Pukul 19.00 WIB.
Ruangan divisi akunting sudah kosong melompong. Aku mematikan PC, meregangkan punggungku hingga terdengar bunyi 'krek', lalu meraih tas ranselku.
Aku turun ke basement untuk mengambil motorku. Tapi langkahku terhenti saat mencium udara pengap ruang bawah tanah ini. Tunggu dulu. Tubuhku rasanya lelah sekali, tapi mentalku butuh pendinginan. Cafe terlalu mahal. Aku hanya butuh kafein cair. Minimarket sepertinya pilihan yang pas.
Aku berjalan kaki menyusuri trotoar menuju minimarket 24 jam di dekat gedung kantor. Cahaya lampu neon putih dari minimarket itu menyilaukan mata saat pintu kaca otomatisnya terbuka dengan bunyi 'tiit-tuut'. Udara dingin bercampur aroma roti murah dan air purifier menyambutku.
Aku baru saja akan melangkah ke lorong belakang, saat mataku menangkap sebuah keributan kecil di meja kasir.
Seorang perempuan sedang membongkar isi tas tangannya dengan panik. Barang-barang belanjaan, mulai dari snack, skincare, beras, minyak goreng, gula, kopi, menumpuk di meja kasir.
Olla.
Layar mesin EDC (mesin gesek kartu) di meja kasir menampilkan tulisan 'No Signal / Connection Error'. Barcode QRIS di akrilik meja tampak tak berguna. Dan Olla, dengan raut wajah kebingungan, sedang mengeluarkan berbagai macam lipstik dan powerbank dari tasnya, mencoba mencari sisa lembaran uang tunai yang rupanya tidak ada.
Kesimpulan: Sistem cashless sedang down, Olla tidak bawa cash.
"Masnya dulu aja, boleh?" kata mbak kasir dengan nada lelah, menatapku yang baru datang.
Aku melirik Olla sekilas. Gadis yang dulu membuatku tak bisa tidur berhari-hari itu kini tampak sangat kecil dan panik. Aku menghembuskan napas malas. Demi Tuhan, aku hanya ingin minum kopi dan pulang. Melihat drama di kasir ini hanya akan menunda waktu istirahatku. Ya sudahlah, selesaikan saja.
Aku berjalan menuju lemari pendingin di barisan belakang. Mengambil satu kaleng kopi hitam dingin favoritku. Mataku melirik deretan minuman di sebelahnya. Kuambil sebotol teh hijau dingin, lalu berjalan kembali ke kasir.
"Mbak," kataku datar, memotong kepanikan Olla. "Saya yang bayarin belanjaan Mbak ini. Saya bawa cash. Sekalian jadikan satu pakai kantong kertas ya."
Olla terkesiap. Ia menoleh patah-patah. Mata bulatnya menatapku dengan syok. "Daffa? Beneran?!"
"Sudahlah. Nggak enak lama-lama di kasir," jawabku tanpa memandangnya, meletakkan kopi kaleng dan teh hijauku ke tumpukan belanjanya.
"Totalnya dua ratus lima puluh ribu, Mas," kata kasir dengan sigap, lega karena masalahnya selesai.
Aku mengeluarkan 5 lembar uang limapuluh ribuan dari dompetku. Kasir dengan cepat memasukkan semua belanjaan Olla, ditambah kopi dan teh hijauku, ke dalam sebuah kantong kertas tebal cokelat.
Begitu selesai, aku langsung menyambar pegangan kantong kertas itu. Lumayan berat juga.
"Yuk, udah selesai. Mau nunggu di mana?" tanyaku santai, melangkah menuju pintu keluar.
"Eh?! Kamu bawain belanjaanku juga?" Olla mengekor di belakangku dengan langkah terburu-buru.
"Ini berat, dan kamu udah bawa tas tangan. Kamu mau hubungi supirmu kan? Sekalian jalan ke luar, sekalian di-WA aja suruh datang," instruksiku pragmatis.
Olla hanya mengangguk patuh, tangannya sibuk mengetik di layar ponselnya.
Kami berjalan keluar dari minimarket. Hawa panas dan lembap khas malam Jakarta, bercampur bau asap knalpot, langsung menggantikan sejuknya AC.
"Mau nunggu di mana?" tanyaku lagi.
"Di sana aja... di emperan gedung itu, supaya nanti supirku nggak kesulitan nyarinya," tunjuk Olla ke arah undakan beton di depan kompleks perkantoran.