INERSIA

cahyo laras
Chapter #39

Mengintip Buku Kas Hitam Sang Komisaris

Keesokan harinya Pukul 11.30 WIB. Tiga puluh menit sebelum jam makan siang.

Aku berdiri di toilet basement, menatap pantulan diriku di cermin. Kemeja kerjaku sudah kuganti dengan seragam wearpack biru dongker lusuh bertuliskan "Building Management" yang 'kupinjam' dari ruang loker teknisi. Kutambahkan topi proyek, masker medis, dan kacamata safety bening.

Di sabuk perkakasku, terselip sebuah obeng, tang, dan sebuah Stud Finder, alat pendeteksi kabel seharga seratus ribuan yang lampu LED merahnya bisa berkedip heboh jika dinyalakan.

Targetku: Sarang Naga di lantai 10. Ruang kerja Pak Dewa. Misi pertamaku adalah mencari tahu di mana tua bangka itu menyembunyikan Buku Kas Hitam. Ruangannya terlalu luas untuk digeledah manual. Aku butuh insting kepanikannya untuk menunjukkan jalannya.

Sepuluh menit sebelumnya, menggunakan akses server, aku sudah meretas sistem Smart Office di lantai 10 dan menutup katup freon AC di ruangan Pak Dewa. Aku punya akses karena teknisi gedung ini pernah memberiku akses agar aku bisa mengatur suhu diruangan si botak brata tanpa harus nelepon ruang teknisi.

Jam segini, ruang teknisi gedung sedang kosong, tak ada yang standby.

Sesuai dugaanku, saat aku tiba di depan ruangannya, sekretarisnya sedang panik menelepon teknisi gedung karena AC bosnya berdengung ribut dan meneteskan air.

"Saya teknisinya, Mbak. Tadi di-HT suruh langsung naik," ujarku dengan suara sengau, menunduk merendahkan postur.

Mbak Sekretaris itu langsung menghela napas lega. "Bagus! Cepat masuk, Pak Dewa udah ngamuk dari tadi!"

Aku mendorong pintu mahoni itu. Aroma cerutu mahal dan air purifier berbau pinus langsung menyergap. Ruangan ini sangat dingin, tapi Pak Dewa yang duduk di meja kebesarannya tampak berkeringat karena marah.

"Lama sekali! Cepat perbaiki itu, airnya nyaris kena karpet Persia saya!" bentaknya tanpa repot-repot menatap wajahku. Bagi pria arogan ini, aku hanyalah properti gedung. Sempurna.

"B-baik, Pak," kataku gemetar. Aku meletakkan tangga lipat aluminium, memanjatnya, dan mulai berpura-pura mengotak-atik panel AC di plafon.

Kini, waktunya melempar bom psikologis.

Aku mengeluarkan Stud Finder dari sabukku. Ku-nyalakan alat itu hingga mengeluarkan bunyi bip-bip-bip nyaring dan lampu merahnya berkedip menyilaukan. Aku turun dari tangga, mengarahkan alat itu ke dinding dengan wajah tegang.

"Alat apa itu?! Berisik sekali!" Pak Dewa mendongak kesal.

Aku mematikan alat itu sejenak, menunduk dalam-dalam, mengambil napas, dan merendahkan suaraku menjadi bisikan yang panik.

"Ma... maaf, Pak Dewa. Ini scanner termal, Pak. Saya disuruh Komandan Sekuriti untuk sweeping jalur AC di ruangan Bapak sekarang juga."

"Sweeping? Untuk apa?!" Alis tebalnya menukik tajam.

"Bapak belum dikabari ajudan? Di lobi bawah sekarang lagi ada tim dari Satgas Tipikor Kejaksaan, Pak. Mereka bawa alat pelacak dinding termal untuk mencari ruang rahasia atau brankas tersembunyi. Katanya... mereka mau naik ke lantai 10 ini lima menit lagi, Pak. Jadi saya disuruh ngecek dinding Bapak supaya alat mereka nggak bentrok sama korsleting AC."

Deg.

Kata kunci telah terucap. Kejaksaan. Pelacak Termal. Brankas. Lima Menit.

Mataku mengunci wajah Pak Dewa dari balik kacamata safety. Waktu seolah melambat. Wajah arogan pria tua itu seketika pias. Keringat dingin langsung mengkilap di pelipisnya. Jakunnya naik turun menelan ludah dengan susah payah.

Dalam otak liciknya, sebuah ancaman scanner termal berarti tempat persembunyian rahasia di balik dinding atau lantai akan langsung ketahuan! Kepanikan absolut mengambil alih instingnya.

Selama satu setengah detik, bola mata Pak Dewa melesat panik. Ia tidak melihat ke arah brankas baja di belakang kursinya (itu pasti hanya pengecoh). Matanya melirik tajam ke arah sudut ruangan sebelah kiri, tepat ke sebuah Lemari Cerutu Kayu Jati Antik (Standing Humidor).

Setelah memastikan lemari itu masih berdiri di tempatnya, Pak Dewa buru-buru menguasai diri.

"S-siapa yang suruh mereka naik?! Tidak ada yang boleh masuk tanpa surat izin!" bentak Pak Dewa dengan suara bergetar, berdiri dari kursinya. "Keluar kamu! Saya mau telepon pengacara saya!"

"B-baik, Pak!"

Aku buru-buru membereskan tangga, lalu setengah berlari keluar. Begitu pintu tertutup di belakangku, aku tersenyum puas di balik masker medis.

The Panic Glance sukses. Buku Kas Hitam miliaran rupiah itu disembunyikan di dalam lemari cerutu! Lemari kayu tidak akan memicu metal detector, dan humidifier di dalamnya akan mengacaukan pelacak termal sungguhan. Sangat cerdas, Pak Dewa.

Langkah pertama selesai. Aku sudah tahu di mana lokasinya.

Sekarang, langkah kedua: Eksekusi. Aku harus mengusir Pak Dewa keluar dari ruangan itu untuk bisa membongkar lemarinya.

Lihat selengkapnya