Pukul 13.45 WIB.
Aku berdiri di dalam lift yang melesat naik menuju lantai 8. Melalui pantulan dinding lift yang mengkilap, aku menatap diriku sendiri.
Ini adalah momen transisi. Aku menggulung lengan kemeja hingga ke siku, melonggarkan kancing kerah teratasku, dan yang paling penting: aku meluruskan postur tubuhku. Tulang punggung kutarik tegak. Rahangku mengeras, dan tatapan mataku yang biasanya sayu kubuat menjadi sedingin baja.
Hanya dengan mengubah postur dan sorot mata, siluet di cermin itu tidak lagi terlihat seperti karyawan UMR yang kelelahan. Siluet itu kini terlihat seperti seorang eksekutor lapangan.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai 8. Teritorial Divisi IT. Udara di lorong ini langsung terasa berbeda, suhu AC-nya di-set pada 17 derajat Celsius untuk menjaga kestabilan server. Suara dengungan kipas pendingin raksasa dari ruang Data Center terdengar konstan, menyerupai dengung ribuan lebah mekanik.
Aku melangkah pasti menyusuri lorong sepi itu, langsung menuju ruangan di sudut paling ujung. Ruang Kepala Divisi IT.
Tanpa repot-repot mengetuk, aku menekan handle pintu dan mendorongnya masuk.
Di dalam ruangan yang berantakan oleh juntaian kabel LAN dan motherboard bekas itu, Pak Yono sedang duduk bersandar di kursi gaming-nya. Pria buncit berkacamata tebal itu sedang asyik menonton ulasan velg mobil di YouTube sambil mengunyah gorengan.
Mendengar pintu terbuka kasar, ia terlonjak kaget. Kacamata tebalnya sedikit melorot. Ia memicingkan mata ke arahku.
"Lho... kamu?" Pak Yono mengernyitkan dahi, mencoba mengingat wajahku dari memorinya yang pas-pasan. "Kamu yang dari lantai bawah itu kan? Yang sering bolak-balik ke sini minta tolong benerin jaringan printer sharing kalau lagi error? Siapa namamu... Dito? Daf... Daffa?"
Aku menutup pintu di belakangku. Klik. Sengaja kutekan tombol kuncinya.
Mendengar bunyi kunci itu, raut wajah Pak Yono berubah tidak nyaman. "Heh! Ngapain dikunci? Kalau mau minta benerin printer, jangan langsung nyelonong ke ruangan saya! Bikin tiket IT Support di sistem sana, biar anak buah saya yang turun!" omelnya dengan nada arogan.
Aku tidak menjawab. Langkah sepatuku berketuk pelan namun ritmis di lantai vinyl, mengikis jarak di antara kami. Aku berhenti tepat di depan mejanya, meletakkan kedua tanganku di atas meja kerjanya, dan mencondongkan tubuhku ke depan, menatap lurus menembus lensa kacamatanya.
"Pak Dewa minta Audit Trail Log otorisasi pencairan BUMN lima tahun lalu. Serta log traffic backdoor yang Bapak buka untuk memalsukan IP Address Theo pagi saat penangkapannya," suaraku keluar dengan volume yang sangat rendah, berat, dan tenang. Sama sekali tidak ada nada "karyawan minta tolong" di sana.