****
Di lantai lima gedung Kejaksaan, udara terasa beku. Ruang kerja Jaksa Utama, Bapak Arya, berlapis panel kayu jati dengan rak-rak buku hukum tebal yang menjulang.
Arya sedang duduk bersandar di kursi kulitnya, menghisap sebatang cerutu tipis. Wajahnya berseri-seri. Ia menatap ke arah layar TV di sudut ruangan yang sedang menyiarkan berita penangkapan CEO PT BEGO. Operasi berjalan sempurna. Pak Dewa menjanjikan sepuluh miliar rupiah untuk penangkapan instan ini, dan uang itu akan cukup untuk menyenangkan istri mudanya.
Tok. Tok. Tok.
Seorang ajudan berseragam rapi masuk membawa sebuah nampan berisi berkas dan satu amplop cokelat.
"Izin, Bapak. Ada paket dokumen masuk via ojek online. Labelnya Sangat Rahasia, dari Klien Sudirman."
Arya mengerutkan kening. Mengeluarkan sebatang cerutu dari mulutnya. "Klien Sudirman? Dewa rupanya. Pasti dia ngirim hardcopy sisa komitmen kita. Sini, berikan padaku. Kamu boleh keluar."
Ajudan itu meletakkan amplop cokelat tersebut di atas meja, membungkuk hormat, lalu keluar meninggalkan Arya sendirian.
Arya tersenyum puas. Ia mengambil pisau pembuka surat berbahan kuningan, membelah bagian atas amplop itu, dan menarik isinya.
Kertas pertama yang ia lihat bukanlah bilyet giro atau dokumen hukum. Itu adalah selembar kertas HVS berisi foto sebuah buku agenda hitam.
Senyum Arya mulai memudar. Ia menajamkan matanya, membaca tulisan tangan di foto tersebut. "IPL Apartemen Senopati Unit 18B - A/N PT Cangkang Mas - (Sesuai Pesanan J.A)"
Napas Arya mendadak terhenti di tenggorokan. Cerutu di jarinya nyaris terjatuh. Matanya membelalak tak percaya. J.A. Jaksa Arya. Itu adalah inisialnya! Dan Apartemen Senopati 18B... itu adalah unit rahasia tempat ia menyembunyikan Viona, simpanannya!
Dengan tangan mulai gemetar, Arya menarik kertas kedua.
Jantungnya seakan ditinju oleh petinju kelas berat. Foto istri sahnya dan ketiga anaknya yang sedang tersenyum merayakan ulang tahun pernikahan, dicetak berdampingan dengan foto denah Apartemen Senopati. Sebuah pesan tanpa suara yang sangat mengerikan.
Keringat dingin seketika membanjiri pelipis dan leher Arya. Ia menarik kertas ketiga. Lembar Ultimatum.