INERSIA

cahyo laras
Chapter #37

Pembedahan Rencana Busuk Sang Komisaris

Keesokan harinya, Aku duduk di kursiku. Wajahku menghadap monitor, tapi mataku tidak membaca satu pun angka di sana. Tanganku meraih earphone murahan dari dalam laci, memasangnya ke telinga tanpa menyalakan musik apa pun. Aku hanya butuh meredam suara bising dunia luar agar otakku bisa bekerja.

Aku membuka sebuah dokumen Excel baru yang kosong bersih. Bukan untuk merekap pajak, melainkan untuk membedah sebuah anatomi pembunuhan karakter.

Jari-jariku mulai mengetik di sel A1.

KOLOM A: ANOMALI HUKUM (SANG JAKSA) Kuketik rentetan fakta yang baru saja kusaksikan. Theo diseret keluar mengenakan rompi pink Kejaksaan dan diborgol.

Otak rasionalku langsung membunyikan alarm keras. Tunggu dulu. Ini kasus korupsi korporat (White-collar crime), bukan maling ayam. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan SOP standar Kejaksaan, seseorang tidak tiba-tiba dijemput paksa dan dipakaikan rompi tahanan di hari pertama penyidikan, kecuali ia tertangkap basah dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) menerima uang tunai.

Tapi Theo tidak terkena OTT. Dia ditangkap di ruang kerjanya atas tuduhan kejahatan sistemik bertahun-tahun lalu. Secara hukum yang logis, Kejaksaan harusnya mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP), memanggil Theo sebagai saksi minimal dua kali, melakukan gelar perkara, baru menaikkan statusnya menjadi Tersangka. Proses itu memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Tapi ini? Instan. Agresif. Teatrikal.

Kesimpulanku hanya satu: Penangkapan ini adalah sebuah teater pesanan. Sebuah operasi kilat untuk menghancurkan harga saham dan membunuh reputasi Theo sebelum ia sempat melawan. Sang Jaksa Utama yang memimpin operasi ini pasti sudah dikondisikan. Dia kotor.

Aku menggeser kursor ke sel B1.

KOLOM B: ANOMALI SISTEM (SANG PION) Bagaimana Jaksa bisa punya bukti kuat untuk menetapkan Theo sebagai tersangka dalam hitungan jam? Jawabannya pasti manipulasi forensik. Seseorang memalsukan Tanda Tangan Elektronik Theo seolah ia yang menyetujui pencairan dana BUMN itu.

Masalahnya, sistem otorisasi keuangan PT BEGO (seperti SAP atau Oracle) menggunakan Multi-Factor Authentication (MFA). Ada password dan ada token OTP di ponsel. Theo adalah orang yang kelewat perfeksionis dan paranoid, mustahil dia meminjamkan laptop atau ponselnya pada orang lain.

Satu-satunya cara membajak akun Theo tanpa memicu alarm intrusi dari sistem keamanan adalah melalui Backdoor atau akses Root Server tingkat dewa. Dan di gedung berlantai dua belas ini, hanya ada satu orang yang memegang kunci mahkota itu.

Pak Yono. Kepala Divisi IT di lantai 8.

Lihat selengkapnya