INERSIA

cahyo laras
Chapter #44

Rasa Sakit Yang Jauh Lebih Sakit Dari Perkiraan

****

Pukul 10.00 WIB.

Di Gedung Kejaksaan, udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Jaksa Utama Arya duduk di ruangannya, mengusap wajahnya yang kuyu. Semalaman ia tak bisa tidur. Keputusannya menerbitkan SP3 dan membebaskan Theo kemarin sore memang menghancurkan kesepakatannya dengan Dewa, tapi setidaknya, karir dan rumah tangganya aman dari ancaman si pengirim anonim.

Atau, setidaknya begitulah yang ia pikirkan.

Suara langkah sepatu bot yang menderap cepat memecah keheningan lorong eksekutif. Sebelum Arya sempat memanggil ajudannya, pintu ganda ruang kerjanya didobrak terbuka.

Bukan atasannya yang datang, melainkan enam orang penyidik berseragam kemeja putih dan rompi krem bertuliskan KPK.

"Jaksa Arya?" panggil penyidik terdepan dengan suara bariton yang tak menerima penolakan. "Anda ditahan atas dugaan penerimaan gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang terkait kasus PT BEGO."

Wajah Arya seketika berubah sewarna abu rokok. "T-tunggu! Kasus itu sudah saya hentikan! Kalian tidak punya bukti..."

Penyidik itu tidak menjawab, melainkan melempar sebuah map plastik ke atas meja kerja Arya. Di baliknya, terlihat jelas foto tagihan Iuran Pemeliharaan Lingkungan Apartemen Senopati Unit 18B atas nama perusahaan cangkang, lengkap dengan stempel verifikasi dari pelapor whistleblower.

Melihat alamat apartemen simpanannya terpampang di sana, lutut Arya kehilangan tulang. Ia ambruk di kursinya. Tangan gemetarnya diborgol tanpa perlawanan. Sang Jaksa Utama telah tumbang.


Satu jam kemudian, pukul 11.00 WIB.

Efek domino itu menghantam lantai sepuluh Gedung PT BEGO.

Komisaris Utama, Bapak Dewa, sedang berdiri menatap jalanan Sudirman dari balik jendela kaca ruangannya. Ia sedang memikirkan cara untuk menyingkirkan Jaksa Arya yang dianggapnya berkhianat. Namun, ketenangannya hancur saat pintu kayu mahoninya terbuka kasar.

Empat penyidik KPK melangkah masuk.

"Bapak Dewa? Kami membawa surat perintah penangkapan atas dugaan tindak pidana korupsi dana BUMN."

"Apa maksudnya ini?!" bentak Dewa, berusaha mempertahankan sisa arogansinya. "Surat izin geledah dari mana?! Saya akan hubungi pengacara—"

Penyidik itu maju satu langkah, menyerahkan selembar foto close-up beresolusi tinggi. Foto dari halaman Buku Kas Hitam miliknya. Bukti yang selalu ia yakini aman tertidur di dasar ganda lemari cerutu antiknya.

Mata tua Dewa membelalak. Mulutnya terbuka tapi udara seolah menolak masuk ke paru-parunya. Ia menoleh perlahan ke arah lemari cerutu di sudut ruangan, lalu kembali menatap para penyidik dengan tatapan kosong. Kerajaannya telah runtuh seketika.

Di saat yang sama, pemandangan jauh lebih menyedihkan terjadi di lantai delapan.

Lihat selengkapnya