa rekan cewek, udah tiga hari ini bergantian nginep di kosannya. Kami takut... kami takut Via melakukan hal-hal bodoh. Dia terlalu hancur, Daf."

Tanpa menunggu jawabanku, Desi berbalik dan berjalan meninggalkanku sendiri.

Via...

Sial. Sial. Sial! Aku melawan mati-matian sisi diriku yang lain yang memberontak ingin peduli. Tidak boleh. Aku harus kuat melawan rasa penasaran ini. Walaupun aku tahu persis Theo akan membusuk dipenjara karena berhadapan dengan monster korporat yang berbeda, itu bukan urusanku!

Ketika jam makan siang hampir habis, aku melihat Via kembali ke ruangan, masih dirangkul oleh rekan-rekan cewek yang lain. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya bengkak. Ketika ia berjalan perlahan melewati lorong, dalam sepersekian detik, Via menoleh.

Mata kami saling menatap satu sama lain.

Waktu di sekitarku seolah melambat. Hiruk-pikuk kantor menjadi senyap. Hanya terdengar detak jantungku yang memburu dan tarikan napasku sendiri. Di dalam matanya yang basah itu, aku melihat kekosongan yang menyiksa.

Apakah aku harus peduli?

Lalu, Via kembali menunduk dan berjalan gontai ke kubikelnya.

Belum sampai waktu sore, pertahananku mulai goyah. Via dipulangkan lebih awal ke kosannya ditemani seorang rekan cewek karena kondisinya terlihat sangat memburuk.

Saat bel jam pulang kerja akhirnya berbunyi, aku menyerah pada egoku sendiri. Aku mengambil inisiatif untuk berjalan kaki menuju kosannya di gang belakang kantor. Ingat, Daffa. Hanya datang, lihat kondisinya, lalu pulang. Aku hanya ingin membayar rasa penasaran saja. Setelah itu tinggalkan... ingat... tinggalkan.

Aku sampai di depan bangunan kos mewah bertembok hitam elegan itu. Aku melepas sepatuku di teras dan masuk ke dalam lorong pualamnya. Langkahku terhenti di depan kamar Via. Pintunya terbuka sedikit, menyisakan celah sejengkal.

Lihat selengkapnya