INERSIA

cahyo laras
Chapter #45

Olla, Ngapain Kamu Kesini?

[DAFFA]


Pukul 17.00 WIB.

Sore ini terasa ganjil. Tidak ada tumpukan map rekonsiliasi yang menunggu untuk disortir, tidak ada teriakan Pak Brata yang menagih revisi. Mejaku bersih bahkan sebelum jam pulang kerja berbunyi.

Aku menatap kosong ke arah kubikel seberang. Kosong. Aku sudah tidak melihat Via sejak insiden pelukan haru siang tadi. Dia pergi bersama Theo, entah ke mana. Mungkin ke lantai sebelas, ke singgasana sang CEO, merayakan kemenangan mereka. Entahlah. Aku mensugesti otakku untuk tidak peduli, tapi ada nyeri tumpul yang konstan berdenyut di balik tulang rusukku setiap kali udara masuk ke paru-paru.

Memprediksi rasa sakit ternyata adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan. Kalkulasi logis tidak pernah bisa mengukur kedalaman luka emosional.

Aku memasukkan botol minum ke dalam ransel lusuhku, menyampirkannya ke sebelah bahu, lalu berjalan gontai menuju lift.

Pintu lift terbuka di lantai dasar. Aku melangkah keluar, menyusuri lobi gedung perkantoran yang mulai dipenuhi karyawan berseragam rapi yang bergegas pulang.

Di tengah lautan lanyard ID Card itu, mataku menangkap sebuah anomali. Seorang perempuan dengan blouse rajut pastel dan riasan wajah flawless khas kamera sedang berdiri di dekat pintu kaca putar. Begitu melihatku, wajahnya langsung sumringah. Ia berlari kecil menghampiriku, sepatu berbunyi tiktaktiktak beradu dengan marmer lobi.

Olla.

Alisku refleks bertaut. Sedang apa dia di sini? Tunggu, dari mana dia tahu aku ada di gedung ini?

"Daaffaaa...! Lama banget sih? Padahal jam pulang kerjamu kan jam setengah lima, lho!" Olla merengek tepat di depanku, aroma parfum floral yang manis langsung mengusir bau khas pendingin ruangan lobi.

"Hah?" Aku menatapnya datar. "Nggak ada yang nyuruh kamu nungguin aku."

Olla cemberut, memajukan bibir bawahnya yang dipoles lip tint merah merona. "Iih... harusnya kamu bilang, 'Maaf ya aku udah bikin kamu nunggu'. Kayak cowok-cowok normal pada umumnya dong!"

"Tunggu dulu," potongku, mengabaikan protes romantisnya. "Kamu nungguin aku? Ngapain, La?"

Alih-alih menjawab, Olla menyodorkan layar ponselnya tepat ke depan hidungku. Layar itu menampilkan ruang obrolan WhatsApp dengan namaku di atasnya, tapi foto profilku hanyalah siluet abu-abu kosong.

"Kamu belum buka blokiran nomorku," tuduh Olla dengan mata disipitkan.

"Hah? Memangnya harus ya?" keluhku jujur. Benar-benar makhluk yang merepotkan.

"Ya iyalah! Aku WA kamu dari tadi malam, tapi masih centang satu! Buka blokirnya sekarang!" titah Olla tak mau kalah.

Huuff... Aku menghembuskan napas panjang. Berdebat dengan perempuan keras kepala di tengah lobi kantor hanya akan membuang kalori. Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan ponselku, membuka menu Settings, dan menghapus namanya dari daftar hitam.

"Sudah," jawabku sambil memasukkan ponselku kembali.

"Minta maaf dulu! Kamu udah bikin aku nunggu lama. Kalau nggak, aku pulang nih," ancamnya manja.

"Baguslah," sahutku cepat. Aku memang sedang ingin cepat-cepat kembali ke kos, merebahkan punggungku ke kasur. "Pulanglah. Aku juga mau pulang."

Aku memutar tumitku, bersiap melangkah menuju akses lift basement parkiran.

Lihat selengkapnya